Protokol Teologis, Pendekatan Khas Pesantren Cegah Covid-19

Yudistira, Jurnalis · Jum'at 26 Juni 2020 14:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 26 614 2236819 protokol-teologis-pendekatan-khas-pesantren-cegah-covid-19-PMfVcqAn3p.jpg Ilustrasi santri. (Foto: Unsplash)

MENJELANG pelaksanaan kenormalan baru (new normal) di tengah pandemi virus corona (covid-19), pemerintah memperbolehkan instansi pendidikan kembali melakukan aktivitas, termasuk pondok pesantren. Kementerian Agama mempersilakan ponpes beraktivitas lagi namun dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan yang ketat.

Sejumah pimpinan pesantren kembali membuka aktivitas belajar-mengajar di daerah masing masing. Ada juga yang masih merencanakan kembali berkegiatanan, mengingat kurva kasus covid-19 belum menurun.

Baca juga: Cara Mendidik Anak saat Pandemi Mengikuti Sunah Rasul 

Kemudian ketika memutuskan kembali beraktivitas, pesantren diharapkan mampu menjalankan pencegahan persebaran covid-19. Mereka bisa melakukannya dengan menerapkan protokol teologis melalui sejumlah amalan, doa, atau wirid yang dapat dilakukan oleh kiai, ustad, serta santri. Ini dinilai dapat menjadi tameng untuk melindung santri dari terinfeksi virus corona.

"Pondok pesantren memiliki pendekatan khas, bukan sekadar mewarisi ilmu agama berdasarkan keyakinan. Ponpes mampu menerima temuan medis berdasarkan pemikiran rasional. Pesantren memiliki dasar teologis dan meyakini doa adalah senjata orang mukmin," ungkap Profesor Dr Tajul Arifin, guru besar pendidikan Universitas Sunan Gunung Djati Bandung, dalam webinar bertema 'Adaptasi Kenormaan Pendidikan Pesantren Pascapandemi', Kamis 25 Juni 2020.

Ilustrasi santri. (Foto: Istimewa)

Ia mengatakan, protokol teologis diyakini mampu melindungi santri/santriwati agar terselamatkan dari virus corona. Kiai di pondok pesantren bisa memimpin doa dan amalan lainnya bersamaan dengan penerapan protokol kesehatan secara medis.

Baca juga: Arab Saudi Apresiasi Indonesia sebagai Negara Pertama Dukung Kebijakan Haji 

Sementara dosen pendidikan agama Islam, Dr Muhammad Zuhdi, mengatakan pimpinan pesantren harus memiliki alasan jelas ketika membuka lagi kegiatan belajar-mengajar. Para kiai wajib menjelaskan secara rasional maupun teologis kepada orangtua bahwa pendidikan pesantren memiliki cara mencegah santri terinfeksi covid-19.

Dia menerangkan, Satuan Tugas Pencegahan Covid-19 dapat diisi ustadz-ustadz di lingkungan ponpes. Lalu memiliki kontak langsung ke sejumlah puskesmas apabila ada santri yang memiliki gejala penyakit. Selanjutnya semua santri dibimbing untuk membersihkan segala fasilitas.

"Tugas satgas mengecek kesehatan santri yang baru datang, mengecek semua fasilitas, dijaga kebersihannya," paparnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Protokol kesehatan yang dikeluarkan Kementrian Agama dinilai akan sangat mampu dilakukan oleh lembaga pendidikan pondok pesantren.

Baca juga: Anies: Bidan Memiliki Sumur Pahala yang Tak Pernah Kering 

Berikut ini ketentuan yang harus dipenuhi masing-masing pesantren ketika memulai aktivitas di era new normal:

1. Membentuk gugus tugas percepatan penanganan covid-19.

2. Memiliki fasilitas yang memenuhi protokol kesehatan.

Ilustrasi virus corona. (Foto: Dok Okezone)

3. Aman covid-19, dibuktikan dengan surat keterangan dari gugus tugas percepatan penanganan covid-19 atau pemerintah daerah setempat.

4. Pimpinan, pengelola, pendidik, dan peserta didik dalam kondisi sehat, dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari fasilitas pelayanan kesehatan setempat.

Baca juga: Dalil-Dalil tentang Pentingnya Berkurban 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya