nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Musafir yang Hendak Salat Qasar Jadi Makmum Imam Muqim, Bagaimana Hukumnya?

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Selasa 31 Desember 2019 16:13 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 31 330 2147831 musafir-yang-hendak-salat-qasar-jadi-makmum-imam-muqim-bagaimana-hukumnya-ggiUR7cjkV.jpg Ilustrasi. Foto: Istimewa

ALLAH tidak mempersulit hambanya ketika hendak beribadah, buktiknya musafir boleh menyingkat rakaat salatnya dalam bentuk salat qasar.

Namun dalam pelaksanaannya tentu harus mengikuti aturan yang ada. Salah satu yang jadi pertanyaan bagi seorang musafir adalah hukum musafir yang hendak salat qasar mengikuti salat berjamaah yang diimamin oleh muqim, atau dengan kata lain musafir jadi makmum imam muqim.

Muqim dalam hal ini ialah salat berjamaah oleh Muslim setempat dan dipimpin oleh imam setempat pula. Kemudian salat tersebut diikuti oleh seorang musafir yang ketinggalan rakaat salat berjamaah. Dengan kondisi seperti ini, bolehkan musafir melaksanakan qasar dengan bergabung ke salat berjamaah tersebut?

Dikutip dari laman Muslim.or.id pada Selasa (31/12/2019), dalil-dalil permasalahan ini berdasarkan riwayat dari Musa bin Salamah, beliau menceritakan:

كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ. قَالَ: تِلْكَ سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dulu kami bersama Ibnu ‘Abbas di Makah. Aku katakan, “Jika kami salat bersama kalian (penduduk Makah), kami salat empat raka’at. Jika kami kembali ke rombongan kami, kami salat dua raka’at.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Itulah sunnahnya Abul Qasim (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad 3: 357) [1]

Demikian pula, diriwayatkan dari Musa bin Salamah, beliau berkata,

سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ: كَيْفَ أُصَلِّي إِذَا كُنْتُ بِمَكَّةَ، إِذَا لَمْ أُصَلِّ مَعَ الْإِمَامِ؟ فَقَالَ: رَكْعَتَيْنِ سُنَّةَ أَبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, bagaimana kalau aku salat ketika aku berada di Makah, jika aku tidak salat bersama imam (penduduk Makah)? Ibnu ‘Abbas berkata, “(salatlah) dua raka’at, itu adalah sunnah Abul Qasim (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim no. 688)

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, beliau berkata,

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، كَانَ إِذَا كَانَ بِمَكَّةَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ، إِلَّا أَنْ يَجْمَعَهُ إِمَامٌ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ، فَإِنْ جَمَعَهُ الْإِمَامُ يُصَلِّي بِصَلَاتِهِ

“Sesungguhnya Ibnu ‘Umar jika salat di kota Mekah, dia salat dua raka’at (maksudnya dengan diqasar). Kecuali jika dia salat jama’ah dengan imam setempat (penduduk Mekah), dia salat mengikuti salat mereka (yaitu empat raka’at). Jika dia salat berjama’ah bersama imam (muqim), maka dia salat mengikuti salat mereka (yaitu tidak diqasar).” (HR. Ibnu Khuzaimah 2: 74) [2]

Diriwayatkan dari Nafi’ beliau berkata,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُصَلِّي وَرَاءَ الْإِمَامِ بِمِنًى أَرْبَعًا فَإِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

“Sesungguhnya ‘Abdullah bin ‘Umar jika beliau salat di belakang imam ketika berada di Mina, dia salat empat raka’at. Akan tetapi, jika dia salat (wajib) sendiri, dia salat dua raka’at.” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ 1: 149) [3]

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa ketika seorang musafir salat berjamaah dan yang menjadi imam adalah penduduk setempat yang bukan musafir (alias imam muqim), maka dia tidak boleh meng-qasar salat. Hal ini adalah berdasarkan ijma’ para ulama, karena wajib mengikuti imam dan tidak boleh menyelisihi imam. Meskipun makmum (musafir) meyakini bahwa yang lebih afdhal adalah meng-qasar salat. Hal ini karena keutamaan salat berjamaah itu lebih ditekankan. Pendapat ini juga dikuatkan berdasarkan cakupan makna umum dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya.” (HR. Bukhari no. 689 dan Muslim no. 414)

Jika musafir tersebut terlambat dan imam sedang berada di raka’at ketiga?

Lalu, bagaimana jika musafir tersebut terlambat, dia masuk ketika imam sudah berada di raka’at ke tiga dari salat dzuhur, misalnya. Ketika imam salam, apakah makmum musafir tadi ikut salam (sehingga dia salat dua raka’at) atau bangkit lagi menyempurnakan salatnya menjadi empat raka’at?

Jawabannya, dia wajib menyempurnakan salatnya menjadi empat raka’at (tidak boleh diqasar). Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Laahiq bin Humaid, beliau berkata,

قُلْتُ لِابْنِ عُمَرَ: الْمُسَافِرُ يُدْرِكُ رَكْعَتَيْنِ مِنْ صَلَاةِ الْقَوْمِ، يَعْنِي الْمُقِيمِينَ، أَتُجْزِيهُ الرَّكْعَتَانِ أَوْ يُصَلِّي بِصَلَاتِهِمْ؟ قَالَ: فَضَحِكَ، وَقَالَ: يُصَلِّي بِصَلَاتِهِمْ

“Aku berkata kepada Ibnu ‘Umar, seorang musafir mendapati dua raka’at bersama salat penduduk setempat. Apakah dua raka’at itu sudah mencukupi (sehingga dia bisa ikut salam) atau apakah salat mengikuti salat mereka (yaitu disempurnakan tetap empat raka’at)? Ibnu ‘Umar pun tertawa dan berkata, “salat mengikuti salat mereka (yaitu bangkit lagi dan menyempurnakan tetap menjadi empat raka’at).” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra 3: 157) [4]

Berdasarkan hal ini, jika seorang musafir datang terlambat, namun dia masih mendapati satu raka’at bersama imam penduduk setempat (imam muqim), maka dia tidak boleh meng-qasar salatnya.

Jika musafir mendapati kurang dari satu raka’at bersama imam muqim?

Jika seorang musafir bermakmum di belakang imam muqim, namun mendapati salat jama’ah kurang dari satu raka’at, misalnya imam sudah tasyahhud akhir, apakah dia tetap harus menyempurnakan salat (empat raka’at) atau dia boleh meng-qasar salat?

Permasalahan ini pada dasarnya dibangun di atas khilaf kapankah seseorang itu dikatakan mendapati salat jama’ah bersama imam. Sebagian ulama yang berpendapat bahwa baru dinilai salat jama’ah jika mendapatkan (minimal) satu raka’at (penuh) bersama imam. Sebagai konsekuensinya, jika musafir mendapati salat jama’ah kurang dari satu raka’at seperti contoh kasus di atas, maka boleh bagi musafir tersebut untuk meng-qasar salatnya, karena dia dinilai telah terlewat dari salat jama’ah. Dia seperti orang yang salat sendirian. Inilah yang ditegaskan oleh Imam Ahmad, dan juga merupakan pendapat Imam Malik bahwa siapa saja (musafir) yang mendapati salat jama’ah bersama imam muqim kurang dari satu raka’at, maka dia boleh meng-qasar salat.

Sebagian ulama berpendapat bahwa sudah bisa dinilai salat jama’ah meskipun hanya mendapati tasyahhud akhir bersama imam. Sebagai konsekuensinya, jika musafir hanya mendapati tasyahhud akhir bersama imam muqim (misalnya), maka musafir tersebut tidak boleh meng-qasar salatnya. Hal ini karena dia dinilai telah mendapatkan salat jama’ah.

Dalam permasalahan ini, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, yaitu bahwa baru dinilai salat jama’ah jika minimal mendapatkan satu raka’at penuh bersama imam. Hal ini karena jika hanya mendapati kurang dari satu raka’at, itu tidak terhitung di dalam salat, dan dia tetap harus menyelesaikan salatnya secara sempurna sendirian. Sehingga sebagai kesimpulan, jika musafir mendapati kurang dari satu raka’at bersama imam muqim, maka dia boleh meng-qasar salat. Wallahu Ta’ala a’lam. Pembahasan ini kami sarikan dari kitab Ahkaam Khudhuuril Masaajid karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan hafidzahullah, hal. 198-200 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA).

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini