Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Rasulullah Nikahi Aisyah di Bulan Syawal, Mendobrak Tradisi Bulan Sial

Novie Fauziah , Jurnalis-Rabu, 27 Mei 2020 |20:02 WIB
Kisah Rasulullah Nikahi Aisyah di Bulan Syawal, Mendobrak Tradisi Bulan Sial
Ilustrasi Bulan Syawal (Foto: Ist)
A
A
A

SITI Aisyah binti Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anha (ra), merupakan salah satu perempuan paling beruntung yang dinikahi oleh Rasulullah SAW, yakni setelah pernikahannya dengan Saudah binti Zam’ah bin Qois RA.

Dikutip dari laman Sindonews, kala itu pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah terjadi pada bulan Syawal tahun 11, setelah kenabian atau tepatnya dua tahun lima bulan setelah peristiwa hijrah.

Sayyidah Aisyah dinikahi Nabi ketika masih berusia 6 tahun. Seperti dalam salah satu riwayat hadits dari Aisyah ra, Rasulullah bersabda:

تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وبنى بي وأنا بنت تسع سنين

Artinya: "Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku ketika aku berusia 6 tahun. Dan beliau kumpul bersamaku ketika aku berusia 9 tahun." (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca juga: Puasa Syawal dan Utang Ramadhan, Bolehkah Digabung?

Sementara menurut menurut Abbas Mahmud Aqqad, dalam "Aṣ-Ṣiddīqah binti aṣ-Ṣiddīq”, saat itu umur Siti Aisyah ketika berbulan madu dengan Nabi Muhammad tidak kurang dari 12 tahun dan tak lebih dari 15 tahun.

Ilustrasi

Hal tersebut diperkuat dengan riwayat Ibnu Sa’ad, yang menerangkan bahwa Sayyidah Aisyah dilamar Nabi pada usia 9 tahun, dan bulan madu pada usia sudah menginjak baligh (15 tahun). Ketika itu, maharnya 400 dirham.

Pernikahan Siti Aisyah dengan Nabi Muhammad SAW inilah yang mematahkan mistos, bahwa Syawal merupakan bulan sial. Terutama bagi yang akan menikah, beberapa tradisi memberi banyak pantangan pada bulan tersebut.

Baca juga: 5 Keutamaan Puasa Syawal, Penyempurna Ibadah Wajib

"Kalau di wilayah Nusantara, mitos-mitos seputar hindari pernikahan di bulan-bulan tertentu diduga kuat terjadi jauh setelah masa Nabi. Namun demikian, seluruh peristiwa yang dicontohkan Nabi Muhammad menjadi barometer untuk umatnya di lintas wilayah dan zaman," ujar Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), KH. Sirril Wafa saat dihubungi Okezone, Rabu (27/5/2020).

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement