Tidak boleh bantu cari uang, sekolah nomor satu
Namun, pendidikan selalu menjadi nomor satu dalam keluarga Aula, walaupun almarhum ayah hanya menempuh pendidikan tingkat sekolah dasar di sekolah rakyat, dan ibu tidak pernah sekolah, bahkan tidak bisa membaca dan menulis.
“Saya masih ingat, ketika SD dulu, kakak-kakak pernah cerita, bahkan harus sekolah tanpa ada uang jajan. Bahkan kita sakit pun, sakit dalam kondisi sakit demam dan sebagainya itu nggak boleh libur. Tetap harus berangkat ke sekolah,” cerita pria kelahiran November 1993 ini.
Dengan keuntungan penghasilan sekitar sepuluh hingga dua puluh ribu per hari dari berdagang sayur, orang tua Aula tidak pernah memperbolehkan anak-anaknya membantu mencari uang.
“(Almarhum ayah) akan marah. Apalagi kita harus libur sekolah gitu. Jadi memang pendidikan tetap yang utama di keluarga kita,” kata Aula.
Tentu saja dalam bersekolah untuk meraih pendidikan harus dilalui dengan berbagai perjuangan. Itulah yang Aula rasakan di setiap jenjang sekolah.
“Bisa nggak sih sekolah?” Hal itu selalu menjadi pertanyaan setiap tahunnya. Aula beruntung orang tuanya, termasuk kakak-kakaknya selalu ikut membantu dan berjuang bersamanya.
“Ketika SMP, kakak harus jual apa gitu (perhiasan), supaya bisa saya masuk sekolah,” katanya.
Hal ini kembali terjadi ketika masuk ke jenjang SMA, kakak Aula juga menjual barang untuk membantu sang adik membayar uang sekolah.
Keterbatasan ekonomi di keluarga tidak pernah membuat Aula berkecil hati dan patah semangat. Alhasil, segudang prestasi di dunia akademik selalu diraihnya. Mulai dari juara pidato, cerdas cermat, olimpiade fisika dan matematika, public speaking, hingga MTQ (Majelis Tilawatil Qur’an).
Saat tamat SMA, Aula berhasil mendapat undangan untuk masuk ke perguruan tinggi negeri mana pun di Indonesia dari program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“Jadi itu ditujukan kepada 10 besar siswa-siswa berprestasi dari tiap sekolah untuk bisa masuk ke seluruh universitas negeri yang ada di Indonesia,” jelasnya.
“Saya bingung, karena ini sudah dapat undangan, terus nanti yang bayar uang sekolah siapa gitu ya? Akhirnya saya tidak terlalu antusias dengan undangan itu. Padahal itu sesuatu yang sangat priviledge dan sangat dinanti-nanti sebenarnya oleh setiap siswa gitu. Tapi saya nggak terima itu,” tambahnya.
Tidak hanya itu, menurut Aula, masa tersebut adalah salah satu masa yang “paling sedih.”
“Karena ada omongan kemarin bahwa, ‘lu jangan harap deh bisa masuk kuliah deh, Aula. Kalau lu nggak bisa sogok orang dan lu nggak punya orang dalam,’” kenangnya.
“Seakan-akan dia mau ngomong bahwa, ‘oh, anak miskin itu nggak bisa sekolah. Anak miskin itu nggak bisa kuliah,” katanya.
Semangat untuk meraih pendidikan berhasil mengalahkan kesedihannya. Aula lalu memutuskan untuk mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) biasa dan memilih universitas Syiah Kuala dengan jurusan pendidikan fisika, sesuai dengan keinginannya. Ia pun berhasil masuk.
“Di semester satu-lah baru dapat beasiswa Bidikmisi dan Alhamdulillah sampai dengan tamat dengan beasiswa dari Bidikmisi itu,” paparnya.
Ibunya ikut gembira mendengarnya, apalagi melalui beasiswa S1 tersebut, Aula bisa membantu keuangan keluarga.
“Walaupun memang tidak besar, tapi minimal ada-lah, kita kasih ke ibu untuk beli sayur, untuk makan sehari-hari,” ceritanya.