Kawan, sebuah kebaikan selalu mendapat tempat dalam setiap hati manusia. Sekeras hati bagaimana pun manusia, ia akan tetap menerima kenyataan bahwa kebaikan selalu membuat kedamaian dalam segumpal darah yang bernama: hati. Kebaikan akan memberikan penerang pada kehidupan yang sering kali berwarna gelap. Bahkan kebaikan akan menjadi penggerak kebaikan lainnya.
Hal ini terjadi pada gerakan dapur untuk rakyat yang digagas Nabil dan teman-temannya. Kaum milenial ini mengumpulkan bahan-bahan makanan, seperti beras, mi instan, telur, dan bumbu-bumbu masakan lainnya, lalu mereka pun –para lelaki yang tidak terbiasa masak- memasak ala kadarnya.
Sempat suatu hari, cerita Nabil, mereka memasak nasi goreng. Ternyata waktu untuk memasak nasi goreng lebih lama ketimbang memasak masakan nasi biasa. Dan terjadilah yang tidak pernah terbayangkan. Orang-orang sudah berkumpul di depan Dapur untuk Rakyat menunggu makanan yang sudah jadi. Namun yang ditunggu belum juga muncul.
Setelah lama menunggu akhirnya nasi goreng pun siap dibagikan. Salah seorang dari mereka yang mengambil makanan mengatakan, “kenapa harus nasi goreng, kan, jadinya lama.” Nabil kemudian menjawab, “kami masak sendiri, ibu-bapak.” Mereka kemudian terdiam mendengar jawaban Nabil. Lalu salah satu ibu paruh baya mendekati Nabil dan menanyakan bolehkah ia membantu memasak. Nabil pun mengiyakan.
Sejak hari itu datang beberapa ibu-ibu yang membantu memasak nasi dan lauk pauk yang akan dihidangkan dan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ibu-ibu itu ada yang datang dari Pondok Pinang, Jakarta Selatan, ada yang datang dari Ciputat, ada pula yang dari Pondok Cabe.
Mereka, ibu-ibu yang membantu memasak di Dapur untuk Rakyat ini datang dengan suka rela. Mereka tidak dibayar. Mereka yang awalnya adalah penerima bingkisan makanan sekarang menjadi relawan dalam gerakan ini. Kebaikan yang tulus akan menggerakan orang-orang untuk berbuat yang sama.