Reformasi, Corona dan 10 Hari Terakhir Ramadhan

Rabu 13 Mei 2020 14:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 13 330 2213453 reformasi-corona-dan-10-hari-terakhir-ramadhan-7j1M8NBmzB.jpg

22 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1998 sebuah gerakan perubahan terjadi di Indonesia, menandai sebuah era baru yang disebut reformasi.

Dalam beberapa kamus bahasa disebutkan bahwa reformasi berasal dari kata "re" dan "formasi" . "Re" berarti kembali dan "formasi" berarti susunan. Reformasi berarti pembentukan atau penyusunan kembali.

Dalam Dictionary of Law disebutkan, reformasi berasal dari bahasa inggris "reformation" berarti membentuk atau menyusun kembali. Sedangkan dalam The Nelson Contemporary English Dictionary disebutkan bahwa reformasi berasal dari kata "reform" diartikan sebagai membentuk, menyusun, mempersatukan kembali. Reformasi juga berarti perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, ekonomi atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara.

Gerakan perubahan ini diawali dengan beberapa kondisi, di antaranya memasuki pertengahan 1997 krisis moneter (krismon) melanda Indonesia. Nilai rupiah anjlok terhadap dolar Amerika, yang berfluktuasi Rp12.000-Rp18.000 dari Rp2.200 pada awal tahun.

Di tengah situasi ini, tim ekonomi Soeharto justru menaikkan tarif listrik dan bahan bakar minyak. Ekonomi rakyat semakin terpuruk. Soeharto menyiasati situasi rawan pangan dengan kampanye makan tiwul, yang disampaikannya melalui televisi.

Bagi yang mengalami peristiwa tersebut, kejadian yang melanda Indonesia pada beberapa bulan ini bisa menjadi sebuah I’tibar tentang perputaran roda waktu yang terus berganti. Bagaimana tidak dalam 3 bulan terakhir masyarakat dunia secara umum dan Indonesia khususnya mengalami sebuah peristiwa besar yang mereformasi hampir seluruh tatanan kehidupan yaitu wabah Covid-19.

Pekerjaan yang dilakukan dari rumah atau work from home (WFH), pertemuan dan pembelajaran daring yang sebelumnya hanya sebuah wacana, serta sederet kebijakan lain, seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), menyebabkan sebagian besar masyarakat, terutama masyarakat kecil yang berprofesi sebagai pekerja harian semakin terpuruk dalam kesusahan.

Namu, Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Insyirah ayat ke 5 dan 6, secara berulang, dengan tegas mengingatkan, “setelah kesusahan pasti ada kemudahan”. Sebagai penjelas ketika turunnya potongan ayat tersebut.

Dalam hadisnya Rasulullah bersabda “Seandainya kesulitan itu datang dan masuk dalam lubang ini, maka akan datang kemudahan dan ia turut masuk ke dalam lubang tersebut sampai ia mengeluarkan kesulitan tadi.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2: 255).

Bahkan para ahli tafsir menyebutkan, ayat tersebut menjelaskan bahwa, “setiap (satu) kesulitan, maka di sana ada (dua) kemudahan.” Dan faktanya sudah banyak orang-orang yang membuktikan berkali-kali, lebih banyak kemudahan yang didapat dibanding kesulitan yang ada.

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, ketika turun surat Alam Nasyrah ayat 5-6, Rasulullah bersabda, “Kabarkanlah bahwa akan datang pada kalian kemudahan. Karena satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” Perkataan yang sama disampaikan oleh Qatadah. Qatadah mengatakan, “Diceritakan pada kami bahwa Rasulullah pernah memberi kabar gembira pada para sahabatnya dengan ayat di atas, lalu beliau mengatakan, “Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.”

Bangsa Indonesesia menerjemahkan firman dan sabda tersebut dalam beberapa syair Jawa, yang dikutip oleh Kartini dalam salah satu suratnya, yang berbunyi, “Habislah malam datanglah terang, habis topan datanglah reda, habis perang datanglah menang, habis duka datanglah suka.” Bahwa corona yang melanda Indonesia dan dunia pada saat ini akan hilang seperti gelap, topan, perang dan duka.

Apalagi pada saat ini kita juga berada di penghujung bulan Ramadhan, atau 10 hari terakhir /malam Ramadhan. Hari-hari terakhir Ramadan ini seharusnya melahirkan rasa rindu dalam diri hamba-hambaNya. Merindukan Rasulullah, rindu syurgaNya, dan tentunya kerinduan terbesar adalah menatap wajah Ilahi kelak nanti.

Di hari-hari terakhir inilah hati dan jiwa, bahkan raga hamba-hamba yang beriman dengan sepenuhnya terdedikasikan kepada keharibaanNya. Betapa tidak, makan, minum, tidur, bahkan semua kesenangan dunia untuk sementara dikesampingkan/dikurangi demi mencari ridhoNya. Saat masuk 10 hari terakhir, banyak keutamaan yang dapat diraih karena di malam tersebut merupakan waktu turunnya malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1.000 bulan.

Hari-hari terakhir Ramadhan ini merupakan waktu terbaik untuk mereformasi diri, melakukan sebuah perubahan besar untuk masa depan yang lebih baik, memaknai penyebaran wabah corona sebagai musibah yang harus dihadapi dan dilalui bukan ditakuti.

Semoga Ramadhan yang merupakan bulan latihan ini bisa menempa kita menjadi pribadi baik, baik fisik maupun rohani sehingga wabah corona tidak ditakuti tetapi dicari solusinya.

Oleh : Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag

Dosen Stai Darunnajah Jakarta, Mahasiswa Doktoral Universiti Sains Islam Malaysia

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya