MULUTMU adalah harimaumu, begitulah pepatah bijak sebagai nasihat kepada setiap orang. Oleh karena itu semua insan diharapkan menjaga lisan agar tidak merugikan orang lain dan diri sendiri.
Menjaga lisan mejadi suatu keharusan bagi umat Muslim. Imam al-Muhâsibi dalam kitabnya Risâlah al-Mustarsyidîn menjelaskan tentang apa yang wajib lisan jalankan:
وَفَرْضُ اللِّسَانِ الصِّدْقُ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ وَكَفِّ الْأَذَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ وَتَرْكُ التَّزَيُّدِ بِالْخَيْرِ وَالشَّرِّ .
“Dan kewajiban lisan yaitu jujur dalam keadaan senang maupun marah, menahan dari menyakiti dalam keadaan sendirian maupun ramai, dan meninggalkan berlebihan dalam perkataan baik maupun buruk.” (al-Hârits al-Muhasiby, Risâlah al-Mustarsyidîn, Dar el-Salam, halaman 116)

Ilustrasi. Foto: Shutterstock
Berdasarkan penjelasan Imam al-Muhasibi di atas, maka sebaiknya setiap Muslim selalu berikhtiar menjaga lisan dengan cara berlatih tidak mengucapkan hal-hal yang tidak diperlukan.
Selain itu agr lisa tetap terjaga,, jangan lupa untuk meminta kepada Sang Khaliq agar diberikan hidayah dan kekuatan untuk menjaga lisan. Doanya sebagaimana disebutkan oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam kitab Risâlah al-Mustarsyidîn:
.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صَمْتِي فِكْراً وَنُطْقِي ذِكْراً
Allâhumma-j‘al shamtî fikran wa nuthqî dzikran. Artinya. “Wahai Allah, jadikanlah diamku berpikir, dan bicaraku berdzikir”. Demikian dikutip dari instagram Nahdatul Ulama, @Nu_id pada Senin (9/12/2019).
(Abu Sahma Pane)