Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

7 Golongan yang Dinaungi Allah Ta'ala ketika Hari Kiamat

7 Golongan yang Dinaungi Allah Ta'ala ketika Hari Kiamat
Ilustrasi. (Foto: Unsplash)
A
A
A

4. Bersahabat karena Allah Ta'ala

Golongan keempat adalah dua orang yang bersahabat dan saling mencintai karena Allah Subhanahu wa ta'ala, sehingga jika bertemu dan berpisah juga karena Allah Ta'ala. Persahabatan yang demikian jelas berdasarkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Maka mencari sahabat yang senantiasa mengedepankan nilai kebenaran merupakan kebutuhan penting dalam sebuah pergaulan, sebagaimana perintah dalam hadis tersebut.

Sebaliknya sahabat yang tidak lagi mengindahkan nilai kebenaran harus dihindari. Sebab pasti berdampak kepada buruknya pula kehidupan yang berkaitan dengan kualitas spritualitas diri.

Membentuk komunitas pencinta ilmu atau majelis taklim dalam rangka memahami ilmu-ilmu Allah Subhanahu wa ta'ala juga merupakan bagian dari kriteria hadis tersebut. Sepanjang aktivitas di dalamnya dalam rangka di jalan Allah Ta'ala.

Sahabat sejati selalu saling mencintai karena Allah Ta'ala. Bertemu dan berpisah karena Allah Ta'ala. Tidak tergantung dalam kondisi kaya atau miskin, sahabat sejati selalu setia dalam suka dan duka. Saling bahu-membahu dan menopang untuk tetap istikamah di jalan Allah Ta'ala. Apa pun keadaan dan kondisinya.

Baca juga: Berikut Syarat untuk Bisa Melaksanakan Ibadah Haji Tahun Ini 

Hal ini juga tergambar dalam Surah Al-Ashr:

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS Al Ashr: 1–3)

Dalam konteks ayat tersebut, sahabat sejati tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya. Mereka duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Kesedihan yang dialami salah seorang di antaranya menjadi kesedihan sahabatnya. Demikian pula jika terdengar kebahagiaan maka akan membahagiakan bagi lainnya. Sungguh persahabatan yang indah karena Allah Subhanahu wa ta'ala. Maka pantaslah Allah Ta'ala memberikan naungan kepada mereka.

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

5. Menahan Nafsu Syahwat

Golongan kelima adalah seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang perempuan yang cantik dan berharta, tetapi dia menolak. Bahkan dia mengatakan, "Aku takut kepada Allah Subhanahu wa ta'ala."

Betapa luar biasa kuatnya iman seorang laki-laki tersebut. Nilai ketakwaannya telah mendarah daging dalam jiwanya. Dia tidak mudah tergelincir oleh bujuk rayu keindahan dan kemewahan dunia.

Ia senantiasa berpegang teguh dengan nilai-nilai ketakwaan kepada Allah Ta'ala. Tidak akan mengorbankan keimanannya hanya demi tipu daya kehidupan dunia.

Sekalipun secara tekstual hadis tersebut menyebut laki-laki, tetapi berlaku pula bagi perempuan, yakni seorang perempuan yang diajak laki-laki gagah perkasa dan memiliki kekayaan melimpah tetapi tetap menolaknya karena takut kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Ia merasa takut akan siksaan Allah Ta'ala akibat perbuatan itu. Maka perempuan yang demikian insya Allah juga akan mendapatkan naungan di sisi Allah Ta'ala kelak.

Baca juga: Tenaga Medis dan Petugas Keamanan di Arab Saudi Dapat Hadiah Berhaji 

Kecintaan lawan jenis harus lewat pernikahan yang sah, karena di baliknya ada sejuta hikmah bagi kehidupannya di kemudian hari dan juga bagi keturunannya.

Maka seorang wanita mulia tidak akan mengorbankan kehormatannya kecuali setelah dilangsungkannya akad nikah secara sah.

Berzina merupakan tindakan terkutuk yang dilaknat oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Sebab dengan berzina maka kehidupan umat manusia tak ubahnya seperti binatang, atau bahkan lebih biadab lagi.

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS Al Isra: 32)

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement