Solidaritas Masyarakat di Tengah Pandemi

Minggu 03 Mei 2020 04:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 02 330 2208210 solidaritas-masyarakat-di-tengah-pandemi-d9pTXExNZF.jpg

Harus diakui pemerintah Indonesia terlihat kewalahan, setidaknya pada fase awal, dalam menghadapi pandemi covid-19. Namun hal ini tidak hanya mendera pemerintah di sini, tetapi juga di seluruh dunia.

Kemunculan covid-19 yang seolah tiba-tiba dengan daya tularnya yang luar biasa memang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Sejak pandemi flu Spanyol pada 1918, dunia tampak tidak siap dengan persebaran virus sedahsyat corona sekarang ini.

Akan tetapi, di tengah ketidaksiapan pemerintah, masyarakat Indonesia justru tampil ke muka. Seperti meninggalkan sekat sosial dan perbedaan orientasi politik yang cukup mengganggu dalam tahun-tahun terakhir, mereka membangun solidaritas kemanusiaan dengan cara menggalang bantuan terhadap kalangan yang paling membutuhkan.

Bagaimanpun pandemi covid-19 bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berdampak pada kondisi sosial ekonomi. Karena adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar, maka perputaran roda produksi perekonomian otomatis mengalami kemacetan.

Merespons situasi yang memprihatinkan tersebut, masyarakat tidak tinggal diam. Berbagai inisiatif sipil bermunculan, baik individu maupun kelompok, sehingga kita bisa menyaksikan bagaimana mereka saling berbagai masker dan permbersih tangan, juga sembako dan bahan-bahan kebutuhan dasar lainnya.

Fenomena ini sangat khas Indonesia, sebab jarang ditemukan secara mudah di negara-negara lainnya. Di tempat lain, pada umumnya orang-orang tergantung pada negara yang memang sudah mempunyai skema program kesejahteraan yang telah mapan.

Fenomena tingginya solidaritas masyarakat Indonesia bukan sekadar klaim sepihak, tetapi merupakan hasil penilaian sejumlah lembaga asing dengan reputasi internasional. Pada tahun 2019, misalnya, Legatum Prosperity Index menempatkan angka modal sosial di Indonesia sebagai kelima tertinggi, sedangkan tingkat partisipasi sosialnya malah tertinggi di seluruh dunia. Sementara itu, pada tahun 2018, Charities Aid Foundation (CAF) mencatat world giving indeks negara kita merupakan yang teratas dibanding negara-negara lainnya (Shabe Preuss, 2020).

Tingginya angka solidaritas masyarakat Indonesia bersumber salah satunya dari kultur, termasuk agama. Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, sudah barang tentu kita tidak bisa menafikan faktor Islam. Ajaran Islam sangat menekankan pentingnya prinsip saling tolong menolong (ta’awanu ‘alal birri wa at-taqwa) sebagaimana termaktub dalam Q. S. Al-Maidah ayat 2.

Tentu saja yang dimaksud tolong menolong bukan hanya di antara sesama Muslim, tetapi juga dengan warga bangsa lainnya dan umat manusia secara keseluruhan seperti tercermin dalam prinsip ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.

Terlebih lagi pandemi covid-19 bersamaan dengan datangnya bulan Ramadan, bulan yang paling dimuliakan dalam tradisi Islam. Lebih daripada bulan-bulan lainnya, anjuran untuk saling berbagi di antara sesama di bulan ini sangat dianjurkan. Bahkan di akhir bulan, seluruh umat Islam diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah berupa beras sekira 2,5 kg dan yang setara. Hasilnya akan dibagikan seketika kepada mereka yang sangat membutuhkan bantuan. Inilah modal sosial masyarakat Indonesia yang sangat membanggakan.

Meski demikian, solidaritas masyarakat yang sangat tinggi tersebut seringkali berbanding terbalik dengan pengelolaannya. Sudah sejak lama pelembagaan zakat, infak, dan sedekah menjadi perhatian. Apa yang dalam tradisi Barat disebut filantropi ini memang masih perlu diperbaiki manajemennya, sebab tidak jarang terdengar adanya salah urus dan bahkan penyimpangan. Hal seperti ini semoga tidak terjadi lagi di masa depan.

Selain itu, perlu juga disadari bahwa solidaritas masyarakat mempunyai keterbatasan. Dalam peristiwa atau kejadian luar biasa, seperti epidemi covid-19 sekarang, bagaimanapun tanggung jawab negara harus tetap di depan.

Dengan macetnya roda perekonomian, cadangan uang di masyarakat akan cepat berkurang. Karena itu, solidaritas mesti naik tingkat menjadi spirit dalam kebijakan. Kebijakan yang bertumpu pada spirit solidaritas adalah harapan agar kita bersama-sama mengatasi dampak epidemi sehingga bisa secepatnya kembali ke kehidupan normal.

Oleh Amin Mudzakkir (Peneliti LIPI dan PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya