Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Istigfar Mengantarkan Penjual Roti Bertemu Imam Hambali

Istigfar Mengantarkan Penjual Roti Bertemu Imam Hambali
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
A
A
A

IMAM Ahmad bin Hanbal Radhiallahu anhu merupakan murid Imam Syafii. Ia dikenal juga sebagai Imam Hambali. Di masa akhir hidup, Imam Hambali ingin sekali menuju ke salah satu kota di Irak. Padahal, tidak ada janji dengan seseorang dan tidak ada hajat.

Mengutip dari iNews.id, Sabtu (30/5/2020), akhirnya Imam Hambali pergi sendiri menuju ke Kota Bashrah. Saat tiba di sana sudah masuk waktu Isya'. Imam Hambali pun ikut sholat berjamaah Isya di masjid.

Selepas salat, Imam Hambali merasa hatinya tenang dan kemudian beristirahat. Begitu selesai sholat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba marbot masjid datang menemui Imam Hambali sambil bertanya, "Kenapa syaikh (orang tua), mau ngapain di sini?"

Marbot tidak tahu kalau orang yang ditanya adalah ulama ahli fikih dan hadis, Imam Ahmad bin Hambal. Berkat tawadhu atau rendah hatinya, Imam Hambali tidak memperkenalkan siapa dirinya.

Padahal, semua orang di Irak kenal siapa Imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadis, sejuta hadis dihafalnya, sangat salih dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tahu wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

Imam Hambali kemudian berkata, "Saya ingin istirahat, saya musafir". Marbot pun menyahut, "Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid. Imam Hambali lalu didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid. Setelah keluar masjid, maka dikuncilah pintu masjid.

Imam Hambali kemudian bermaksud tidur di teras masjid. Namun ketika sudah berbaring di teras masjid, marbot datang lagi, marah-marah kepadanya.

"Mau ngapain lagi syaikh?" kata marbot.

"Mau tidur, saya musafir" kata Imam Hambali.

Lalu marbot berkata, "Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh."

Imam Hambali diusir. Ia bercerita, "Saya didorong-dorong sampai jalanan."

Di samping masjid ada penjual roti, rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti. Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Hambali didorong-dorong oleh marbot tadi.

Saat Imam Hambali sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, "Mari syaikh, Anda boleh nginap di tempat saya. Saya punya tempat, meskipun kecil."

Kata Imam Hambali, "Baik."

Ia lalu masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti, dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya menyatakan sebagai musafir.

Penjual roti ini punya perilaku unik. Kalau Imam Hambali mengajak berbicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, astaghfirullah.

Saat meletakkan garam, astaghfirullah. Memecahkan telur, astaghfirullah. Mencampur gandum, astaghfirullah. Selalu mengucap istighfar.

Imam hambali memerhatikan terus. Lalu ia bertanya, "Sudah berapa lama kamu lakukan ini?"

Orang itu menjawab, "Sudah lama sekali syaikh. Saya menjual roti sudah 30 tahun. Jadi semenjak itu saya lakukan."

Imam Hambali bertanya, "Apa hasil dari perbuatanmu ini?"

Orang itu menjawab, "(Lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. semua yang saya minta ya Allah ..., langsung diterima."

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement