Share

Kisah Umar bin al Khattab, Sahabat Rasulullah yang Rendah Hati

Suherni, Jurnalis · Sabtu 22 Februari 2020 01:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 18 614 2170376 kisah-umar-bin-al-khattab-sahabat-rasulullah-yang-rendah-hati-X0KL98phHi.jpg Ilustrasi. Foto: Istimewa

Umar bin al Khathab merupakan sahabat Rasulullah yang sangat rendah hati. Meski ia seorang yang berkuasa, ia tak segan-segan berbicara langsung dengak rakyatnya, dan mencari solusi dari permasalahan yang ada.

Contohnya dikutip dari Buku 10 Sahabat Nabi Dijamin Surga halaman 135-139 Pustaka Imam Asy Syafii yang ditulis Muhammmad Ahmad Isa, pada suatu hari ketika Umar bin al-Khathab sedang duduk bersama para sahabat dalam suatu majelis, tiba-tiba seorang berwajah murung dan diselubungi rasa lelah karena baru saja menempuh perjalanan jauh menerobos masuk ke dalam kerumunan.

Sesudah sampai di tengah-tengahnya, orang itu berseru kepada salah seorang yang duduk di situ: "Wahai Amirul Mukminin ...."

Lantas orang itu segera mengarahkan pandangan kepada Amirul Mukminin yang dimaksud, lalu dia berseru kepadanya: "Engkaukah yang bernama Umar? Semoga kecelakaan dari Allah menimpamu, wahai Umar!''

Setelah menyatakan demikian, orang itu bergegas keluar kerumunan tanpa merasa bersalah dan peduli terhadap perbuatannya tadi. Beberapa yang hadir pun mengikuti orang itu dengan penuh kemarahan. Namun Umar segera memanggil dan menyuruh mereka kembali ke tempat semula.

Kemudian dalam keadaan setengah berlari, Khalifah Umar mengikuti laki-laki itu, sementara hatinya terus bergejolak.

Betapa tidak, bukankah laki-laki tersebut menyerukan: "Semoga kecelakaan dari Allah menimpa engkau, wahai Umar!"

Sungguh, perkataan ini bermakna bencana baginya. Bahkan yang demikian merupakan malapetaka yang tidak sanggup dibendung oleh kesabaran sebelum dia mengetahui penyebab persisnya. Hingga akhirnya, Umar menemui laki-laki itu dan mengajaknya kembali ke tempat semula.

Kemudian Umar bertanya: "Semoga kecelakaan dari Allah menimpaku; mengapa kamu berkata demikian, hai saudaraku sesama orang Arab?" Laki-laki itu pun menjelaskan: “Karena para gubernur yang menjadi wakil engkau tidak berbuat adil. Bahkan, mereka berbuat zalim (terhadap kami, rakyatnya)."

Umar bin al Khattab kembali bertanya: "Siapakah gubernurku yang kamu maksud?" Laki-laki tersebut menjawab: "Gubernur engkau yang bertugas di Mesir, yang bernama Iyadh bin Ghanam.''

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Sebelum mendengarkan pengaduan itu secara terperinci, Umar sudah menunjuk dua sahabatnya dan berpesan kepada mereka: Pergilah kalian ke Mesir, dan bawalah Iyadh bin Ghanam ke hadapanku! Tegaskan bahwa ini adalah instruksi langsung dari Khalifah Umar!''

Seperti itulah sikap seorang yang kuat dan pemberani sejati yang mampu memecah kekuatan, menghalau bahaya, dan mencegah kelancangan. Jika Anda ingin melihat orang ini seperti burung yang dihantam embusan angin topan, cukup serukan kepadanya: "Tidakkah kamu bertakwa kepada Allah, wahai Umar?"

Dari situlah Anda akan menyaksikan seorang manusia yang tangan kirinya kaku, sedangkan kitab catatan amalnya telah terbentang di hadapan kedua mata. Dan seluruh alam bergema saat mendengarnya. Demikian kondisi kita kelak, hingga terdengar seruan-Nya: "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirmu."(QS. Al-Isra'[17]: 14)

Sikap tawadhu senantiasa melekat dalam diri Umar bin al-Khathab . Oleh sebab itulah, dia memilih mendekati laki-laki tersebut (dan meminta penjelasan) daripada (meraup kenikmatan) dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini