nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tausiyah Ramadhan: Tawadhu Pangkal Kemenangan

Sabtu 23 Mei 2020 08:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 05 22 330 2218133 tausiyah-ramadhan-tawadhu-pangkal-kemenangan-qMI55baST7.jpg

Mengakhiri ibadah dan ritual selama bulan Ramadhan apa yang kita rasakan dan harapkan? Yang kita rasakan adalah tawadhu’ di hadapan Allah SWT dan juga kepada sesama manusia.

Tawadhu’ kita jalankan dengan menyerahkan jiwa kita sepenuhnya dengan menjalankan puasa dan qiyamullail sehingga kita merasakan nikmatnya beribadah. Tawadhu’ sesama manusia karena jiwa humanistik kita terasah dengan membiasakan membantu orang yang belum diuntungkan dalam bentuk membayar zakat, infaq dan shadaqah tanpa pamrih.

Yang kita harapkan adalah meraih Alfath (kemenangan) dalam perang melawan nafsu yang jelek dari diri manusia, yang dalam istilah Thariqah disebut Nafsu Aluamah yaitu kepribadian manusia yang jelek seperti iri dengki, hasud, sombong; dan Nafsu Nathiqah yaitu perilaku manusia yang hubbundunya dan ahlulma’siat.

Untuk itulah di hari Ramadhan ini dimaksudkan untuk membakar kedua nafsu yang jelek pada diri manusia. Jika kita memenangi perang melawan hawa nafsu, maka kita memperoleh kemenangan. Maka dari itu Idul Fithri disebut dengan Hari Kemenangan. Tawadhu’ dan Alfath adalah dua momen yang saling berhubungan, manusia yang tawadhu akan diberikan kemenangan oleh Allah SWT.

Ajaran Tawadhu’

Dalam dunia sufi, tawadhu’ adalah maqamat yang tinggi, karena dengan tawadhu’ inilah sang salik bisa menjumpai Allah SWT, karena ia menihilkan dirinya yang tiada daya kecuali kekuatan dan kehendak Allah SWT. Manusia yang tawadhu’ berarti ikhlas terhadap ketentuan Allah SWT.

Kedua akhlak itu mempunyai dua spektrum yang berbada tetapi memilki keterkaitan. Jika tawadhu’ berdimensi horizontal dalam berhubungan sesama manusia, sedangkan ikhlas berdimensi vertikal dalam beribadah mahdhah wa ghoiru mahdhan (langsung atau tidak langsung) kepada Allah SWT.

Tawadhu’ menurut Imam Ghozali adalah mengeluarkan kedudukanmu atau kita dan menganggap orang lain lebih utama daripada kita. Pada hakekatnya tawadhu’ itu adalah sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah dan terbukanya sifat-sifat Allah SWT.

Sedangkan menurut Ibnu Athaillah Assakandari tawadhu’ adalah kerendahan hati yang tidak menilai dirinya lebih baik dari orang lain, dan tuntutannya adalah perilaku dan ucapan hormat kepada orang lain. Inilah yang di umpamakan dalam Al-Quran, Surat Furqan : 63

“Waibaddirrahman alladzina yamsyuna ‘alal ardhi haunan, waidza khothobahumul jahiluna qoolu salaman ( Adapun hamba Allah adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan bahkan di ejek oleh orang bodohkan, mereka tetap mengucapkan salam). Mengapa kita harus menyombongkan diri, padahal kita tidak bisa menembus bumi dan menjulang setinggi gunung (Al-Isra 37).”

Ajaran tawahu’ juga disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW : Auha ilayya antawadhau’ layafkhoru ahadan ‘ala ahadin walayabghi ahadan ‘ala ahadin (Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak adasaling berbuat zhalim sesama kalian).

Bahkan Nabi Muhammad SAW mengingatkan kepada kita, tidak akan masuk surga di antara kita yang takabur : mankana fii qalbihi mitsqaalan dzarratin minkibri. Kedua Ayat Al-quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW itu memerintahkan agar manusia selalu berperilaku tawadhu’ sebagai pangkal kasih sayang dan kemenangan.

Meraih Kemenangan

Manusia tiap hari seharusnya berlomba-lomba meraih ampunan dan kemenangan dari Allah. Kemenangan ini adalah bagian yang Allah janjikan apabila sudah mendapat Maghfirah Minallah (Ampunan Allah), sepert firman Allah SWT, Surat Al-Fatah : 1-2 : Innafatahna Lakafathammubina, Liyaghfirollakallahumataqaddama mindzambika (Sungguh Allah akan memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah memberikan kepadamu (Muhammad) atas dosa-dosamu yang lalu dan akan dating).

Jadi, melalui ibadah di dalam bulan Suci Ramadhan ini, khususnya dengan mengoptimalkan sepuluh hari terakhir, akan di peroleh derajat itqunmminannar, yang berarti kita hindarkan dari api neraka. Inilah makna kemenangan ibadah dalam Bulan Ramadhan.

Begitu juga kalau kita ingin meraih kemenangan dalam kehidupan, maka syaratnya kita harus tawadhu dan memohon ampunan dari Allah SWT. Hal ini adalah kemenangan sejati yang dibimbing oleh Allah.

Dalam praktik, banyak orang yang meraih kemenangan dengan cara licik, membohongi, dan dengan cara Machiavelis yang menghalkan segala cara. Kemenangan model dan cara ini berarti kemenangan yang tidak berkah karena diperoleh dengan sombong dan kerdil.

Dalam menggapai urusan dunia, Syeik Abdul Qadir Jailani mengingatkan agar kita tidak sombong: Janganlah kamu mencari dunia dan marah karena dunia, karena hal itu dapat merusak hatimu, bagaikan cuka merusak madu. Celaka, kamu telah mengumpulkan cinta dunia dan kesombongan.

Kedua sifat itu tidak akan menguntungkan pemiliknya, kecuali jika ia bertaubat. Janganlah kamu sombong. Tidaklah sombong kecuali orang yang bodoh terhadap Allah SWT, Rasul-Nya, dan orang-orang yang shalih.

Wahai orang yang berakal kerdil, kamu mencari ketinggian dengan kesombongan. Justru kamu akan memperoleh yang sebaliknya. Itulah makna kita di larang sombong dalam meraih kemenangan gemerlap dunia, padahal kemenangan hakiki adalah kemenangan untuk meraih maghfirah dan ridha Allah.

Tentang Tawadhu’ Syeikh Abdul Qadir Jailani mengatakan : Tawadhu’dan adab yang baik akan menjauhkanmu dari ketergantunngan pada manusia dan dunia. Taat akan memperbaiki dan mendekatkanmu kepada Allah SWT, sedangkan maksiat akan merusakmu dan menjauhkanmu dari Allah SWT.

Selama bulan Ramdhan ini kita telah menjalani penuh dengan khusyuk dan tawadhu’ mengharap maghfirah dan ridho Allah, seraya berharap meraih kemenangan sejati dalam perang melawan hawa nafsu. Sikap tawadhu’ hendaknya kita pertahankan dalam kehidupan sehari-hari selamanya. Kita bayangkan jika kehidupan rakyat Indonesia mempertahankan karakter yang sopan, hormat, dan andap asor, sebagai implementasi sikap tawadhu’, betapa indah dan damainya negeri kita.

Islam yang ramah betul-betul kita buktikan dalam kehidupan masyarakat. Anehnya, saat ini sudah bergeser dan tercermin dari tokoh-tokoh Islam yang sedikit-dikit marah, bukan ramah. Cara berdakwah yang akhir-akhir ini cenderung memukul bukan merangkul, dan perilaku yang lebih suka menginjak daripda mengajak. Itu semua bisa dihilangkan, resepnya adalah apabila umat Islam dan bangsa ini penuh bersiakap tawadhu’ untuk meraih kemenangan sejati.

Janganlah kita merasa hina bersikap tawadhu’ dalam berhubungan sesama manusia, sikap tawadhu tidak akan menurunkan derajat manusia. Bahkan, Nabi Muhammda SAW telah bersabda : man tawadhoa lillah, warafahullah; waman takabbara wadhaa’hullah : (barang siapa tawadhu’ karena Alah, maka Allah akan meninggikannya; dan barang siapa sombong, maka Allah akan merendahkannya).

Lalu, mengapa kita takut bersikap tawadhu’, dan mengapa kita mempertahankan kesombongan? Wahai manusia, kamu itu siapa, apa yang kamu sombongkan !

Selamat Idul Fithri 1441 H, semoga kita meraih kemenangan maghfirah dan ridho Allah SWT. Mohon maaf lahir batin.

Oleh : Ali Masykur Musa

Penulis adalah Ketua Umum PP ISNU, dan Mursyid Thariqah Naqshabandiyah Khalidiyah, Pondok Pasulukan Al-Masykuriyyah, Condet, Jakarta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini