Kembali Dibuka, Ini 5 Destinasi Wisata Religi di Banda Aceh

Salman Mardira, Jurnalis · Rabu 17 Juni 2020 12:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 17 615 2231511 kembali-dibuka-ini-5-destinasi-wisata-religi-di-banda-aceh-6GmaNDtNTV.jpg Masjid Raya Baiturrahman di pusat Kota Banda Aceh (Foto Hafid Junaidi/bandacaehkota.go.id)

PEMERINTAH Kota Banda Aceh kembali membuka objek wisata untuk dikunjungi wisatawan, setelah sempat ditutup karena wabah virus corona. Sejumlah tempat wisata dibuka mulai 10 Juni 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

“Kami sudah mulai membuka kembali objek wisata, dengan harapan akan ada kunjungan wisatawan domestik yang akan menggairahkan ekonomi masyarakat,” kata Kepala Dinas Pariwisata Banda Aceh, Iskandar.

Pengunjung objek wisata diwajibkan mengenakan masker dan jumlahnya dibatasi agar jangan sampai berkerumun.

Baca juga: Aceh Bisa Lobi Arab Saudi untuk Dapat Kuota Haji Sendiri

Sebagai Ibu Kota Provinsi berjuluk Serambi Makkah, Banda Aceh memiliki sederet objek wisata religi yang sering dikunjungi turis maupun peziarah.

Berikut lima destinasi wisata religi di Banda Aceh dirangkum Okezone:

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid yang terletak di pusat Kota Banda Aceh ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Arsitekturnya yang unik bercorak campuran Eropa, Timur Tengah dan Persia. Memiliki tujuh kubah dan empat menara, plus satu menara induk.

Baca juga: Masjid Baiturrahman, Destinasi Religi Favorit di Ujung Sumatera

Masjid ini sudah ada sejak abad ke 16 Masehi. Ia menjadi saksi sejarah kejamnya perang, dahsyatnya tsunami dan eforia damai. Di halaman masjid terhampar taman yang cantik dan berdiri payung-payung elektrik ala Masjid Nabawi.

ilustrasi

Masjid Raya Baiturrahman sebelum pembangunan payung elektrik (Okezone.com/Salman Mardira)

Masjid Raya Baiturahman adalah simbol semangat perjuangan masyarakat Aceh yang kini jadi ikon wisata. Jadi jika ke Aceh belum lengkap rasanya kalau belum menginjakkan kaki ke masjid ini.

Masjid Baiturrahim

Masjid ini terletak di Ulee Lheu, Banda Aceh, sekitar 4 kilometer dari Masjid Raya Baiturrahman. Seperti halnya Baiturrahman, Masjid Baiturrahim juga peninggalan Kesultanan Aceh. Letaknya hanya terpaut puluhan meter dari bibir pantai Ulee Lheu.

Saat tsunami menerjang Aceh pada Minggu 26 Desember 2004, Masjid Baiturrahim selamat. Tak banyak mengalami kerusakan, sementara bangunan di sekelilingnya rata dengan tanah disapu gelombang pembunuh.

ilustrasi

Masjid Baiturrahim, Ulee Lheu, Banda Aceh (Okezone.com/Salman Mardira) 

Sekarang foto-foto peristiwa tsunami dibuat jadi galeri di Masjid Baiturrahman, sebagai pengingat sekaligus jadi daya tarik bagi pengunjung.

Baca juga: Kisah Ajaib di Masjid Baiturrahim Saat Tsunami Aceh

Masjid Baiturrahim juga menjadi saksi bisu perang Aceh. Masjid ini dulunya jadi basis pertahanan pasukan Aceh saat melawan Belanda.

Masjid Teungku Di Anjong

Masjid Teungku Di Anjong letaknya di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

Masjid itu dibangun pada 1769 oleh Sayyid Abubakar bin Husaien Bilfaqih, ulama besar asal Hadramaut, Yaman. Ia mengembara ke Asia Tenggara dan menetap di Aceh, mensyiarkankan Islam. Sayyid Abubakar diberi gelar Teungku di Anjong oleh masyarakat Aceh.

Selain masjid, di kompleks itu dulu juga dibangun dayah atau pesantren oleh Teungku di Anjong. Banyak pelajar dari Nusantara bahkan Malaysia belajar Islam ke sana.

ilustrasi

Masjid Teungku Di Anjong, Banda Aceh (Okezone.com/Salman Mardira)

Pada musim haji, jamaah dari berbagai daerah di nusantara, sebelum bertolak ke Arab Saudi dengan kapal, singgah dulu di Masjid Teungku di Anjong untuk belajar manasik haji yang dibimbing oleh beliau bersama muridnya. Peristiwa itulah diyakini yang membuat Aceh dijuluki sebagai Serambi Makkah.

Saat agresi militer Belanda Aceh, Masjid Teungku di Anjong jadi salah satu basis pertahanan pasukan Aceh.

Baca juga: Riwayat Masjid Teungku di Anjong dan Asal Mula Aceh Berjuluk Serambi Makkah

Masjid Teungku di Anjong yang berkonstruksi kayu saat itu sempat hancur disapu tsunami pada 26 Desember 2004. Kemudian dibangun kembali dengan konstruksi beton dan arsitekturnya dibentuk menyerupai bangunan sebelumnya yakni dengan kubah segitiga bertingkat.

Di samping masjid ini juga ada makam Teungku di Anjong bersama istrinya. Tiap tahun selalu digelar haul, mengenang mangkatnya Teungku di Anjong. Haul bukan hanya dihadiri masyarakat Aceh, tapi juga para keturunan-keturunan habib dan sayid dari berbagai daerah.

Makam Sultan Iskandar Muda

Makam Sultan Iskandar Muda terletak di samping Meuligoe atau Pendopo Gubernur Aceh di Banda Aceh. Iskandar Muda memimpin Kesultanan Aceh Darussalam periode 1607-1636 Masehi. Ia dikenal sebagai raja yang agung penguaya dunia Melayu. Pada masa kepemimpinan, Aceh mencapai puncak kejayaan. Diakui dunia sebagai satu dari lima kerajaan Islam terkuat dan terbesar saat itu bersama Kesultanan Ottoman Turki, Kesultanan Syafawiyah di Persia, dan Kesultanan Moghul di India.

Saat itu, Aceh memiliki kapal perang induk bernama Cakradonya. Portugis yang kewalahan saat berhadapan dengan Aceh kala itu menjuluki kapal Cakradonya sebagai Espanto del Mundo alias Teror Dunia.

ilustrasi

Makam Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh (Okezone.com/Salman Mardira)

Wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh masa Iskandar Muda adalah sebagian Sumatera hingga semenjung Malaysia. Di bawah kepemimpinan Iskandar Muda juga, Aceh pernah menaklukkan Kerajaan Pahang dan putri raja Pahang kemudian dijadikan tawanan lalu dinikahi oleh Iskandar Muda.

Baca juga: Hikayat Raja Perkasa Penguasa Negeri Bawah Angin

Nama besar Iskandar Muda yang melegenda, menyedot para wisatawan berziarah ke makamnya. Sultan Iskandar Muda kini dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Namanya diabadikan pada beberapa jalan di Tanah Air dan bandara terbesar di Aceh.

Makam Syiah Kuala

Makam Syiah Kuala juga jadi salah satu objek religi yang sering diziarahi orang-orang. Letaknya di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, hanya tepaut puluhan meter dari bibir pantai.

Teungku Syiah Kuala adalah nama julukan dari Syekh Abdurrauf bin Ali Alfansuri as-Singkili, ulama besar Aceh yang masyhur hingga Asia Tenggara dengan kealiman dan ilmu-ilmunya.

Menurut riwayat, Teungku Syiah Kuala hidup pada 1591-1696 Masehi. Ia pernah belajar Islam ke Arab Saudi, kemudian kembali ke Aceh menyiarkan agama Allah. Ia mendirikan dayah atau pondok pesantren di Deah Raya, pelajar dari berbagai daerah termasuk luar negara datang berguru padanya.

ilustrasi

Makam Teungku Syiah Kuala di Banda Aceh (Okezone.com/Salman Mardira)

Selain sebagai ulama, Syiah Kuala juga diangkat menjadi Kadhi Malikul Adil atau hakim agung Kesultanan Aceh selama 59 tahun. Jabatan itu diembannya pada masa kepemimpinan empat ratu, yakni Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1645 M), Sultanah Naqiatuddin Syah (1675-1678 M), Sultanah Zakiatuddin Syah (1678-1688 M) dan Sultanah Kamalat Syah (1688-1699 M).

Baca juga: Jejak Teungku Syiah Kuala di Serambi Mekkah

Makam Syiah Kuala pernah diterjang tsunami pada 26 Desember 2004, hingga nisannya sempat berantakan. Kini lokasi tersebut sudah dipugar. Banyak peziarah datang bukan hanya dari Aceh, tapi juga daerah lain seperti Sumatera Barat, Jakarta bahkan luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Arab, Vietnam dan Australia.

Nama besar ulama ini kini ditabalkan di Universitas Syiah Kuala, kampus negeri terbesar di Aceh.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini