Penulis di sini akan memberikan pengertian tentang kisah-kisah minor Nabi Muhammad yang jarang diceritakan tentang diri nabi. Pernahkah kita membaca Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sejarah Muhammad Hayatu Muhammad karya Haikal. Martin Lings, Afzalur Rahman, Karen Amstrong, ataupun paling ringan adalah 100 tokoh terkenal di dunia karya Michael H. Hart. Kesemua buku tersebut adalah lautan kisah Muhammad yang dipandang “orisinal” dan bila kita menelaahnya niscaya kisah-kisah tersebut akan hidup dalam diri kita.
Kisah minor inilah yang perlu diungkapkan agar keteladanan Muhammad dapat mengisi pertanyaan “Apakah misi hidup kita?”
Kisah minor bukan berarti kisah tidak berharga, tinggal kita yang memberi harga dari kisah tersebut. Yang terpenting adalah bahwa kehidupan Muhammad adalah kehidupan yang kompleks dan setiap kisah-kisahnya adalah sebuah mata rantai yang membawa diri Muhammad SAW pada misi hidupnya, yaitu kejayaan Islam.
Penulis akan menceritakan kisah minor Muhammad SAW dari Shahih Muslim. Kisah ini sebenarnya kisah yang berates-ratus kali pernah kita dengar, yaitu tentang Muhammad SAW sewaktu menerima wahyu, tetapi ada celah yang tidak pernah disentuh dalam kisah yang diambil hadits ini.
Hadits riwayat Aisyah RA. Nabi Muhammad berkata: Wahyu pertama yang diterima Rasulullah adalah mimpi yang benar. Setiap kali beliau bermimpi, mimpi itu datang bagai terangnya Subuh. Kemudian beliau sering menyendiri. Biasanya beliau menyepi di gua Hira. Di sana, beliau beribadah beberapa malam, sebelum kembali kepada keluarganya (istrinya) dan mempersiapkan bekal untuk itu. kemudian beliau pulang ke Khadijah, mengambil bekal lagi untuk beberapa malam. Hal ini beliau lakukan sampai tiba wahyu datang ketika beliau sedang berada di gua Hira.
Dalam akhir hadits ini ada kisah yang jarang diceritakan kepada umat Islam. “Rasulullah SAW pulang membawa ayat tersebut dalam keadaan gemetar, sehingga beliau masuk ke rumah Khadijah seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Khadijah pun menyelimutinya, hingga gemetarnya hilang.
Kemudian beliau berkata kepada Khadijah, “Hai Khadijah, apa yang telah terjadi denganku?”
Kemudian beliau menceritakan seluruh peristiwa. Beliau berkata “Aku benar-benar khawatir terhadap diriku”.
Khadijah menghibur beliau “jangan begitu, bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan merendahkan selamanya. Demi Allah, Allah akan memuliakanmu, karena kamu mempunyai sifat: 1. Sungguh engkau telah menyambung tali persaudaraan, 2. Engkau jujur dalam berkata, 3. Engkau telah memikul beban orang lain, 4. Engkau sering membantu keperluan orang tak punya, 5. Engkau sering menjamu tamu dan engkau selalu membela kebenaran.”
Dari kisah Nabi Muhammad yang terpenting adalah kisah-kisah tersebut memberi suri tauladan kepada umatnya sehingga kita dapat mengikutinya dengan baik dan dari kisah-kisah tersebut ada keterkaitan yang menjadi mata rantai dari kisah Muhammad yaitu misi hidupnya yang diabdikan sepenuhnya pada kehidupan dan keberlangsungan Islam. Kisah Muhammad adalah kisah yang menyentuh hati, bukan kisah angin lalu yang tanpa manfaat dan pelajaran hidup.
Oleh : Iwan Setiawan
Dosen Universitas Aisyiyah Yogyakarta dan Sekretaris KOKAM Nasional
(Muhammad Saifullah )