Tren Pengajian Online Pasca Covid-19

Senin 18 Mei 2020 03:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 17 330 2215453 tren-pengajian-online-pasca-covid-19-oRj8sz8znO.JPG

Saya ingat betul, dulu kedua orangtua saya rutin mendengar pengajian pagi selepas shubuh dari satu stasiun radio AM. Uniknya mereka membawa radio sendiri-sindiri. Ibu saya menyetel sambil klutak-klutik di dapur.

Radio ini tidak pernah diputer ke gelombang lain dan memang sudah tidak pernah digunakan anak-anaknya. Sekali menyalakan radio, sudah langsung bunyi pengajian. Sementara Abah saya (alm) menyetel pengajian di depan rumah sambil menyeruput kopi dan siap-siap berangkat ke pasar. Pengajian yang disetel adalah rekaman ceramah Kyai Asrori al-Ishaqi, guru mursyid Thoriqah Qadiriyah Naqsyabandiyah, melanjutkan Abahnya Kiai Utsman al-Ishaqi.

Yang ingin saya ceritakan di sini, memang ada beberapa orang yang konsisten dan sangat hobi mendengarkan pengajian dengan berbagai sarana: bisa radio, bisa TV dan sekarang sudah bergeser dari media elektronik ke media online berbasis internet. Ada beberapa platform media digital yang dipilih: bisa di YouTube, Facebook ataupun yang sekarang lagi ramai di Instagram.

(Baca Juga : Bagaimana Hukum Ngaji Online? Begini Jawaban Gus Baha)

Sebagian besar juga multipalform, satu pengajian dishare ke semua akun medsos. Saya sering secara sengaja mengikuti pengajian berapa ustad online ini, dan peminatnya lumayan ada yang sampai menyentuh angka Rp1.000 sekali live di satu palatform media sosial. Ini pun nanti bisa disaksikan ulang setelah pengajian berakhir.

Nah, tapi di jagat internet, pengajian yang live ini rasanya berbeda dengan pengajian rekaman, hampir-hampir seperti bertatap muka langsung. Bahkan pasca pandemic Covid-19 ini sebagian generasi tua sudah sangat enjoy berinteraksi lewat internet. Para jamaah yang mengidentifikasi diri sebagai penggemar atau muhibbin mungkin sudah pernah menyimak kajian dari ustadz idola sehingga mereka ingin mendengar yang baru.

Di jagat internet, umumnya kita ingin menyaksikan sesuatu se-update mungkin setiap kejadian atau menjadi yang pertama nonton. Selain itu, konten pengajian memang berbeda dengan musik yang diputar berulang-ulang. Kecuali untuk maksud tertentu, para jamaah atau penggemar biasanya hanya mendengarkan sekali saja.

(Baca Juga : Antara Hijrah Nabi Muhammad dengan Hijrah Artis)

Jadi pengajian live internet ini kira-kira akan makin ngetren pasca Covid-19. Sebagian peminatnya adalah generasi lama juga sudah berangsur bermingrasi ke media baru, dan tentunya generasi muslim baru. Ada banyak riset yang menyebutkan “hasrat berislam” di Indonesia ini semakin tinggi pasca reformasi dan di sisi lain ditopang dengan kemajuan teknologi informasi-komunikasi untuk belajar agama.

Dengan internet, tidak ada orang yang minder belajar agama karena di internet semua jawaban pertanyaan agama ada. Di luar Indonesia sana juga ada gejala yang disebut post-sekularisme, orang yang sudah bosen sekuler sekarang ingin kembali merasakan nikmatnya beragama.

Nah, sejauh mana nanti pengajian-pengajian online dari majelis taklim atau pesantren tertentu ini diminati, atau berapa besar apa viewer-nya atau atau jamaahnya tentu sangat tergantung dengan massa yang dibidik, cara promosinya, serta urusan teknis liannya, termasuk bagaimana pemilihan tema-tema yang dibutuhkan atau diminati dan waktu yang pas untuk menyampaikan pengajian itu.

(Baca Juga : Artis Cantik Marcella Simon Bertanya Seputar Poligami, Begini Jawaban Cerdas Ustadz Abdul Somad)

Beberapa pengajian khusus memang tidak membidik jumlah viewer tapi merawat dan memberikan materi pengajian rutin kepada jamaahnya atau alumninya saja. Tentu ini pilihan-pilihannya.

Ada ustadz yang bahkan setiap hari di luar bulan Ramadhan bisa live pengajian empat kali: Selepas subuh, jam istirahat siang, sore pulang kerja dan waktu malam menjelang tidur. Peminatnya kira-kira 300-an orang yang kalau berjejer di satu masjid ya sudah penuh.

Memang aktivitas rutin sang ustadz ya seperti itu. Sambil live pengajian dia juga bertindak sebagai semacam brand ambassador beberapa unit usaha ekonomi yang didukung oleh rekan-rekan pemodal di luar, termasuk jamaahnya. Jadi sambil pengajian, ia mempromosikan produknya, dari mulai travel, resto, catering, percetakan, atau apapun.

Saya kira ini sah-sah saja sambil juga keuntungannya untuk membiayai proses berjalannya pengajian online, peralatannya, dan tim kreatifnya. Kadang-kadang ada info di running text pengajiannya itu membuka donasi untuk tim ustadz secara pribadi, atau untuk kegiatan sosial tertentu berkaitan dengan isu yang lagi viral.

Jadi, selamat datang di era baru. Kata seorang motivator dunia yag bukunya banyak diterjemahkan di sini: Masa depan itu sudah terjadi sekarang.

Oleh : A. Khoirul Anam

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Halal Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia)

(ful)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini