Membela Minoritas Adalah Misi Kenabian

Pristia Astari, Jurnalis · Selasa 23 Juni 2020 13:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 23 614 2234848 membela-minoritas-adalah-misi-kenabian-kfHiNFQrLn.JPG Umat muslim di Amerika Serikat (Foto: Reuters)

KONFLIK mayoritas dan minoritas menjadi ironi di negara majemuk seperti Indonesia. Masih banyak kelompok yang menganggap golongannya lebih baik dan merasa benar sendiri dari kelompok lain, sehingga melahirkan penindasan.

Namun, perkara mayoritas dan minoritas bukan semata tentang jumlah statistik. Minoritas dapat diartikan mereka yang didominasi dan ditindas, secara politik atau budaya oleh kelompok lain.

Menurut Dr. Ahmad Najib Burhani, tokoh muda Muhammadiyah, minoritas diartikan sebagai kelompok yang lemah (mustadh’afiin). Maka, dapat kita simpulkan bahwa minoritas merupakan bagian dari kaum yang lemah atau dilemahkan.

Sebuah buku berjudul 'Menemani Minoritas' merupakan rekam kiprah Najib saat meneliti kelompok minoritas Ahmadiyah. Seorang peneliti, kata dia, perlu terlibat dalam fenomena sosial yang ditelitinya. “Tidak boleh berhenti sebagai peneliti, dia harus bergerak. Ini yang menggerakkan saya untuk menjadi peneliti yang meneliti dan menemani minoritas," kata Najib.

Baca juga: Siswa Madrasah Tsanawiyah Terbitkan Buku Milenial Travelers

Pemimpin Ponpes Dar Al-Tauhid, Cirebon, KH Husein Muhammad mengatakan, membela minoritas adalah misi profetik (kenabian). Setiap penganut ajaran islam memiliki tugas menjadi penyelamat dan penolong untuk kaum lemah, karena itulah yang diajarkan baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

Dikutip dalam buku 'Wajah Islam Kita' karya Ahmad Sholeh, berdasarkan konsep nation-states, tidak ada yang namanya kaum mayoritas dan minoritas. Adapun Indonesia merupakan nation-states (negara yang beragam bangsa/suku).

Dalam hal ini, negara sejatinya hadir untuk kepentingan ragam-bangsa yang ada di dalamnya. Tidak ada kelompok etnis atau agama yang merasa lebih unggul, paling berkuasa dan mendominasi oleh kelompok lain.

Kiai Husein mengatakan, kita harus mengembangkan nalar moderat. Nalar moderat adalah nalar yang memberikan ruang untuk orang lain atau kelompok lain yang berbeda pendapat.

"Nalar moderat menghargai keyakinan dan pandangan hidup orang lain. Kemudian, tidak menyalahkan pendapat orang lain, dan tidak membenarkan kekerasan dengan memakai nama apapun. Misi Islam merupakan untuk membebaskan manusia dari berbagai penderitaan," kata dia.

Itulah alasan Islam diturunkan ke muka bumi, yakni sebagai rahmat bagi semesta alam. Memperjuangkan kemanusian, kesetaraan hak asasi, adalah implementasi dari ajaran Islam yang mulia.

Oleh karenanya, Islam melalui implementasi ajarannya berperan menemani sekaligus merangkul minoritas agar terbebas dari dominasi kelompok lain, terbebas dari tindakan diskriminasi, dan tentunya dapat hidup dengan aman, tenteram dan nyaman secara berdampingan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini