Mencari Misi Hidup dari Kisah Nabi Muhammad SAW

Minggu 24 Mei 2020 05:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 23 330 2218559 mencari-misi-hidup-dari-kisah-nabi-muhammad-saw-5mPWTSCZgh.jpg

Ramadhan sudah berakhir. Selama satu bulan umat Islam mengisi bulan penuh berkah ini dengan ketulusan beribadah kepada-Nya. Dari ibadah yang tulus, maka akan mencetak manusia-manusia dewasa secara spiritual.

Di Bulan Suci ini, umat Islam diberikan kesempatan untuk berkontemplasi menemukan misi hidup yang sesungguhnya. Salah satunya dengan meneladani kisah Nabi Muhammad SAW yang sering diulas dalam setiap ceramah di bulan Ramadhan.

Rasulullah adalah sosok yang seluruh gerak dan langkahnya adalah kisah luhur yang tiada habis terkikis dan menjadi inspirasi bahkan menjadi hukum ibadah umat Islam. Meskipun demikian ada yang belum kita sadari: percobaan kita untuk menautkan kisah luhur Rasulullah sebagai inspirator pencarian misi hidup.

Sebuah pencarian dari kisah-kisah luhur Rasulullah yang menjadi titik spiritual dengan menggalinya sehingga mampu menjadi pelita dalam pencarian yang berakhir kepada kecintaan kepada Illahi.

Gerbner mengatakan “Manusia adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayai”. Jack Canfield dalam serial buku Chicken Soup yang memukau dan penuh dengan kisah-kisah yang menyentuh hati mampu menggerakkan remaja, orang dewasa, orang tua untuk meneruskan hidup mereka yang sempat “koma” karena: patah hati, sakit kanker, jantung, juga persahabatan yang goyah, keluarga berantakan dll dan kesemua cerita tersebut tak akan habis digali.

Oleh karena itu, jangan sepelekan cerita. Dalam Al-Qur’an pun cerita-cerita memberi hikmah yang luhur. Juga kisah Rasulullah SAW bagi umat Islam adalah sebuah ikon i’tiba, untuk gerak langkah dan ibadah. Dalam al-Qur’an dikatakan

“Dia yang mengutus pada umat yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan membersihkan mereka (dari kekafiran dan kelakuan yang tidak baik) dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumuah: 2)

Inti dari kisah Nabi Muhammad SAW adalah keteladanan. Sering kita dengar kisah-kisah Nabi Muhammad SAW baik waktu kita kecil sewaktu di masjid, salat Jum’at pengajian atau waktu kita mengobrol dengan sahabat.

Namun ada hal yang kurang dari diri kita, mengapa sekarang kisah-kisah agung Muhammad SAW jarang dijadikan suri tauladan dalam kehidupan kita. Sedangkan kisah-kisah inilah yang menggerakkan tabiin ataupun tabiin-tabiin menjadi inspirasi sebagai sebuah agama yang mampu menancapkan pancang kebesarannya.

Salah satu sebabnya menurut penulis, pertama kita kurang meresapi apa yang telah diceritakan, yang kedua kisah-kisah tersebut terlalu sering diceritakan kepada kita sehingga kita mendengar cerita-cerita agung Muhammad SAW dengan abai. Sebenarnya kebosanan kita disebabkan karena kisah-kisah yang diceritakan oleh da’i, khatib, muballigh hanya itu-itu saja dan kurang menautkan kisah-kisah tersebut dengan diri pendengar, sehingga relevasi pada kehidupan kita sangat kurang.

Penulis di sini akan memberikan pengertian tentang kisah-kisah minor Nabi Muhammad yang jarang diceritakan tentang diri nabi. Pernahkah kita membaca Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sejarah Muhammad Hayatu Muhammad karya Haikal. Martin Lings, Afzalur Rahman, Karen Amstrong, ataupun paling ringan adalah 100 tokoh terkenal di dunia karya Michael H. Hart. Kesemua buku tersebut adalah lautan kisah Muhammad yang dipandang “orisinal” dan bila kita menelaahnya niscaya kisah-kisah tersebut akan hidup dalam diri kita.

Kisah minor inilah yang perlu diungkapkan agar keteladanan Muhammad dapat mengisi pertanyaan “Apakah misi hidup kita?”

Kisah minor bukan berarti kisah tidak berharga, tinggal kita yang memberi harga dari kisah tersebut. Yang terpenting adalah bahwa kehidupan Muhammad adalah kehidupan yang kompleks dan setiap kisah-kisahnya adalah sebuah mata rantai yang membawa diri Muhammad SAW pada misi hidupnya, yaitu kejayaan Islam.

Penulis akan menceritakan kisah minor Muhammad SAW dari Shahih Muslim. Kisah ini sebenarnya kisah yang berates-ratus kali pernah kita dengar, yaitu tentang Muhammad SAW sewaktu menerima wahyu, tetapi ada celah yang tidak pernah disentuh dalam kisah yang diambil hadits ini.

Hadits riwayat Aisyah RA. Nabi Muhammad berkata: Wahyu pertama yang diterima Rasulullah adalah mimpi yang benar. Setiap kali beliau bermimpi, mimpi itu datang bagai terangnya Subuh. Kemudian beliau sering menyendiri. Biasanya beliau menyepi di gua Hira. Di sana, beliau beribadah beberapa malam, sebelum kembali kepada keluarganya (istrinya) dan mempersiapkan bekal untuk itu. kemudian beliau pulang ke Khadijah, mengambil bekal lagi untuk beberapa malam. Hal ini beliau lakukan sampai tiba wahyu datang ketika beliau sedang berada di gua Hira.

Dalam akhir hadits ini ada kisah yang jarang diceritakan kepada umat Islam. “Rasulullah SAW pulang membawa ayat tersebut dalam keadaan gemetar, sehingga beliau masuk ke rumah Khadijah seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Khadijah pun menyelimutinya, hingga gemetarnya hilang.

Kemudian beliau berkata kepada Khadijah, “Hai Khadijah, apa yang telah terjadi denganku?”

Kemudian beliau menceritakan seluruh peristiwa. Beliau berkata “Aku benar-benar khawatir terhadap diriku”.

Khadijah menghibur beliau “jangan begitu, bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan merendahkan selamanya. Demi Allah, Allah akan memuliakanmu, karena kamu mempunyai sifat: 1. Sungguh engkau telah menyambung tali persaudaraan, 2. Engkau jujur dalam berkata, 3. Engkau telah memikul beban orang lain, 4. Engkau sering membantu keperluan orang tak punya, 5. Engkau sering menjamu tamu dan engkau selalu membela kebenaran.”

Dari kisah Nabi Muhammad yang terpenting adalah kisah-kisah tersebut memberi suri tauladan kepada umatnya sehingga kita dapat mengikutinya dengan baik dan dari kisah-kisah tersebut ada keterkaitan yang menjadi mata rantai dari kisah Muhammad yaitu misi hidupnya yang diabdikan sepenuhnya pada kehidupan dan keberlangsungan Islam. Kisah Muhammad adalah kisah yang menyentuh hati, bukan kisah angin lalu yang tanpa manfaat dan pelajaran hidup.

Oleh : Iwan Setiawan

Dosen Universitas Aisyiyah Yogyakarta dan Sekretaris KOKAM Nasional

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini