NABI Muhammad Shalallahu alaihi wa salam menyatakan ada tujuh golongan yang dinaungi Allah Subhanahu wa ta'ala ketika hari kiamat kelak. Mereka adalah (1) pemimpin yang adil; (2) pemuda yang tumbuh dengan beribadah kepada Tuhannya; (3) orang yang hatinya tergantung di masjid; (4) dua orang yang saling menyayangi karena Allah Ta'ala—bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah; (5) orang yang diajak berbuat hina oleh wanita cantik dan kaya namun ia berkata, 'Aku takut kepada Allah Ta'ala; (6) pria yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kanannya memberi sedang tangan kirinya tidak tahu; dan (7) orang yang ketika mengingat Allah Ta'ala dalam kesendirian berlinanglah air matanya.
Baca juga: Zikir ketika Melewati Jalan Mendaki dan Menurun
Tujuh golongan tersebut berdasarkan hadis Muttafaqun alaih yang berbunyi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ “ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ ” متفق عليه.
Mengutip dari Sindonews, Selasa (7/7/2020), Ustadz Muhammad Hidayatulloh yang merupakan pengasuh kajian tafsir Alquran Yayasan Ma'had Islami (Yamais), Masjid Al Huda Berbek, Waru, Sidoarjo, menjelaskan tentang hadis ini.
Ia mengatakan sab'ah bermakna tujuh. Tujuh yang dinaungi Allah Subhanahu wa ta'ala ketika hari kiamat—yang saat itu tiada naungan kecuali dari-Nya. Naungan yang sangat diharapkan oleh semua manusia.
"Maka berusaha untuk mencapai salah satu saja dari tujuh kriteria tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi kita," jelas Ustadz Muhammad Hidayatulloh dalam laman pwmu.
1. Pemimpin Adil
Pemimpin adil menempati posisi tertinggi di antara kriteria lainnya. Pemimpin adil baik secara perilaku maupun dalam hal perhatian dan pemberian yang tidak harus sama rata.
Adil berarti tidak berat sebelah atau bertindak tanpa pandang bulu. Dalam menegakkan keadilan, tidak berlaku lagi persaudaraan atau pertemanan.
Siapa pun jika bersalah, keadilan akan ditegakkan secara proporsional. Bahkan termasuk jika diri sendiri bersalah, keadilan juga ditegakkan.
Maka sungguh tidak mudah menjadi pemimpin yang adil. Tetapi juga tidak terlalu sulit jika memang kita dapat selalu objektif menilai, termasuk pada diri sendiri.
Perilaku adil inilah yang menjadi penyebab kehidupan harmonis di tengah masyarakat, dan selanjutnya akan berdampak pada tingkat kesejehteraan dan kebahagiaan bagi masyarakat.
Itulah tujuan utama konsepsi kehidupan umat manusia sebagai makhluk yang bermartabat tinggi. Maka hukum dan etika kehidupan ini haruslah memenuhi rasa keadilan bagi semua tanpa kecuali.
Tidak boleh ada orang yang memiliki kekebalan hukum. Hukum harus ditegakkan bagi semua. Hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Ditegakkannya keadilan ini demi kebaikan bersama. Sebab jika pemimpin bertindak adil, masyarakat akan merasa terayomi oleh kepemimpinannya.
Baca juga: Arab Saudi Buka Pendaftaran Haji, 70% Diisi Ekspatriat
2. Pemuda Taat Beribadah
Golongan kedua adalah pemuda —juga pemudi tentunya— yang tumbuh dengan selalu beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Mereka selalu menghiasi waktu-waktunya dengan sibuk beribadah. Sedangkan puncak atau komandan seluruh ibadah adalah sholat.
Maka menjaga sholat menjadi hal paling utama dalam hal ini. Di samping itu tidak kalah pentingnya adalah senantiasa berada dalam majelis ilmu, terutama ilmu agama.
Pemuda yang demikian pasti akan tumbuh menjadi manusia yang senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Ia memiliki komitmen kehidupan kepada Tuhannya, yang menjalankan kehidupan secara seimbang antara tuntutan kehidupan sosial dan keluarga.
Semua itu sebagai wujud tanggung jawab akan amanah kehidupan dari Tuhannya. Maka masa muda yang demikian ada harapan untuk dapat naungan dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Sebaliknya, pemuda yang menghabiskan wktunya untuk aktivitas yang melanggar syariah tentu tidak termasuk dalam kriteria ini.

3. Hati Terpaut Masjid
Golongan ketiga adalah seseorang yang hatinya tergantung pada masjid Allah Subhanahu wa ta'ala. Hal ini menjadi kelanjutan dari kriteria sebelumnya, sehingga tidak lagi dibatasi oleh usia, apakah muda atau tua.
Jika senantiasa suka datang ke masjid dengan selalu mengikuti aktivitas-aktivitas kebaikan di dalamnya, maka hal ini dapat memenuhi kriteria itu. Bagi siapa saja tanpa kecuali memakmurkan masjid Allah Subhanahu wa ta'ala merupakan aktivitas utama.
"Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka." (QS At-Taubah: 17)
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS At-Taubah: 18)