KETIKA bulan suci Ramadhan lalu di sepanjang Jalan KH Mas Mansyur, tepatnya di Kampung Arab Surabaya, Jawa Timur, tampak orang-orang membeli takjil atau makanan berbuka puasa. Namun tahun ini tidak seramai sebelumnya.
Tidak ada kerumunan berlebihan di sekitar kios-kios makanan Ramadhan yang menjual makanan khas Arab yang terkenal.
"Dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ada karena pandemi virus corona (covid-19, kami tidak menggelar perayaan seperti tahun-tahun sebelumnya," kata Abdullah Albatati, warga Kampung Arab sekaligus kepala Komunitas Arab di Kota Surabaya, dikutip dari Arabnews, Senin (8/6/2020).
"Beberapa warung makan hanya melayani pelanggan lokal. Restoran-restoran ala Timur Tengah hanya dibuka untuk pesan antar. Jadi orang-orang datang, membeli, dan kemudian pergi," tambahnya.
Salah satu tempat paling menarik di Surabaya dalah Kampung Arab. Di sana tersisa peninggalan atau asal-usulnya sebagai pusat perdagangan Arab.
Toko-toko yang berjajar di setiap jalan dan gang menyandang nama seperti Nabawi, As Salam, Khadija, Al Huda, Al Hidayah, dan Zamzam. Mereka menjual parfum, kurma, pistachio, tasbih, dan perlengkapan lainnya.
Salah satu toko tertua di jalan itu adalah Salim Nabhan. Ini merupakan toko buku dan penerbit literatur Muslim yang didirikan pada 1908. Toko Salim Nabhan masih mencetak beberapa buku dalam bahasa Arab untuk siswa sekolah Islam yang mempelajari bahasa Arab.
Sementara Abdurrahman Hasan al Haddad, pemilik Toko Zamzam, adalah keturunan Arab generasi kelima atau keenam, seperti halnya Abdullah Albatati. Nenek moyang mereka bermigrasi dari Hadhramaut di Yaman pada abad 19 ke kota-kota di sepanjang pantai utara Pulau Jawa dan pulau-pulau lain di seluruh kepulauan Hindia Belanda, dan saat itu untuk menetap di Surabaya.
Kampung Arab Surabaya yang berada di kawasan Ampel, Kecamatan Semampir, tercatat memiliki komunitas dengan jumlah terbanyak di Indonesia. Mereka menjadi mayoritas dibandingkan kelompok etnis lain seperti Jawa, Madura dari Pulau Madura, Bugis dari Pulau Sulawesi, atau Melayu yang bermigrasi dan keturunannya sekarang tinggal di Ampel.
"Sebagai salah satu kelompok etnis di Indonesia, kami masih mempertahankan adat Arab kami, tetapi itu tidak pernah membuat kami merasa beda atau kurang Indonesia, Jawa, atau Surabaya," kata Albatati saat berbincang dengan temannya Al Haddad tentang keputusan pindah toko.
Mereka mampu berkomunikasi dalam campuran tiga bahasa yakni Indonesia, Jawa, dan Arab.
"Ada beberapa kata Arab yang telah diintegrasikan ke dalam dialek Jawa dan bahasa Indonesia. Kemudian diucapkan tidak hanya oleh orang Arab, tetapi juga oleh kelompok etnis lain di wilayah ini," katanya.