Resonansi Kebaikan Gerakan Milenial

Sabtu 09 Mei 2020 15:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 09 330 2211522 resonansi-kebaikan-gerakan-milenial-iecIHYKbse.jpg

Kawan, sebuah kebaikan selalu mendapat tempat dalam setiap hati manusia. Sekeras hati bagaimana pun manusia, ia akan tetap menerima kenyataan bahwa kebaikan selalu membuat kedamaian dalam segumpal darah yang bernama: hati. Kebaikan akan memberikan penerang pada kehidupan yang sering kali berwarna gelap. Bahkan kebaikan akan menjadi penggerak kebaikan lainnya.

Hal ini terjadi pada gerakan dapur untuk rakyat yang digagas Nabil dan teman-temannya. Kaum milenial ini mengumpulkan bahan-bahan makanan, seperti beras, mi instan, telur, dan bumbu-bumbu masakan lainnya, lalu mereka pun –para lelaki yang tidak terbiasa masak- memasak ala kadarnya.

Sempat suatu hari, cerita Nabil, mereka memasak nasi goreng. Ternyata waktu untuk memasak nasi goreng lebih lama ketimbang memasak masakan nasi biasa. Dan terjadilah yang tidak pernah terbayangkan. Orang-orang sudah berkumpul di depan Dapur untuk Rakyat menunggu makanan yang sudah jadi. Namun yang ditunggu belum juga muncul.

Setelah lama menunggu akhirnya nasi goreng pun siap dibagikan. Salah seorang dari mereka yang mengambil makanan mengatakan, “kenapa harus nasi goreng, kan, jadinya lama.” Nabil kemudian menjawab, “kami masak sendiri, ibu-bapak.” Mereka kemudian terdiam mendengar jawaban Nabil. Lalu salah satu ibu paruh baya mendekati Nabil dan menanyakan bolehkah ia membantu memasak. Nabil pun mengiyakan.

Sejak hari itu datang beberapa ibu-ibu yang membantu memasak nasi dan lauk pauk yang akan dihidangkan dan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ibu-ibu itu ada yang datang dari Pondok Pinang, Jakarta Selatan, ada yang datang dari Ciputat, ada pula yang dari Pondok Cabe.

Mereka, ibu-ibu yang membantu memasak di Dapur untuk Rakyat ini datang dengan suka rela. Mereka tidak dibayar. Mereka yang awalnya adalah penerima bingkisan makanan sekarang menjadi relawan dalam gerakan ini. Kebaikan yang tulus akan menggerakan orang-orang untuk berbuat yang sama.

Lokasi Dapur untuk Rakyat berada di Jalan Jambu I No. 23 Pisangan Ciputat dekat dengan kampus dua UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tempat ini awalnya adalah kafe yang kemudian diubah fungsinya menjadi Dapur untuk Rakyat.

Relawan gerakan ini dimotori oleh mahasiswa dan alumni yang baru lulus dari UIN Jakarta. Namun karena kebaikan ini meresonansi dan menggerakkan hati banyak orang, sehingga mahasiswa dari kampus lain pun ikut bergabung, seperti mahasiswi dari Universitas Trisakti, mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, dan Universitas Gundarma.

Tidak sampai di sini. Gerakan ini menjadi gerakan yang menginspirasi banyak orang. Mereka yang awalnya menjadi penerima bingkisan makanan kemudian mengajukan untuk membuka cabang dapur untuk rakyat di daerahnya.

Saat ini tercatat ada sembilan cabang dapur untuk rakyat, yaitu di antaranya, semanggi 2 Ciputat Timur, Gang Sate Pondok Ranji, Jl Kupu Bombay Pasir Putih, Jl Lele Bambu Apus Pamulang, Petamburan Tanah Abang, Meruya Selatan dan Cinere Depok.

Para koordinator cabang ini meminta izin untuk mendirikan dapur untuk rakyat. Lalu dapur pusat menyuplai bahan-bahan makanan untuk dimasak di tempat masing-masing. Namun para koordinator cabang juga membuka donasi bagi siapa saja yang ingin mendermakan hartanya.

Nabil mengatakan cabang di Pondok Ranji lebih kreatif lagi. “Mereka mengumpulkan bahan masakan dari rumah ke rumah, meski bawang tiga siung,” ungkap Nabil. Mereka gotong royong membangun dapur untuk rakyat yang makanannya nanti dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan di wilayahnya.

Bahkan, menurut Nabil, dari luar daerah menghubunginya untuk membuka cabang di sana. “Ada telepon dari Malang, Yogyakarta dan Bandung, yang menghubungi kami untuk membuat gerakan yang sama,” jelasnya. Nabil kemudian menjelaskan bagaimana konsep gerakan Dapur untuk Rakyat sebagai gambaran membangun gerakan yang serupa.

Gerakan milenial ini selaras dengan apa yang tertulis dalam Al-Quran. Allah mengatakan dalam QS. Al-Baqarah (2:261), bahwa “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Di bulan Ramadhan yang mulia dan penuh berkah ini, sudah selayaknya kita memperbanyak melakukan kebaikan-kebaikan. Sekecil apapun kebaikan yang dilakukan akan berdampak langsung kepada diri kita. Kebaikan akan meresonansi, baik di dunia ini maupun menjadi bekal di akhirat kelak.

Oleh: Deden Mauli Darajat

Penulis adalah dosen UIn Syarif Hidayatullah Jakarta

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya