Malaikat Menangisi Kepergian Ramadhan

Rizka Diputra, Jurnalis · Sabtu 23 Mei 2020 21:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 23 614 2218543 malaikat-menangisi-kepergian-ramadhan-j6WkdP0ilj.JPG Ilustrasi (Foto: Ist)

WAKTU berlalu begitu cepat. Ramadhan sebentar lagi pergi meninggalkan kita. Namun, jika dilihat di sekeliling kita, masyarakat justru disibukkan dengan hiruk pikuk menyambut Idul Fitri. Pasar dan pusat perbelanjaan mulai padat dengan manusia jelang hari raya. Seolah mereka telah benar-benar siap menyambut hari kemenangan.

Jika manusia senang menyambut hari raya Idul Fitri, tidak demikian halnya dengan malaikat. Makhluk mulia ciptaan Allah SWT yang senantiasa bertasbih memuji-Nya dan diciptakan hanya untuk menghamba kepada-Nya semata.

Malaikat yang waktunya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah, begitu sedih menyaksikan kepergian bulan suci Ramadhan. Apa sebab?

Baca juga: Doa Rasulullah di Penghujung Ramadhan

Melansir dari laman JATMAN, malaikat bersedih atas kepergian Ramadhan lantaran begitu sayangnya kepada umat Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana dalam haditsnya: Dari Jabir RA dari Rasulullah SAW bersabda:

"Ketika datang akhir malam bulan Ramadhan, langit-langit dan bumi, para malaikat menangis karena merupakan musibah bagi umat Muhammad SAW. Rasul pun ditanya; musibah apa itu yaa Rasulullah? Rasulullah menjawab: lenyaplah bulan Ramadhan karena sesungguhnya doa-doa di bulan Ramadhan dikabulkan, dan sedekah diterima, kebaikan dilipatgandakan, dan adzab (siksa) ditolak,".

Ilustrasi

Saking mulianya bulan Ramadhan yang dianugerahkan kepada umat Nabi Muhammad SAW, di dalamnya terdapat suatu malam yang menyimpan pahala berlipat ganda, berupa kebaikan yang setara dengan seribu bulan yaitu lailatul qadar.

Sehingga layak dikatakan jika langit dan bumi pun menangis menyaksikan kepergian bulan Ramadhan, karena cintanya kepada umat Rasulullah SAW.

Baca juga: Gus Syauqi Ma'ruf Amin: Jangan Sia-Siakan 10 Hari Terakhir Ramadhan

Betapa tidak, selama bulan suci penuh berkah ini, dosa-dosa diampunkan dan pintu taubat dibuka lebar-lebar. Sebagaimana kata Rasulullah SAW dalam sabdanya:

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan karena Allah maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (HR. Bukhari-Muslim).

Memasuki akhir Ramadhan, yang seharusnya bersedih ialah kita sebagai umat Nabi Muhammad karena telah kehilangan bulan penuh kemuliaan dan ampunan. Sebuah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang belum tentu dapat kita raih pada tahun-tahun berikutnya.

Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Sekiranya umatku ini mengetahui kebaikan di bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar sepanjang tahun ini semuanya menjadi Ramadhan,” (HR. Ahmad).

Perasaan gembira di akhir Ramadhan jelas menunjukkan bahwa kita masih belum memahami arti kebaikan dan kemuliaan bulan suci Ramadhan. Semoga ke depan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW senantiasa memperbaiki diri dan bersiap menyambut bulan Ramadhan berikutnya, tentunya dengan bersungguh-sungguh beribadah semata-mata untuk mengharap ridho-Nya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini