Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Membersihkan Hati Melalui Nisfu Sya'ban

Membersihkan Hati Melalui Nisfu Sya'ban
Ilustrasi Malam Nisfu Sya'ban
A
A
A

Agama sebagaimana dipelajari para sosiolog merupakan pedoman untuk bertindak, sehingga manusia melakukan penafsiran atas tindakannya berdasar kerangka referensi.

Kerangka referensi dalam agama adalah teks, teks ialah konsep-konsep ajaran yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Dalam agama Islam teks tersimpan dalam dua warisan Nabi Muhammad SAW yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Namun dalam mempelajari Islam kita tidak cukup hanya berhenti dalam al-Qur’an dan Al-Hadits an sich.

Terdapat seabrek disiplin keilmuan yang mesti dikuasai sebelum seseorang masuk untuk memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Keilmuan tersebut adalah ilmu tafsir dan ilmu hadits. Sedangkan dalam ilmu tafsir sendiri terdiri dari beberapa disiplin ilmu misalnya ilmu Lughat/bahasa, Nahwu, Sharaf, Asbabul Nuzul, Nasikh Mansukh, dan lain sebagainya. Untuk ilmu hadis secara garis besar terbagi menjadi dua disiplin keilmuan yaitu ilmu hadis dirayah dan ilmu hadis riwayah.

Sedangkan untuk orang-orang seperti saya atau kebanyakan umat Islam di Indonesia yang pengetahuan agama serta disiplin keilmuan masih rendah tidak ada salahnya dalam beragama kita mengikuti ulama terdahulu.

Ini perlu dilakukan agar kita tidak terjatuh dalam kesalahan berpikir model Argumentum ad Verecundiam, berargumen mengunakan otoritas walaupun otoritas itu tidak relevan dan ambigu. Otoritas merupakan sesuatu atau seseorang yang diterima kebenarannya secara mutlak. Dalam Islam otoritas itu, tak lain dan tak bukan adalah Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW.

Artinya, kurang tepat bila ada seseorang membenarkan tindakannya dengan mengutip Al-Qur’an atau Al-Hadits, sebab dalam ayat atau hadits yang sama bisa ditafsirkan lain oleh pihak yang berbeda paham.

Idealnya dalam memahami ajaran agama kita mengunakan frase, “menurut saya”, atau “menurut ulama A”. Jadi bila terjadi berbedaan penafsiran atau terjadi bantahan bukan berarti pihak lainnya membantah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tapi yang dibantah adalah pendapat orang atau ulama yang mengeluarkan statement tersebut.

Salah satu ritual atau ibadah dalam Islam yang menjadi perdebatan adalah amalan pada malam nisfu sya’ban. Terlepas dari perdebatan yang ada, banyak ulama terdahulu yang memberi teladan bagi kita untuk melakukan amalan-amalan kebaikan di malam tersebut.

Dalam titik ini tidak ada salahnya, penulis mengutip pandangan Mark R Woodward, penulis keislaman dari Amerika,”bagaimanapun juga semua tradisi Islam merupakan hasil interpretasi teks dalam lingkup sosio-historis tertentu. Suatu tradisi yang berkembang, meskipun sangat berbeda dari tradisi yang lebih pupuler, tidak dapat dikatakan lebih baik atau lebih buruk dari tradisi lainya”.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement