Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Membentuk Karakter Anak saat Pandemi COVID-19 di Bulan Ramadhan

Membentuk Karakter Anak saat Pandemi COVID-19 di Bulan Ramadhan
A
A
A

Setiap orangtua tentunya menginginkan putra putrinya menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Untuk itu diperlukan kemampuan pengasuhan (parenting) yang tepat sehingga tujuan mendidik anak dengan karakter yang baik dan kuat dapat tercipta.

Saat ini kita mafhum bahwa di tengah situasi pandemi COVID-19 di mana orangtua dapat berinteraksi lebih intens bersama anaknya. Kebersamaan itu sekaligus dapat menanamkan nilai-nilai spiritual, moral serta nilai-nilai positif lainnya kepada putra putrinya.

Kondisi pandemi COVID-19 ini mengharuskan kita sebagai orangtua untuk tetap tinggal di rumah, bekerja di rumah, beribadah di rumah, menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta pendidikan pun harus di rumah. Anak-anak tidak lagi belajar di sekolah akan tetapi tetap tinggal di rumah.

Banyak hikmah yang dapat kita lakukan selama di rumah saat pandemi COVID-19 terlebih di bulan Suci Ramadhan. Sebuah Hadist menegaskan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya yang menyebabkan ia beragama yang baik atau tidak.

حدثنا آدم حدثنا ابن أبي ذئب عن الوهري عن أبي سلمة بن عبد الرحمن عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصراه أو يمجسانه كمثل البهيمة تنتج البهيمة هل ترى فيها جدعاء

Adam telah menceritakan pada kami Ibnu Abi Dzi’b dari al-Wahri dari Abi Salamah bin Abdul Rahman dari Abu Hurairah ra berkata:

Bersabda Nabi Saw ; “Setiap bayi yang dilahir dalam keadaan suci ( Fithah), maka orangtuanyalah yang mempengaruhinya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana ia tumbuh dan berkembang sampai jadi kakek-kakek.

Apakah fitrah itu? 

“Fithrah” secara bahasa bisa diartikan: “sifat dasar, natural”, “watak, karakter”, “penciptaan, ciptaan”, “agama, sunnah”, “alami”, “insting”, “primitif” dan sejenisnya.

Maksud fitrah di sini adalah: menurut proporsi penciptaannya, manusia diciptakan dalam fitrah/sifat dasar bisa menerima tauhid (kepercayaan hanya kepada satu Tuhan). Fitrah ini tak akan berubah. Dan, fitrah untuk menerima ajaran tauhid (pengesaan Tuhan) inilah agama yang lurus. Namun, kebanyakan manusia tidak menyadarinya. Kebanyakan manusia tidak mengesakan Tuhan.

Dalam Alquran Surat At-Tahrim ayat ; 6 ditegaskan bahwa tanggung jawab orangtua dalam mendidik putra putrinya secara baik dan akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

Allah Berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ والحِجَارَةُ وعَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَ يَفعَلُونَ مَا يُؤْمَرُنَ

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, makna “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu‘anhu mengatakan bahwa makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah “didiklah mereka dan ajarkan ilmu kepada mereka (addibhum wa‘allimhum)”.

Makna peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah, “Engkau memerintahkan mereka untuk menaati Allah dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Allah, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah teradap mereka, memerintahkan mereka dengan perintah Allah dan membantu mereka dalam urusan tersebut

Kebaikan keluarga akan berpengaruh kepada kebaikan masyarakat, dan kebaikan masyarakat akan berpengaruh kepada kebaikan negara.

Oleh karena itulah agama Islam banyak memberikan perhatian masalah perbaikan keluarga. Di antara perhatian Islam adalah bahwa seorang laki-laki, yang merupakan kepala rumah tangga, harus menjaga diri dan keluarganya dari segala perkara yang akan menghantarkan menuju neraka.

“Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing”. [HR. al-Hâkim, Ahmad dan Abu Dâwud; disahihkan al-Albâni dalam al-Irwâ`]

Mengajari ibadah kepada anak-anak bukan hanya shalat, namun juga ibadah-ibadah lainnya. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ‘Demikian juga (anak-anak dilatih) tentang puasa, agar hal itu menjadi latihan baginya untuk melaksanakan ibadah, supaya dia mencapai dewasa dengan selalu melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta menjauhi kemaksiatan dan meninggalkan kemungkaran, dan Allâh Yang Memberikan taufiq”. [Tafsir Ibnu Katsîr, surat at-Tahrîm ayat ke-6]

Dalam hadist lain di sebutkan bahwa setiap manusia akan diminta pertanggungjawabannya atas apa yang telah diperbuat. Dari Ibnu Umar r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Ketahuilah, kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang di pimpinnya.

Penguasa adalah pemimpin atas rakyatnya yang dipimpinnya. Laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang perempuan juga pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab atas itu semua, seorang hamba sahaya bertanggung jawab terhadap harta tuannya."(HR.Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Tarmidzi).

Sudahkah kita hari ini berbuat baik terhadap keluarga dengan cara mengajak suami, istri, anak anak dan keluarga besar lainnya untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT?

Momentum yang sangat tepat jika di bulan Ramadhan 1441 Hijriyah ini kita dapat bersama-sama, berkumpul bersama, menjalankan ibadah puasa, ibadah tarawih, membaca Alquran serta ibadah lainnya di mana kita tidak disibukkan dengan urusan duniawi.

Semoga kita dapat menjalankannya dengan penuh Istiqomah. Amiin Ya Robbal Alamin.

Oleh Dr. Diana Mutiah, M.Si

Penulis adalah Pengurus Harian PP ISNU dan Dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Muhammad Saifullah )

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement