Masjid Tiban, Mitos Obat Sakit Gigi dan Kisah Penyebaran Islam di Wonogiri

Selasa 02 Juni 2020 16:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 02 615 2223300 masjid-tiban-mitos-obat-sakit-gigi-dan-kisah-penyebaran-islam-di-wonogiri-qkTwiBf959.jpg Alquran peninggalan Kiai Nur Muhammad di Masjid Tiban Tempurkali Wonogiri. (Foto: Istimewa/Solopos)

DI Dusun Tempurkali, Desa Bulurejo, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, terdapat sebuah masjid bersejarah. Rumah ibadah tersebut menjadi bukti sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Wonogiri Selatan.

Masyarakat sekitar menyebutnya dengan Masjid Ar-Rahman, atau lebih sering dikenal dengan sebutan Masjid Tiban Tempurkali. Masjid tersebut menyimpan bukti sejarah perjuangan ulama dalam menyebarkan Islam.

Saat Ramadhan lalu, salah seorang tokoh agama di Kecamatan Baturetno, Wonogiri, Deddy al Jawi; dan tokoh agama atau sesepuh di Tempurkali, Mulyono; mengkaji asal muasal Masjid Tiban Tempurkali.

Berdasarkan cerita masyarakat dan keterangan sejumlah tokoh agama setempat, keberadaan masjid ini tidak lepas dari peran tokoh penyebar agama Islam di Wonogiri Selatan yakni Kiai Nur Muhammad Balepanjang. Balepanjang sendiri merupakan nama desa di Baturetno yang terdapat makam Kiai Nur Muhammad.

Ia mengatakan, Masjid Tiban Tempurkali didirikan oleh salah seorang santri dari Kiai Nur Muhammad yakni Kiai Zein.

"Kiai Zein merupakan santri yang disenangi atau dikasihi Kiai Nur Muhammad. Ia diperintahkan berdakwah ke wilayah Giriwoyo bagian timur. Karena Kiai Zein dianggap sudah mempunyai ilmu agama yang mumpuni," kata Deddy, dikutip dari Solopos, Selasa (2/6/2020).

Ketika melakukan perjalanan ke Giriwoyo bagian timur, Kiai Zein menyusuri aliran Sungai Pakem, pembatas wilayah Kecamatan Giriwoyo dengan Kecamatan Baturetno. Kiai Zein juga dibekali kitab suci Alquran dan kayu oleh Kiai Nur Muhammad. Kayu tersebut dimaksudkan untuk digunakan membangun masjid.

Selama beberapa hari menelusuri sungai, Kiai Zein tiba di suatu wilayah. Tempat tersebut merupakan pertemuan antara dua aliran sungai. Kemudian wilayah tersebut dinamakan Tempurkali, dan saat ini menjadi nama dusun. Di tempat tersebut, Kiai Zein mendirikan masjid dengan kayu yang dibekali Kiai Nur Muhammad. Masjid itu lantas digunakan untuk berdakwah Islam.

Dalam pendirian masjid, tidak ada warga sekitar yang mengetahui proses pembangunannya. Pada malam hari warga hanya mendengar suara orang yang sedang menatah kayu. Paginya warga menyaksikan telah berdiri sebuah masjid di tempat tersebut. Maka warga menyebutnya dengan masjid tiban, karena tiba-tiba ada masjid.

Diperkirakan masjid tersebut dibangun pada 1728. Tetapi, sebagian bangunan masjid sudah direnovasi dan penambahan fasilitas seperti tempat untuk Taman Pendidikan Alquran (TPA) pada 1980. Sedangkan kerangka atas dan tiang penyangga masjid masih utuh atau asli.

Sejarah penyebaran Islam di Tempurkali diperkuat dengan adanya peninggalan Alquran. Kitab suci tersebut terbuat dari kulit sapi dan ditulis dengan tangan oleh Kiai Nur Muhammad. Di bagian sampulnya tertera tulisan tahun 1700 Masehi.

"Saat ini Alquran tersebut masih tersimpan dan dibungkus menggunakan dua lapis kain, yaitu kain kafan putih dan kain berwana merah. Kitab tersebut berukuran sebesar stopmap. Setiap ayat yang ditulis tangan menggunkan arab pegon (arab jawa)" jelas Deddy.

Sementara warga juga meyakini bahwa beduk peninggalan Kiai Zein mempunyai kesakralan. Jika ada warga yang mengalami sakit gigi, dengan hanya mencuil sebagian kayu beduk, kemudian digigit pakai gigi yang sakit maka akan sembuh.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini