Keberagamaan dan Keberagaman, Masalah Pelik di Tengah Pandemi Covid-19

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 20 Mei 2020 20:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 20 614 2217244 keberagamaan-dan-keberagaman-masalah-pelik-di-tengah-pandemi-covid-19-eO7V7IpQTa.jpg Profesor Dr KH Haedar Nashir. (Foto: Okezone)

PANDEMI virus corona atau covid-19 tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi dan kesehatan. Wabah virus yang berasal dari Wuhan, China, ini juga memicu perdebatan di kalangan umat Islam.

Hal tersebut bermula dari kebijakan pemerintah yang sepakat untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) demi memutus mata rantai penularan covid-19. Dalam arti lain, masyarakat diimbau untuk menahan diri dari segala aktivitas yang sifatnya bersinggungan dengan orang banyak atau kerumunan massa.

Bahkan sejak pertengahan April lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan pernyataan resmi yang berisikan imbauan untuk melaksanakakan ibadah Sholat Tarawih dan Id di rumah.

Namun, tetap saja masih banyak masyarakat yang tidak mengindahkan imbauan tersebut. Seperti kasus di Kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan, yang belum lama ini viral di media sosial.

Meski area masjid telah dijaga ketat oleh sejumlah petugas keamaanan, warga masih nekat memanjat pagar masjid untuk melaksanakan Sholat Isya berjamaah.

Fenomena ini sontak menarik perhatian sejumlah kalangan, tidak terkecuali Profesor Dr KH Haedar Nashir M.Si selaku ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Saat memberikan Kajian Tarawih Online bertajuk 'Keberagaman dalam Perspektif Islam' belum lama ini, Prof Haedar menjelaskan secara mendetil duduk permasalahan tersebut. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Dimensi Keberagamaan

Menurut penjelasannya, ketika bangsa Indonesia maupun dunia internasional menghadapi pandemi covid-19, permasalahan tidak hanya menyangkut keberagaman di dalam konteks agama, budaya, sosial, dan ekonomi saja. Akan tetapi juga ada dimensi keberagaaman yang melekat dalam kehidupan masyarakat.

"Lebih-lebih di Indonesia. Fenomena ini memengaruhi dinamika sosial kita di dalam menangani covid-19," tutur Prof Haedar dalam live streaming di channel resmi Youtube Universitas Sebelas Maret.

Bicara soal dimensi keberagamaan, Prof Haedar mengatakan bahwa masyarakat Indonesia terkhusus umat Islam, sejatinya masih berinteraksi dalam dinamika yang pelik dan kompleks.

Ada kelompok Muslim yang coba mengaktualisasikan agama dengan kondisi darurat, lalu melahirkan pandangan-pandangan keagamaan yang memberi solusi pada situasi teraktual.

Sebut saja Muhammadiyah, NU, MUI yang telah mencoba memberikan solusi dengan dalil-dalil agama yang kokoh. Hasilnya, mereka sepakat mengimbau umat Islam di Indonesia untuk memindahkan ibadah secara berjamaah di masjid dan di luar rumah menjadi di rumah selama pandemi covid-19 berlangsung.

"Para ulama dan lembaga-lembaga keagamaan itu memberi solusi untuk beribadah di rumah masing-masing tanpa mengurangi rukunnya. Pada saat yang sama ada tuntutan baru bagaimana kita beragama di rumah, namun tetap menghasilkan kesalehan dan sikap keberagamaan yang konstruktif, baik dalam konteks habluminallah dan habluminannas," terang Prof Haedar.

Benar saja, pada praktiknya, sudah banyak masyarakat yang mencoba menerapkan imbauan tersebut, lalu adaptif dengan keadaan. Bahkan, pada tingkat praktis telah lahir berbagai macam gerakan taawun, ukhuwah, hingga gerakan amal salih untuk membantu sesama yang menderita.

Muhammadiyah sejak 2 Maret lalu juga dilaporkan sudah ikut membantu menggalang donasi. Begitu pula dengan perguruan tinggi di Indonesia. Mereka berhasil mengumpulkan donasi senilai lebih dari Rp100 miliar yang telah disalurkan ke 166 rumah sakit.

"Ini menjadi bukti bahwa keberagamaan bisa menjadi solusi bagi persoalan umat dan bangsa. Agama menjadi pemecah masalah (problem solver) dalam konteks pelaku agama itu sendiri," tegasnya.

Namun di saat yang sama, masih banyak umat Islam yang belum adaptif, atau memiliki cara pandang keberagaaman yang berbeda. Mereka merasa pada kondisi seperti ini masih memungkinkan untuk beribadah di luar rumah.

Padahal seperti yang kita ketahui bersama, beberapa titik-titik penluaran covid-19 justru lahir dari kegiatan keagamaan. Ditambah lagi kasus warga yang nekat lompat pagar masjid yang sempat disinggung sebelumnya.

Prof Haedar tidak menyalahkan hal tersebut. Karena pada dasarnya semua orang memiliki niat yang baik untuk beribadah. Namun perlu disadari, bila hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin wabah pandemi covid-19 akan terus menghantui Indonesia dalam waktu yang panjang.

"Ini dinamika yang tidak gampang. Perbedaan dan keberagamaan harus bisa kita cari solusinya. Kalau bisa bersepakat Alhamdulillah, kalau tidak bersepakat kita bisa bersepakat untuk tidak bersepakat," katanya. 

Tragedi dalam Perjalanan Kemanusiaan

Guna mendalami akar permasalahan ini, Prof Haedar juga sempat menyinggung kondisi tenaga kesehatan yang telah berjuang hidup dan mati dalam menangani pandemi covid-19.

Sebagai garda terdepan, para tenaga kesehatanlah yang memiliki risiko paling besar terinfeksi virus corona dari pasien yang dirawat. Bahkan, dilaporkan sudah lebih dari 40 tenaga kesehatan yang meninggal dunia saat menjalankan tugasnya.

Haedar pun mengaku ikut merasakan kesedihan yang dialami keluarga korban saat harus merelakan orang yang dicintainya meninggal dalam 'sepi'.

"Sekarang meninggal ini baik karena covid atau yg lain itu kan menyendiri. Keluarga tidak bisa antar dan lain sebagainya. Tidak ada kematian yang paling sepi dan pedih seperti sekarang. Dampak ini kalau tidak hayati dan renungkan, akan menjadi sesuatu yang sebenarnya tragedi di dalam perjalanan kemanusiaan kita," tegas Prof Haedar.

Oleh karena itu, sangat penting bagi umat Islam di Indonesia untuk bersama-sama memahami keberagamaan dan keberagaman pandangan di tengah pandemi covid-19. Terkait hal ini, Prof Haedar mengutip Surah Ar-Rum Ayat 30 yang bisa kita renungi bersama.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

"Ayat ini mendasar sekali, mendalam sekali. Pertama, ayat ini berbicara tentang fitrah manusi dalam beragama. Manusia siapapun dia, bahkan yang mengaku ateis dan agnostik sesungguhnya di dalam dirinya ada jiwa beragama, jiwa bertuhan," ujar Prof Haedar.

"Bahkan di ayat lain, ada diskusi ketika Allah SWT bertanya pada ruh manusia. 'Ketika ditiupkan, apakah kamu menyaksikan aku adalah Tuhan? Iya engkau adalah Tuhanku'. Itu adalah kontrak fitrah antara manusia dengan Tuhan," tambahnya. 

Namun pada kenyataannya ada dua dimensi dari fitrah yang tidak sederhana. Pertama, ketika fitrah itu diberikan kepada jiwa manusia, lalu mereka mengikuti seluruh amalan yang tertulis di kitab suci Alquran, maka fitrah yang makbullah dan fitrah yang diturunkan munadzallah itu akan menyatu di dalam jiwa mereka.

Di sisi lain, fitrah yang diberikan juga bisa salah arah. Terlebih ketika ada kekuasaan di sekitar mereka. Contohnya orang-orang atau kaum primitif dan tradisional.

Ketika ilmu pengetahuan dan agama belum mereka dapatkan, mereka cenderung melihat segala yang berkuasa itu adalah Tuhan.

"Persis seperti kisah Nabi Ibrahim saat mencari tuhan. Matahari begitu perkasa dia lihat ternyata tenggelam juga, bulan yang bercahaya setelah dia mau sembah juga surut dan lepas di malam hari. Ternyata akhirnya memang hanya sampai pada tauhid," tutur Prof Haedar.

Ada juga orang-orang yang setelah diberi fitrah malah menjauh dari kitab suci. Mereka biasanya hanya mendambakan ilmu dan mengandalkan akal pikiran semata.

Kelompok-kelompok inilah yang berpotensi menjadi sekular, agnostik, dan atheis. Karena pada dasarnya, ilmu yang mereka andalkan justru menimbulkan benturan dalam keberagamaan.

Di kalangan umat beragama sendiri juga ada dua dimensi keberagaman dari keberagamaan. Salah satunya dimensi verbalistrik (serba syariah).

Contohnya bisa dilihat pada kondisi saat ini, bahwa ke masjid itu bagian dari keberagamaan, dan pahala saat beribadah di masjid bisa berlipat-lipat menjadi 27 derajat. Tetapi di kala ada musibah, umat Islam sejatinya memiliki pilihan.

"Di saat darurat maka pilihan di rumah itu sesungguhnya tetap bisa berjamah tetap bisa shalat wajib, tetapi sebagian orang tidak siap karena terlalu memegang pada hukum syariat verbal itu," kata Prof Haedar.

"Kita tidak mau menghakimi, tetapi di saat seperti ini ada problem yang diakibatkan dari kita memaksakan situasi. Toh shalat itu kan selain dimensi rukun, ada dimensi khusyuk. Di rumah juga kita bisa khusyuk. Kekhusyukan itu melahirkan taqarrub-ilallah dan kemudian lahir kesalehan," tambahnya.

Oleh sebab itu, Haedar kembali mengaskan bahwa umat Islam perlu melakukan satu proses transformasi pemahaman keagamaan yang lebih luas.

"Dalam perspekti kami perlu adanya pendekatan bayani tekstual yang kaya, perlu juga pendekatan burhani atau pemikiran ilmu yang kontekstual, baik klasik dan kontemporer, baik yang sifatnya ilmu ada di dalam rumpun-rumpun ilmu, maupun sunatullah dan hukum semesta," tandasnya. 

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya