Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, pada Jumat 31 Januari yang lalu ia baru saja membesuk almarhum Gus Sholah yang sedang sakit di RS Harapan Kita Jakarta.
“Saya kenal lama dengan Gus Sholah sebagai sosok yang rendah hati, bergaul luas dengan banyak kalangan, moderat, memiliki komitmen keislaman yang kuat, dan visi kebangsaan yang luas. Selain itu, Gus Sholah sangat konsens pada demokrasi dan hak asasi manusia dengan konsisten,” kenang Haedar, Senin (3/2/2019).

Bahkan, ketika Pemilu 2019 Haedar mengaku intensif bertemu bersama banyak kalangan untuk menggalang moderasi dan tidak terlibat politik partisan agar ada kekuatan penyeimbang.
“Beliau tidak ingin pemilu menjadi faktor pemecah belah dan berujung pada kegaduhan politik yang meruntuhkan persatuan, demokrasi, dan kebersamaan,” ujar Haedar.
Haedar juga mengatakan, pada tahun 2017 ia bersama istri, serta Gus Solah bersama istri menunaikan ibadah haji undangan khusus Raja Salman.
“Dalam musim haji tersebut saya bersama Gus Sholah termasuk rombongan perwakilan dunia Islam yang bertemu Raja Salman di Istana Mina. Gus Sholah sosok yang sederhana dan santun. Selama sekitar dua minggu kami ngobrol dan berdiskusi banyak hal tentang Muhammadiyah dan NU, umat Islam, bangsa, dan perkembangan global. Wawasan Gus Sholah moderat dan melintasi, selalu menjaga keseimbangan,” tutur Haedar.
Sebelum Gus Sholah terbaring sakit, beliau masih berkomunikasi tentang rencana pemutaran Film Dua Tokoh Kiai Dahlan dan Kiai Hasyim Asy'ari, yang rencananya akan mengundang Presiden RI.