nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini 3 Kondisi Hati Manusia Menurut Imam Al Ghazali

Novie Fauziah, Jurnalis · Selasa 25 Februari 2020 04:25 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 24 614 2173457 ini-3-kondisi-hati-manusia-menurut-imam-al-ghazali-S0aDVUq0JC.jpg Jenis hati manusia (Foto: Cullman Regional Medical Center)

Hati merupakan sumber dari perbuatan manusia. Hati akan mendorong orang berbuat baik atau mendorong orang berbuat buruk.

Manusia bisa menjadi orang yang baik atau buruk perbuatannya tergantung dari kondisi hati yang dimilikinya. Sebagai gambaran, kalau teko berisi air kopi maka cangkir berisi air kopi. Hati diibaratkan sebagai tekonya.

 hati yang sakit

Berbicara tentang hati, Pakar Tasawuf Imam Al Ghazali membagi tiga kategori hati manusia yang perlu kamu ketahui.

Pertama, hati yang sehat. Kondisi hati yang sehat menyebabkan keselamatan. Di mana hati yang sehat memiliki tanda-tanda di antaranya, imannya kokoh, ahli bersyukur, tidak serakah, khusyuk dalam beribadah, suka berdzikir, penuh berkah.

Hati yang sehat akan segera sadar bila melakukan kesalahan dengan cara bertobat. Pemilik hati yang sehat akan merasakan hidup yang tentram dan damai.

Kedua, hati yang sakit. Hati sakit adalah hati yang masih memiliki keimanan dan masih mau melakukan ibadah. Namun hati yang sakit juga ternoda maksiat dan dosa. Tanda-tandanya adalah selalu gelisah, jauh dari ketenangan, mudah marah, tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, susah menghargai orang lain.

Bisa dikatakan pemilik hati yang sakit ini, menjalani kehidupan pun merasa kurang nyaman.

Ketiga, hati yang mati. Hati yang mati adalah hati yang mengeras karena banyaknya kotoran yang melekat, akibat dari dosa-dosa hasil dari perbuatanya.

Seperti dilansir NU Depok, hati yang mati bisa membahayakan orang lain. Setiap perbuatan yang dilakukan tidak sanggup membedakan yang baik dan yang buruk. Mereka cenderung merusak.

Salah satu ciri hati mati, ialah mereka yang sudah tidak mau menerima nasehat agama. Kondisi tersebut hampir di sekitar kita ada orang seperti itu, ketika mendapatkan nasehat bukannya sadar. Ia malah berbalik dengan sangkaan jelek kepada orang yang menasihati.

Sebagaimana firman Allah,

وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ، إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ، كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan Setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”, sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS Al-Muthaffifin [83]:

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini