MOMEN Lebaran disambut dengan penuh sukacita oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di dalam negeri sendiri hari raya Idul Fitri rasanya tidak bisa lepas dari tradisi baju baru.
Bagi sebagian orang, berlebaran tanpa baju baru rasanya kurang afdal. Malah bagi anak-anak, Lebaran sama dengan waktunya memakai baju baru.
Tidak dimungkiri menjelang berakhirnya Ramadhan yang padat bukanlah masjid sebagai tempat ibadah, namun pusat-pusat perbelanjaan.
Melihat kondisi yang ada di masyarakat ini, CEO dan Founder Santri Motivator School Ustadz Asroni Al Paroya menyatakan juga bingung apakah ini menjadi tradisi yang sudah menempel di sebagian besar masyarakat Tanah Air.
"Selama ini yang biasa kita lihat dalam masyarakat kita bahwa menjelang hari raya khususnya, Idul Fitri, kita lebih banyak memadatkan mal-mal atau tempat pembelanjaan daripada masjid-masjid. Kita tidak tahu ya apakah ini sebuah tradisi atau budaya yang sudah melekat dalam diri masyarakat kita atau seperti apa?" jelas Ustadz Asroni saat dihubungi Okezone, Jumat 22 Mei 2020.
Pakaian sendiri memiliki tiga fungsi sebagaimana disebutkan di dalam kitab suci Alquran yakni Surah An-Nuur Ayat 58, Al-A’raf Ayat 26, dan An-Nahl Ayat 81.
Pertama, pakaian sebagai penutup aurat; kedua, pakaian sebagai perhiasan; dan ketiga, pakaian sebagai pelindung dari panas dan hujan juga dari serangan musuh.
Menengok ke zaman Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tentang baju Lebaran, diketahui dahulu Sayyidah Fatimah, putri Nabi, sempat bersedih.
Ia merasa sedih karena kala itu tidak bisa membelikan busana baru untuk Lebaran bagi kedua putra tercintanya yakni Hasan bin Ali dan Husain bin Ali.
Hasan dan Husain yang masih belia, wajar merasa sedih jika tak memakai baju baru saat Lebaran tiba.
Kesedihan dua cucu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ini semakin bertambah tatkala mengetahui bahwa hanya mereka berdua yang tidak memakai baju baru saat Lebaran tiba. Sedangkan anak-anak di seantero Madinah sudah bersiap menyambut Idul Fitri dengan busana terbaru terbaiknya masing-masing.
Kedua anak kecil yang polos tersebut pun bertanya kepada sang ibu, kenapa mereka berdua tidak mempunyai baju baru untuk dipakai di hari raya Idul Fitri, padahal sebentar lagi sudah Lebaran.
Ditanya kedua anaknya, Fatimah saat itu hanya bisa menjawab bahwa baju Lebaran keduanya masih berada di tukang jahit untuk dibuat.
Sebagai ibu, Fatimah hanya bisa menitikkan air matanya karena begitu bersedih, sebab nyatanya ia tak punya uang untuk membeli baju Lebaran untuk Hasan dan Husain. Tapi tentu saja pertolongan Allah Subhanahu wa ta'ala untuk hamba-Nya selalu ada.
Tahukah Anda saat Fatimah menangis di rumahnya saat itu, tiba-tiba seorang tamu yang menyebutkan dirinya sebagai tukang jahit datang mengetuk pintu rumah Fatimah dan memberikan bingkisan berisi pakaian sebagai hadiah untuk kedua putranya.
Tak kenal dengan sang tamu misterius tersebut, Fatimah pun kebingungan. Kemudian ia membuka bingkisan tersebut dan di dalamnya terdapat dua setelan busana gamis, dua potong celana, dua mantel, dua sorban dan dua pasang sepatu hitam yang semuanya terlihat indah.
Melihat dua setelan pakaian lengkap ini, Fatimah langsung bergembira dan mengucap syukur.
Tidak lama kemudian, Rasulullah Shalallallahu alaihi wa sallam berkunjung ke rumah Fatimah lalu melihat kedua cucunya sudah rapi dan begitu tampan memakai baju baru yang indah.
Rasulullah Shalallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada sang putri, apakah ia sempat melihat sang tukang jahit tersebut. Fatimah menjawab melihat dengan jelas.
Ternyata sang tamu misterius yang menyebut dirinya sebagai tukang jahit itu disebutkan oleh Rasulullah Shalallallahu alaihi wa sallam sebenarnya adalah Malaikat Ridwan yang bertugas sebagai penjaga surga.
Berbahagia menyambut hari raya Idul Fitri yang sudah di depan mata, salah satunya dengan sibuk mempersiapkan baju baru?
Ustadz Asroni mengingatkan, terlepas dari soal baju Lebaran, kita sebagai umat Islam di momen Idul Fitri ini justru harus memahami esensinya, yakni kembali ke fitrah.
"Yang perlu kita pahami adalah hakikat Idul Fitri yaitu kembali ke fitrah. Kembali ke keasliannya diri kita sebagai manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala. Keasliannya yakni kita diciptakan di muka bumi ini sebagai manusia yang bersih tanpa dosa," jelasnya.
"Begitulah ibaratnya kita ketika di Idul Fitri, dalam kaitannya dengan baju Lebaran, ada Maqolah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang berbunyi, 'Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru, akan tetapi hari raya bagi mereka yang takut terhadap hari pembalasan," tutup Ustadz Asroni.
(Hantoro)