Sederet Muslimah Penyebar Islam di Inggris yang Terlupakan

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Sabtu 04 Juli 2020 04:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 04 614 2241008 sederet-muslimah-penyebar-islam-di-inggris-yang-terlupakan-7YMW0qAPyf.JPG Kegiatan dakwah Islam di komunitas muslim Inggris tempo dulu (Foto: The Conversation)

TAK banyak yang tahu bahwa para perempuan ini memiliki kontribusi besar dalam komunitas yang membantu mendirikan masjid-masjid di Inggris. Diantaranya adalah dua masjid pertama di Inggris yang didirikan tahun 1889, di Liverpool dan Woking.

Memang, kontribusi perempuan dalam torehan sejarah secara konsisten masih seringkali terlupakan. Seakan hilang sehingga seolah masa lalu menjadi "milik" laki-laki.

Dari dua masjid Inggris yang pertama ada ini, akan diselidiki lebih lanjut mengenai bagaimana kehidupan sehari-hari perempuan di komunitas bersejarah ini. Lebih lanjut akan dijelaskan tentang bagaimana kehidupan serta peran penting perempuan sebagai kontributor dan pemimpin di komunitasnya.

Perempuan dalam komunitas ini biasanya merupakan mualaf kelas menengah, yang mengenal Islam melalui perjalanan, publikasi masjid, atau dari kuliah umum. Mereka berada di tengah lingkungan yang memandang Islam dan muslim seakan stigma negatif, penuh dengan kecurigaan dan cemoohan. Pada masa itu, orang muslim di Inggris dilabeli sebagai "musuh bebuyutan" dan "orang kafir dalam selimut".

Baik di masjid Liverpool ataupun Woking, perempuan diikutsertakan dalam perayaan Idul Fitri, kompetisi debat atau acara lainnya. Para perempuan di masjid Liverpool bahkan juga mengelola rumah untuk anak-anak miskin di kota itu yang didirikan pada Januari 1897.

Baca juga: Mengenal Wanita Kulit Hitam Pelopor Busana Muslimah di Amerika

Mengutip laman The Conversation, pada Januari 1895, bulletin Masjid Liverpool mencatat bahwa Nyonya Zubeida Ali Akbar mendapat kehormatan diperkenalkan di depan Ratu Inggris. Pada 20 Maret 1895, dicatat bahwa Nona Teyba Bilgrami, “seorang perempuan pengikut Muhammad asal Hyberabad”, telah lulus ujian pertama dalam bidang seni di Universitas Madras.

Perempuan memang hampir selalu bertanggung jawab atas sajian dan "hiburan" di acara-acara masjid, termasuk sarapan Natal tahunan yang diselenggarakan oleh Liverpool Moslem Institute. Para perempuan pada awalnya dikecualikan dari komunitas sastra dan debat, karena adanya anggapan bahwa acara tersebut hanya diperuntukkan bagi pria muda. Kemudian pada Maret 1896, untuk pertama kalinya seorang perempuan, Rosa Warren, memberikan ceramah terkait penyair Henry Wadsworth Longfellow.

Artikel-artikel dalam publikasi masjid, yang biasanya ditulis oleh laki-laki, menunjukkan bagaimana patriarki muslim menyatu dengan cara pandang era Victorian dalam memarginalkan perempuan.

Misalnya, puisi yang diterbitkan dalam buletin Masjid Liverpool mencemooh: “Perempuan Baru” yang telah belajar matematika … tahu semua tentang mitologi … pikirannya terlatih dalam sains … tahu semua tanggal sejarah … Bisa berbicara dengan sangat hebat tentang masalah kapasitas, tapi tidak bisa menjahit kancing pada celana adik laki-lakinya.

Namun, jangan salah, ada juga perempuan yang menentang patriarki ini. Seperti halnya Nyonya Nafeesa T. Keep, seorang mualaf yang merupakan pendatang dari Amerika Serikat ke Liverpool. Ia memberikan ceramah tentang Islam dan hak-hak perempuan, menantang pemahaman patriarki tentang Islam, dan stereotip tentang Islam. Ia diangkat sebagai asisten pengawas Medressah-i-iyyum-al-Sebbah, sebuah lembaga yang bertujuan mendidik kaum muda Muslim tentang agama.

Cerita lain datang dari Madame Teresa Griffin Viele (1831-1906), yang mengambil nama muslim Sadika Hanoum. Ia adalah koresponden berita untuk masjid Liverpool; ia menulis “Resume Acara-acara Politik” dalam jurnalnya dari September 1894 hingga April 1895.

Lalu ada Lady Evelyn Zainab Cobbold, seorang mualaf terkemuka dari keluarga bangsawan Inggris, yang menjadi salah satu dari perempuan Eropa pertama yang menunaikan haji ke Makkah. Kisahnya yang luar biasa adalah saat ia pergi haji seorang diri, mengendarai mobil, dan kemudian menuliskan buku tentang pengalamannya yang menjadi buku terlaris pada 1934.

Perempuan lain dalam komunitas ini termasuk Fatima Cates, yang merupakan anggota penting dan bendahara pendiri Liverpool Moslem Institute, badan yang menopang atas dibangunnya masjid pertama di Inggris di kota itu. Sementara itu, seorang perempuan lain, Begum Shah Jahan dari Bhopal, India, menjadi donator atas masjid pertama yang dibangun di Woking. Disini terbukti jelas bahwasanya perempuan memiliki peran utama yang nyata dalam pendirian masjid pertama di Inggris.

Sejarah membuktikan bahwa perempuan berada pada posisi utama atas berdirinya Islam di Inggris. Dengan berbagai cara mereka masing-masing, para perempuan hebat ini begitu tangguh dengan menyabet gelar sebagai pemimpin atau perwakilan. Mereka hidup pada masa yang secara sosial dan budaya sangat berbeda dari muslim Inggris masa kini.

Namun, masalah yang dihadapi para perempuan ini dalam praktik Islam mereka, negosiasi mereka dengan beragam patriarki, dan kehidupan sehari-hari mereka tidak berbeda dengan masalah seputar gender dan kepemimpinan masjid yang masih kerap diperdebatkan saat ini di Inggris.

Dengan menyorot pada sejarah perempuan muslim di Inggris, isu-isu masa kini tampak lebih mungkin dapat diatasi. Para perempuan ini membentuk komunitas muslim pada zamannya, dan sudah sepatutnya peranan mereka dalam sejarah besar ini patut diketahui orang banyak.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini