Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Berniaga dengan Allah Tidak Akan Pernah Merugi

Berniaga dengan Allah Tidak Akan Pernah Merugi
A
A
A

Pembaca yang berbaik hati. Pandemi corona (Covid-19) di Indonesia mengakibatkan perubahan pola bekerja, pola belajar dan pola beribadah.

Mau tidak mau, semua orang harus melakukannya di rumah; bekerja dari rumah, belajar dan beribadah di rumah. Namun ternyata, banyak orang juga kehilangan pekerjaannya. Terlebih orang-orang yang mencari nafkah dengan cara harian.

Atas dasar keprihatinan dengan krisis Covid-19 ini, sekelompok anak muda yang digagas oleh Nabil dan kawan-kawannya mendirikan Dapur untuk Rakyat. Sudah satu bulan, sejak 8 April 2020 dapur yang menyediakan nasi bungkus ini berdiri dan menebar kebaikan. Menurut Nabil, sudah 16 ribu lebih bungkus nasi yang disedekahkan kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya.

Nabil bercerita, ada seorang bapak datang ke lokasi dapur untuk rakyat beserta istri dan anaknya. Mereka terlihat dari keluarga yang kurang mampu. Mereka datang dari Pondok Ranji, sekitar enam kilometer dari lokasi dapur untuk rakyat. “Bapak itu minta dua bungkus nasi, kami kasih mereka tiga bungkus,” ungkap Nabil.

Gerakan @untukrakyat_ ini bermula dari keresahan Nabil dan teman-temannya. Alumnus UIN Jakarta ini awalnya menyewa tempat untuk bisnis kafé. Belum genap satu bulan, usaha kafe itu tidak boleh lagi beroperasi disebabkan Covid-19. Nabil dan teman-temannya berpikir bagaimana cara agar tempat yang sudah disewa untuk satu tahun ke depan ini dapat dimanfaatkan dengan sabaik-baiknya. Maka kemudian tercetuslah ide berderma ini.

Gerakan donasi korban corona

Awalnya para relawan yang kebanyakan laki-laki ini tidak bisa memasak. Mereka mengandalkan resep masakah yang ada di Google dan Youtube. Mereka pun masak dan kemudian membagikannya kepada orang-orang yang terdampak Covid-19. “Kami sadar bahwa banyak orang yang membutuhkan makanan di saat krisis ini,” ungkap mantan ketua BEM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Gerakan ini dimulai dengan membuat ‘broadcast’ atau pengumuman di media sosial dan disebar di WhatsApp dan jaringan komunikasi lainnya bahwa mereka membuka dapur untuk rakyat. Kemudian barang-barang sembako mulai berdatangan dan mereka pun mulai memasak dan membagikan nasi yang siap santap tersebut.

Dapur untuk Rakyat ini didirikan oleh sekelompok kaum milenial, yang mayoritas adalah alumni yang baru lulus dari kampus dan sebagian masih tercatat sebagai mahasiswa. Mereka memang aktivis yang sudah terbiasa melakukan bakti sosial. Saat krisis Covid-19 melanda jiwa sosial yang sudah tertanam dalam diri mereka. Mereka memang bukan mahasiswa biasa yang hanya memikirkan diri sendiri, mereka sudah terbiasa terdidik untuk memikirkan banyak orang.

Mereka sadar bahwa manusia yang terbaik, menurut Nabi Muhammad, adalah yang paling baik akhlaknya dan paling bermanfaat untuk sesama. Meski usaha kafe mereka ditutup, namun usaha lainnya, berniaga dengan Allah tidak pernah akan merugi. Kata Allah, “mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, (QS. Faathir 35:29).

Oleh: Deden Mauli Darajat

Penulis adalah dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Muhammad Saifullah )

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement