Ini 2 Alasan Kenapa Standarisasi Dai Diterapkan

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Selasa 17 Desember 2019 10:01 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 17 614 2142809 ini-2-alasan-kenapa-standarisasi-dai-diterapkan-F7YRX29jOY.jpg Salah satu kegiatan standardisasi dai di Kantor MUI Pusat. Foto: MUI

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) akhir-akhir ini gencar menggelar standardisasi dai. Para pendakwah diundang untuk kemudian diberikan pembekalan agar dakwah mereka semakin berkualitas.

Menyikapi hal ini, Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang juga ulama Nahdatul Ulama, mengatakan ada dua hal mengapa standardisasi dai diperlukan atau diterapkan. Pertama, standardisasi perlu untuk menjamin kompetensi para dai.

Para dai yang sudah dikenal di masyarakat secara umum memiliki kapabilitas keilmuan keislaman yang mumpuni. Namun, beberapa ada yang masih memiliki cela seperti salah membaca ayat Al-Quran atau hadist sehingga maknanya berubah total. Padahal, posisi dai sangat penting di tengah masyarakat utamanya sebagai panutan dan rujukan.

“Kompetensi ini penting jangan sampai dai tidak menguasai yang didakwahkan, apalagi salah. Dai adalah panutan bagi masyarakat,” ujar Ma’ruf Amin sebagaimana dikutip dari laman resmi MUI pada Selasa (17/12/2019).

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Ia mencontohkan, pernah ada suatu khatib yang membaca khotbah seharusnya mengucapkan “al-yauma akmaltu lakum diinukum” menjadi “al-yauma akmaltu lakum dainukum”. Makna yang seharusnya aku sempurnakan agamamu berubah menjadi hutang-hutangmu.

Pada contoh yang lain, Ma’ruf menceritakan bahwa ada pula dai yang menyatakan “waquulu qaulan sadiida” dikatakan “waquulu qaulan syadiida”. Perbedaan satu huruf saja mengubah makna yang saling berjauhan. Makna berkatalah dengan perkataan yang lembut menjadi perkataan yang keras.

“Karena itu dai harus memiliki kompetensi, menguasai ilmu agama yang cukup. Memang ada ungkapan dari Nabi ballighu ‘anni walau aayah, sampaikan dariku walau satu ayat, tapi harus paham ayat itu, jangan sampai tidak paham,” katanya.

“Oleh karena itu menjadi dai itu benar-benar harus bisa dititipkan, distandardisasi, minimal menjadi dai itu seperti apa. Maksudnya mengajak orang, jangan justru menimbulkan salah, membuat orang menjadi ingkar karena dia tidak menguasai dan memiliki kompetensi,” imbuhnya.

Kedua, kata Kiai Ma’ruf, standardisasi dai menjadi penting karena untuk menguji integritas seorang dai. Integritas yang dimaksud di sini salah satunya adalah integritas kebangsaan. Sehingga dakwah tidak boleh bertentangan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dakwah kita tidak boleh kemudian bertentangan dengan sesuatu yang sudah disepakati bersama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sesuatu yang sudah mujma’ alaih, kesepakatan bersama, NKRI dan Pancasila,” katanya.

Integritas yang lain adalah bagaimana para pendakwah tersebut menyikapi perbedaan (ikhtilaf) dengan sikap toleran. MUI mengusung konsep ini dengan sebutan “taswiyatul manhaj” atau penyamaan persepsi untuk merespon perbedaan yang ada.

“Kalau mukhtalaf harus ditoleransi, tidak boleh ada ego kelompok, itu tidak toleran, tidak boleh juga fanatik kelompok, akibatnya terjadilah antar umat Islam yang saling memaki, karena itu dalam suatu perbedaan harus ada tasamuh,” katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini