TIMBUKTU sebuah kota yang terletak di Mali adalah salah satu tempat terpenting dalam sejarah peradaban Islam di Afrika Barat. Timbuktu pernah menjelma sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang termasyhur.
Pada abad ke-5 SM, Timbuktu pada awalnya adalah pemukiman musiman sementara untuk pedagang garam, emas, dan unta. Pada akhir abad ke-6 Timbuktu menjadi kota yang makmur. dan menjadi situs komersial permanen di awal abad ke-8.
Melansir dari About Islam, sebagai tempat perdagangan yang sering dikunjungi banyak orang dari berbagai macam latar belakang, kota ini dengan cepat menjadi tempat pertemuan intelektualisme dan budaya selama abad ke-13.
Pada abad 13 hingga 14 proses belajar dan mengajar Islam berkembang dengan pesat. Pada saat itu, di bawah pemerintahan penguasa Kekaisaran Mali yang sangat terkemuka, Mansa Musa, Timbuktu menjadi pusat pembelajaran Islam yang terkenal. Rakyat di wilayah itu begitu gemar membaca buku.
Selama berabad-abad, sejumlah cendekiawan terkenal dan penulis sejarah telah menggambarkan Timbuktu dalam berbagai literatur. Yang paling terkenal adalah: Ibn Batutah, Ibn Faḍl Allāh al-‘Umarī, Shabeni, Ibn Khaldun, Leo Africanus, dan juga René Caillié.
Saking tingginya tingkat pendidikan disana, Abd Arahman Atimmi, seorang profesor bahasa Arab dari Hedjaz (Semenanjung Arab) pernah ke Timbuktu dengan maksud mengajar.
Setelah berbicara dengan beberapa siswa dan melihat tingkat kecerdasan mereka, ia menyadari bahwa dia memiliki pengetahuan akademis yang lebih rendah dibandingkan dengan para siswa Timbuktu, dia merasa rendah hati dan memutuskan untuk belajar di Timbuktu.
Namun pada tahun 1591 invasi pasukan Maroko menjatuhkan Kekaisaran Songhai. Selain itu, invasi tersebut juha menghancurkan beberapa pusat pembelajaran dan manuskrip kota. Banyak sarjana terbunuh, dan beberapa dideportasi ke Maroko, termasuk Kanselir terakhir Universitas Sankore, Ahmed Baba. Sebagai akibatnya, kota legendaris Timbuktu itu hancur.
Tapi sampai saat ini, semua bangunan abad ke-14 ini masih berdiri di kota Timbuktu. Sekitar 80 perpustakaan pribadi dan perpustakaan umum Ahmad Baba masih ada di kota, menyimpan lebih dari 700.000 manuskrip yang tak ternilai.
Pada tahun 1988, kota Timbuktu telah terdaftar menjadi warisan dunia oleh UNESCO. Kota Timbuktu terkenal bagi banyak hal, tetapi kontribusinya yang tahan lama bagi peradaban Islam dan dunia adalah warisan intelektualnya.
(Fahmi Firdaus )