Didi Kempot dan Warisan Kebaikan

Kamis 07 Mei 2020 07:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 06 330 2209986 didi-kempot-dan-warisan-kebaikan-NthbXiiulo.jpg

Sahabat yang disayang Allah. Serial tulisan Ramadhan kali ini adalah tentang warisan kebaikan dari seorang Didi Kempot.

Dionisius Prasetyo, nama asli dari Didi Kempot yang meninggal dunia Selasa 5 Mei 2020, tepat di hari puasa yang keduabelas Ramadhan. Media sosial dan media massa di Indonesia pun ramai dengan pemberitaan wafatnya ‘The Godfather of Broken Heart’ itu.

Didi Kempot memang manusia biasa. Namun ia banyak belajar dari ‘ambyar’ kehidupannya sendiri. Bahkan ia seakan melewati garis kesedihannya sehingga yang ia rasakan adalah kebahagiaan. Ia berhasil melawan musuh terbesarnya: dirinya sendiri. Maka yang terjadi pada Didi Kempot bukan meratapi kesedihan, justru sebaliknya, merayakan kesedihan sehingga menjadi kebahagiaan. Ini yang ingin ia tularkan kepada #sobatambyar. Dan ternyata berhasil.

Didi terlampau menikmati kesedihan yang mulai ia rasakan sejak kelas 3 SD, di mana kedua orangtuanya bercerai dan ia akhirnya tinggal bersama neneknya. Ia membantu neneknya dengan mencari kayu bakar untuk masak dagangan yang dijual neneknya, di Ngawi, Jawa Timur. Lantas setelah dewasa ia mulai mengamen dari jalan ke jalan. Dari satu tempat ke tempat lainnya.

(Baca Juga : Mengintip Gaya Hidup Jetset Putra Raja Salman)

Didi Kempot mungkin saja tak merasa diberi sentuhan kasih sayang dari kedua orangtuanya, sejak orangtuanya bercerai. Ia hidup bersama neneknya. Hidupnya begitu kelam. Kehidupan itulah yang mengajarinya, sehingga ia merasakan kasih sayang yang berlebih dari Sang Maha Penyayang. Ujian yang ia hadapi, ia terima dengan ridha dan ikhlas. Seperti dari lirik-lirik lagunya.

Umpamane kowe uwis mulyo, lilo aku lilo.” Artinya, seumpama kamu sudah bahagia, rela aku rela. Kerelaan yang luar biasa. Ia menerima dan merelakan jika kekasihnya yang telah meninggalkannya itu bahagia. Bahkan, dalam sebuah konser ia katakan kepada #sobatambyar “Doakan kebaikan untuk para mantanmu, dan aku pun berdoa untukmu agar mendapat yang lebih baik dari mantanmu.”

Sebuah ungkapan bijak yang luar biasa. Kesedihan dan kesakithatian dibalas dengan doa kebaikan. Yang belum tentu semua orang bisa melakukannya. Kecuali orang-orang yang keren.

Yang menarik adalah ketika Didi Kempot bercerita tentang lagu yang ia ciptakan di awal-awal karir sebagai penyanyi. Ia katakan bahwa ia terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri. Di mana ia ditolak oleh calon mertuanya saat ingin menikahi kekasihnya. Dan pekerjaannya saat itu adalah pengamen jalanan. 

“Kamu kalau menikah dengannya mau makan apa?” kata calon mertua kepada putrinya. Tetiba saja ambyar perasaannya. Ambyar hidupnya. Dan lahirlah dari peristiwa itu lagu berjudul ‘Cidro’. Didi kemudinya mengatakan bahwa kesedihan saat itulah membawanya kepada jalan pencarian rezekinya. Lewat lagu-lagunya ini ia mendulang rupiah.

(Baca Juga : 5 Potret Yan Vellia, Sosok Istri yang Setia Dampingi Didi Kempot hingga Akhir Hayat)

Belakangan lagu-lagunya yang berbahasa Jawa ini disukai banyak kalangan, lintas usia dan lintas daerah. Bahkan hingga mancanegara. Belanda dan Suriname, dua negara yang sering ia gelar konser. Bukan hanya kaum kolonial, kaum milenial pun menikmati lagu-lagunya. Terlihat dari konser-konser yang selalu ramai dipadati ratusan hingga ribuan penonton muda-mudi.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya