Saat menghadiri acara Muktamar Pemikiran Santri Nusantara yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama di Ponpes Asshidiqiyah Jakarta, Nadirsyah Hosen yang akrab disapa Gus Nadir mengalami peristiwa yang sangat ajaib.
Padatnya acara di Jawa Timur membuat Gus Nadir baru bisa terbang pagi hari tanggal 29 September 2019 ke Jakarta. Kurang tidur dan fisiknya drop.
Saat sedang istirahat di rumah KH. Nur Iskandar, panitia meminta Gus Nadir mengisi sesi pertama menggantikan Ketum PBNU Kiai Said Aqil Siradj yang berhalangan hadir. Padahal seharusnya sesinya merupakan sesi kedua.
Akibatnya Gus Nadir gagal istirahat dan terpaksa menuju ke panggung untuk mengisi acara.

Saat melangkah menuju area utama, Gus Nadir bertemu dengan Dr. KH. Abdul Jalal, Direktur Ma’had Aly Pesantren Situbondo. Ia lalu memintanya usai mengisi acara lalu bertemu dengan para direktur Ma’had Aly seluruh Indonesia yang juga hadir di lokasi. "Saya menyanggupi permintaan guru dan sahabat saya ini," katanya belum lama ini.
Seperti dilansir dari website NU Lombok Tengah, saat Gus Nadir di panggung, ia membacakan isi tiga kitab, yaitu Tafsir al-Razi, Al-Mughni li Ibn Qudamah, dan Mausu’ah Fiqh Kuwait.
Namun posisi kipas angin di sebelahnya. "Saya coba menggeser kursi dan juga menggeser kipas angin tapi rupanya tak berhasil. Walhasil, fisik saya semakin drop dan kurang enak badan saat itu."
"Turun dari panggung saya terpaksa menolak wawancara dengan media, terpaksa hanya sebentar meladeni permintaan foto para peserta karena tubuh saya sudah mulai agak sakit dan goyang. Terhadap santri Kiai Jalal yang menemui saya, saya beritahu bahwa fisik saya melemah dan saya terpaksa membatalkan pertemuan dengan para Direktur Ma’had Aly seluruh Indonesia seperti rencana semula," terang Gus Nadir.
Ia melangkah kembali ke rumah Kiai Nur Iskandar. Ternyata ia disusul oleh Kiai Jalal yang mengabarkan para kiai sudah menunggunya.
Gus Nadir semakin bimbang. Badannya juga makin melemah, namun menolak Kiai Jalal yang sampai menghampiri rasanya juga tidak elok.