Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

7 Golongan yang Dinaungi Allah Ta'ala ketika Hari Kiamat

7 Golongan yang Dinaungi Allah Ta'ala ketika Hari Kiamat
Ilustrasi. (Foto: Unsplash)
A
A
A

6. Ikhlas Bersedekah

Golongan keenam adalah seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sehingga seolah-olah ketika tangan kanannya memberi, tangan kirinya tidak mengetahui.

Sedekah dalam pengertian khusus adalah mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang berhak menerimanya.

Keikhlasan merupakan inti dari sedekah ini, sehingga tidak ada seorang pun yang tahu sedekahnya. Hanya Allah Subhanahu wa ta'ala dan dirinya saja yang mengetahui secara persis, dan mungkin orang yang disedekahinya.

Sedekah yang demikian tidak perlu diumumkan atau dicantumkan dalam sebuah lembaran yang dapat dibaca oleh orang lain.

Sebab jika demikian dapat menjadi pemicu timbulnya sikap riya’ atau ujub pada diri sendiri. Akibat berikutnya tanpa disadarinya keikhlasannya luntur.

Baca juga: Sapi Jumbo 1,2 Ton Diperlakukan Khusus Sebelum Dikurbankan 

Sedekah dalam pengertian yang luas adalah seluruh kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba. Sebagaimana hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, "Setiap kebaikan adalah sedekah." (HR Bukhari Fi Adabil Mufrad)

Maka semua kebaikan yang kita lakukan syarat utamanya adalah ikhlas, hanya karena Allah Subhanahu wa ta'ala, bukan yang lainnya. Hal ini sangat penting karena menjadi penentu diterima tidaknya amal seseorang. Bukan kuantitasnya semata suatu ibadah itu diterima.

Sedekah yang dirahasiakan itu merupakan bagian yang terintgrasi dengan ibadah-ibadah lainnya. Hal ini menjadi indikator bahwa amaliah lainnya juga akan dilakukan karena Allah Ta'ala semata.

Itulah sebabnya orang yang bersedekah dengan ikhlash akan mendapat naungan dari Allah Subhanahu wa ta'ala pada hari yang tiada naungan selain dari-Nya.

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

7. Berzikir Sendirian

Golongan ketujuh adalah seseorang yang berdzikir secara menyendiri dan berlinanglah air matanya, sebagai wujud aktivitas ber-taqarrub kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan selalu menjaga keikhlasan.

Mereka selalu berusaha tazkiyatun nafs untuk membersihkan diri dari sifat tercela dengan menyandarkan dirinya kepada Allah Subahanahu wa ta'ala. Proses di dalamnya adalah ber-mujahadah dengan berzikir kepada Allah Ta'ala sembari menyadari betapa nistanya diri ini di atas kemuliaan Allah Ta'ala.

Bukankah telah memberikan anugerah yang begitu melimpah tetapi kita enggan untuk berbakti kepada-Nya dalam arti yang sesungguhnya.

Padahal Allah Subhanahu wa ta'ala juga telah memuliakan diri kita dari pandangan orang lain. Allah Ta'ala memuliakan kita dengan cara manutup kekurangan dan kelemahan diri dari pandangan orang lain. Hanya kasih sayang Allah Ta'ala-lah sehingga semua itu tidak tersingkap bagi banyak orang.

Jadi siapa pun diri kita sesungguhnya wajib menyadari akan kekurangan diri ini yang kemudian wajib berusaha berbenah dan berbenah.

Baca juga: Dalil tentang Hari Kiamat, Manusia Harus Waspada 

Sedangkan jika kita berzikir secara berjamaah, bahkan juga kadang meneteskan air mata, belum termasuk kriteria hadis di atas. Sebab bisa jadi hal itu kita lakukan masih ada tendensi yang terselip di dalamnya, bukan semata-mata karena Allah Ta'ala.

Oleh karena itu, zikir yang demikian boleh dikatakan sebagai bentuk latihan yang mestinya ditindaklanjuti dengan berzikir dengan keadaan sendirian di waktu yang senyap dan sepi. Zikir ini akan benar-benar mengasah jiwa untuk senantiasa dalam ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Termasuk di dalamnya adalah zikir saat sholat lima waktu yang memiliki keterkaitan dengan praktik zikir sebagaimana maksud hadis tersebut yaitu secara sendirian di saat sepi.

Dengan berzikir secara benar insya Allah kita akan dapat berzikir secara hakiki yakni dalam aplikasinya di kehidupan kita sehari-hari, selalu menyesuaikan dan menyelaraskan dengan ketentuan Allah Subhanahu wa ta'ala dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Semoga semua umat Islam dapat memasuki paling tidak sebagian di antara tujuh kriteria yang akan mendapat naungan Allah Subhanahu wa ta'ala pada hari Kiamat. Pada hari itu tidak ada yang dapat menaungi kecuali Allah Ta'ala, Dzat Yang Maha Agung, Maha Perkasa. Amin.

(Hantoro)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement