Puasa Menyatukan Komitmen Manusia

Rabu 29 April 2020 04:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 28 330 2206376 puasa-menyatukan-komitmen-manusia-CGaEIMjvbW.jpg

Perintah puasa sebagaimana yang tercantum secara tegas dan termaktub pada Surat Al-Baqarah Ayat 183 yang bunyinya ;

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dapat dipahami dari ayat tersebut di atas secara tersurat maupun tersirat sudah jelas bahwa kewajiban berpuasa hanya kepada mereka yang beriman dengan salah satu tujuannya yakni agar mereka yang beriman selalu menjauhi dari segala perbuatan yang dilarang oleh Alloh SWT, kapanpun dan dimanapun serta dalam kondisi apapun dan menjalankan segala perintah yang telah Alloh SWT tetapkan kepada setiap insani sebagaimana yang dicontohkan baginda Rasululloh SAW. Ketaatan semacam ini akan selalu mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Terkait dengan amalan puasa Ramadhan ini tidak saja memberikan penyadaran betapa pentingnya mengajak atau berdakwah untuk menjalankan ibadah puasa, akan tetapi kepada diri para da’i dan ulama juga dipertanyakan oleh Allah SWT, sudahkah ? Termasuk kategori orang-orang yang beriman dan mampu menjalani proses berpuasa secara benar dan layak di sejajar kan dengan orang orang yang bertaqwa. Sebagaimana tersurat dalam Al-Qur’an surat At-Taubah 71.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah : 71)

Konsep dakwah harusnya disamping memberi nasehat juga memberi tauladan, atau dengan konsep dakwah bil lisan dan bil hal dalam beramar ma'ruf nahi mungkar. Fenomena hari ini ada pergeseran “dakwah instan” siapapun dari latar belakang apapun diberi kesempatan yang sama dalam berdakwah apalagi melalui jejaring media sosial begitu banyak dan beragam model pendakwah dengan berlatarbelakang yang beragam pula.

Memang siapapun boleh berdakwah asal ada kosistensi dalam berdakwah tidak sekedar bisa dan mampu tampil di publik secara baik. Apakah tidak menyangka akan dipertanyakan atas ajakan dan seruannya juga para dai melakukan yang apa yang ia serukan?

Jika setiap pendakwah tidak sekedar menguasai materi dakwah, menguasai teknik komunikasi yang baik. Akan tetapi dirasa kurang cukup bilamana tidak sejalan dengan perilaku atau adab yang ada pada karakter diri pendakwah tersebut.

Perintah puasa memberi pelajaran yang sama beratnya para pendakwah maupun mereka kaum yang menerima ajakan dari para da’i karena puasa melatih kesadaran yang dirasakan secara rahasia bagi masing-masing individu selaras dengan niat kuatnya berpuasa karena perintah alloh SWT.

Oleh karena itu, dengan menjadi teladan bagi masyarakat agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh warga, sebaiknya para pendakwah terus meningkatkan kemampuannya dalam berdakwah. Seorang dai mesti energik, topik yang disampaikan padat dan jelas. Sehingga ceramah yang disampaikan dapat bersifat responsif terhadap masalah yang ada di lingkungan masyarakat dengan di imbangi keteladanan sikap yang kuat sebagaimana yang telah di contohkan Wali Songo dan para Ulama terdahulu.

Konsep dakwah yang akulturatif menjadi jalan damai yang mengajak semua lapisan masyarakat secara sama kedududukannya karena itulah hakikat takwa sebagi ujung akhir kita menjalani puasa tanpa kesombongan dan keangkuhan, untuk bersama menikmati kenikmatan yang hakiki dekat keharimbaan ilahi robbi.

Mudah-mudahan kita kedepan akan mampu menjadi taulan bagi keluarga kita , sesama profesi kita dan sesama keahlian kita tentu sesama organisasi kita dan terlebih sesama kaum muslim dan bahkan sesama manusia sebagai jalan dakwah yang hakiki yang selalu memberi tauladan untuk mendapatkan tempat yang dekat dengan Alloh SWT dan Rasul-Nya dengan memastikan arah pikiran kita, bicara lisan kita serta jalan perbuatan kita mampu memberi contoh dalam mengajak untuk menjadi ummat yang paling bertaqwa di sisi-Nya.

Sebagaimana ungkapan yang disampaikan KH. Achmad Siddiq bahwa Profesi Apapun Mulia di sisi Allah SWT asal cara mencapainya sesuai dengan Syariat Islam dan Profesi itu akan memberi Manfaat bagi Agama , NU dan Negara. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Oleh : Muhammad Koderi

Penulis adalah Pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya