Dalam menjalani hidup, manusia sering kali merasa ketakutan saat menghadapi berbagai cobaan kekurangan makanan, takut sakit, takut kehilangan orang yang dicintai.
Ustadz Ma'ruf Khozin mengatakan, rasa takut, rasa takut kekurangan harta, rasa takut kekurangan makanan, hilangnya nyawa dan sebagainya sudah diingatkan dalam Alquran,
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
(Al-Baqarah: 155) "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."

Kelanjutan ayat tersebut yang dimaksud orang yang sabar adalah orang yang menyerahkan segala sesuatu yang terjadi kepada Allah, Innalillah wa Inna ilaihi Raji'un (istirja').
Dijelaskan dalam sebuah hadist bahwa apa yang hilang dari kita saat terjadi musibah boleh bagi kita untuk meminta ganti kepada Allah SWT.
Hadist tersebut berbunyi,
" ﻣَﻦِ اﺳْﺘَﺮْﺟَﻊَ ﻋِﻨْﺪَ اﻟْﻤُﺼِﻴﺒَﺔِ ﺟَﺒَﺮَ اﻟﻠﻪُ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺘَﻪُ، ﻭَﺃَﺣْﺴَﻦَ ﻋُﻘْﺒَﺎﻩُ، ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻪُ ﺧَﻠَﻔًﺎ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻳﺮﺿﺎﻩ"
"Barangsiapa membaca kalimat istirja' (Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali kepada Allah) maka Allah akan menutupi dosa kesalahannya, Allah jadikan akhir yang baik baginya dan Allah memberi ganti yang baik baginya dan diridhai-Nya" (HR Baihaqi dalam Syu'ab Al Iman)
Seperti dilansir dari Laduni.id, namun bagi sebagian ulama khususnya dari kalangan Shufi, mereka lebih memilih untuk menerima apapun yang diberikan oleh Allah dan tidak menuntut apapun dari musibah sebagai bentuk luhurnya etika kepada Allah.
Syekh Ibnu Athaillah Assakandari berkata,
كيف تطلب العوض على عمل هو متصدق به عليك؟
Bagaimana mungkin engkau meminta ganti kepada Allah atas perbuatan padahal Allah-lah yang memberikan perbuatan itu kepadamu? (Al-Hikam, maqalah 253)
(Dyah Ratna Meta Novia)