Membersihkan Hati Melalui Nisfu Sya'ban

Rabu 08 April 2020 00:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 07 330 2195679 membersihkan-hati-melalui-nisfu-sya-ban-W1Mr78jbs8.JPG Ilustrasi Malam Nisfu Sya'ban

Agama sebagaimana dipelajari para sosiolog merupakan pedoman untuk bertindak, sehingga manusia melakukan penafsiran atas tindakannya berdasar kerangka referensi.

Kerangka referensi dalam agama adalah teks, teks ialah konsep-konsep ajaran yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Dalam agama Islam teks tersimpan dalam dua warisan Nabi Muhammad SAW yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Namun dalam mempelajari Islam kita tidak cukup hanya berhenti dalam al-Qur’an dan Al-Hadits an sich.

Terdapat seabrek disiplin keilmuan yang mesti dikuasai sebelum seseorang masuk untuk memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Keilmuan tersebut adalah ilmu tafsir dan ilmu hadits. Sedangkan dalam ilmu tafsir sendiri terdiri dari beberapa disiplin ilmu misalnya ilmu Lughat/bahasa, Nahwu, Sharaf, Asbabul Nuzul, Nasikh Mansukh, dan lain sebagainya. Untuk ilmu hadis secara garis besar terbagi menjadi dua disiplin keilmuan yaitu ilmu hadis dirayah dan ilmu hadis riwayah.

Sedangkan untuk orang-orang seperti saya atau kebanyakan umat Islam di Indonesia yang pengetahuan agama serta disiplin keilmuan masih rendah tidak ada salahnya dalam beragama kita mengikuti ulama terdahulu.

Ini perlu dilakukan agar kita tidak terjatuh dalam kesalahan berpikir model Argumentum ad Verecundiam, berargumen mengunakan otoritas walaupun otoritas itu tidak relevan dan ambigu. Otoritas merupakan sesuatu atau seseorang yang diterima kebenarannya secara mutlak. Dalam Islam otoritas itu, tak lain dan tak bukan adalah Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW.

Artinya, kurang tepat bila ada seseorang membenarkan tindakannya dengan mengutip Al-Qur’an atau Al-Hadits, sebab dalam ayat atau hadits yang sama bisa ditafsirkan lain oleh pihak yang berbeda paham.

Idealnya dalam memahami ajaran agama kita mengunakan frase, “menurut saya”, atau “menurut ulama A”. Jadi bila terjadi berbedaan penafsiran atau terjadi bantahan bukan berarti pihak lainnya membantah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tapi yang dibantah adalah pendapat orang atau ulama yang mengeluarkan statement tersebut.

Salah satu ritual atau ibadah dalam Islam yang menjadi perdebatan adalah amalan pada malam nisfu sya’ban. Terlepas dari perdebatan yang ada, banyak ulama terdahulu yang memberi teladan bagi kita untuk melakukan amalan-amalan kebaikan di malam tersebut.

Dalam titik ini tidak ada salahnya, penulis mengutip pandangan Mark R Woodward, penulis keislaman dari Amerika,”bagaimanapun juga semua tradisi Islam merupakan hasil interpretasi teks dalam lingkup sosio-historis tertentu. Suatu tradisi yang berkembang, meskipun sangat berbeda dari tradisi yang lebih pupuler, tidak dapat dikatakan lebih baik atau lebih buruk dari tradisi lainya”.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Malam Nisfu Sya’ban

Malam Nisfu sya’ban, nisfu berarti pertengahan, sehingga malam nisfu Sya’ban diartikan dengan malam pertengahan bulan Sya’ban. Malam ini memiliki banyak keutamaan, oleh karenanya umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah di malam ini. Dalam kitab Durratun Nasihin karangan Usman bin Hasan al-Khaibawi hal 207 dijelaskan, bahwa Nabi Muhammad SAW kedatangan malaikat Jibril untuk memberitahu tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban.

Malaikat Jibril berkata,”Hai Muhammad, pada malam ini pintu-pintu langit dan rahmat dibuka, maka bangkitlah dan kerjakanlah sholat kemudian angkatlah kepalamu serta dua tanganmu ke langit (berdoa). Nabi Muhammad, bertanya ”Hai Jibril, apakah artinya malam ini?”.

Jibril menjawab,” pada malam ini telah dibuka tiga ratus pintu rahmat, maka Allah SWT mengampuni semua orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain-Nya, kecuali tukang sihir, dukun, orang yang suka bermusuhan, peminum khamar, orang yang selalu melacur, pemakan harta riba, durhaka pada orang tua, orang yang suka mengadu domba, dan orang yang memutuskan tali persaudaraan. Sesungguhnya mereka semua tidak diampuni kecuali mau bertaubat dan meninggalkan perbuatan tersebut.”

Dalam malam ini kita umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan sunah seperti memberbanyak doa, membaca Al-Qur’an, berdzikir, memohon ampunan atau istighfar. Menghadapi pandemi Corona seperti tahun ini, tidak ada salahnya kita sebagai umat muslim serentak berdoa dalam malam Nisfu Sya’ban memohon agar wabah ini segera berakhir dan kondisi bisa normal seperti sedia kala. Sebagian ulama juga menganjurkan kepada kita sebelum berdoa di malam Nisfu Sya’ban untuk memulai dengan membaca surat yasin tiga kali.

Lebih jauh dijelaskan oleh para ulama, bahwa bulan Rajab untuk membersihkan badan, bulan Sya’ban untuk membersihkan hati dari sifat-sifat tercela dan bulan Ramadhan untuk membersihkah ruh kita. Adalah benar terdapat perbedaan pendapat dalam mengisi amalan pada malam Nisfu Sya’ban.

Hemat penulis, mengisi malam Nisfu Sya’ban dengan amalan yang baik dan tidak bertentangan dengan kaidah pokok agama adalah suata hal yang mubah serta bernilai ibadah. Sebab semuanya mengakui bahwa malam Nisfu Sya’ban adalah malam mulia, hanya terdapat perbedaan dalam mengisi kemulian malam tersebut. Akhirnya, mari merayakan perbedaan dengan tetap menjaga kerukunan serta tak pernah lelah berdoa untuk kebaikan seluruh umat manusia agar segera terlepas dari wabah COVID-19. Semoga.

Oleh : Achmad Yani Arifin

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Ronas Mojokerto dan Krapyak Yogyakarta. Tinggal di Jombang, Jawa Timur.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya