Share

Hukum Berkurban untuk Orang Sudah Meninggal

Rizka Diputra, Jurnalis · Rabu 08 Juli 2020 10:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 08 614 2242949 hukum-berkurban-untuk-orang-sudah-meninggal-aQTghqZc5w.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone.com)

HARI raya Idul Adha 1441 hijriah sudah di depan mata. Hari besar Islam ini menjadi momen bagi muslim untuk menunaikan ibadah kurban.

Yakni mengurbankan hewan ternak untuk berbagi kepada sesama, sebagai wujud rasa syukur kita atas limpahan rezeki yang Allah Ta'ala berikan. Berkurban bisa dilakukan seorang diri maupun patungan alias kolektif.

Di Indonesia cukup populer kebiasaan berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia. Lantas bagaimana hukumnya dalam Islam untuk kasus ini?

Melansir dari website Pondok Pesantren Lirboyo, Rabu (8/7/2020), Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menegaskan dalam Kitab Tuhfah Al-Muhtaj:

(ูˆูŽู„ูŽุง) ุชูŽุฌููˆุฒู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุนู ุฃูุถู’ุญููŠู‘ูŽุฉูŒ (ุนูŽู†ู’ ู…ูŽูŠู‘ูุชู ุฅู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠููˆุตู ุจูู‡ูŽุง)

Artinya: โ€œTidak boleh dan tidak sah berkurban atas nama orang meninggal apabila ia tidak berwasiat untuk dikurbani,โ€ (Tuhfah al-Muhtaj, IX/368).

Baca juga: Setiap Muslimin Wajib Memuliakan Tetangga, Ini Keutamaannya

Alasan yang mendukung pendapat ini adalah kurban adalah ibadah yang membutuhkan izin. Karenanya, izin orang yang berkurban mutlak diperlukan untuk menjadikan kurbannya sah. (Nihayah al-Muhtaj, VIII/144).

Namun terdapat pendapat yang mengatakan diperbolehkan kurban untuk orang yang sudah meninggal meski belum pernah berwasiat untuk dikurbani. Imam Al-Qulyubi juga mengungkapkan:

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู ููŽูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ูŽุนูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠููˆุตู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุถูŽุฑู’ุจูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู

Artinya: โ€œImam ar-Rafiโ€™i berpendapat: hendaklah (kurban untuk orang meninggal) tetap sah untuknya meskipun ia tidak berwasiat akan hal tersebut. Karena pada dasarnya kurban merupakan bagian dari sedekah,โ€ (Hasyiah al-Qulyubi โ€˜ala Al-Mahalli, IV/256).

Bahkan Imam An-Nawawi menegaskan dalam karyanya, Al-Majmuโ€™Syarh al-Muhadzdzab:

ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ุชู‘ูŽุถู’ุญููŠูŽุฉู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽูŠู‘ูุชู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุทู’ู„ูŽู‚ูŽ ุฃูŽุจููˆุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ู ุงู„ู’ุนูŽุจู‘ูŽุงุฏููŠู‘ู ุฌูŽูˆูŽุงุฒูŽู‡ูŽุง ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุถูŽุฑู’ุจูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ุชูŽุตูุญู‘ู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽูŠู‘ูุชู ูˆูŽุชูŽู†ู’ููŽุนู ู‡ููˆูŽุชูŽุตูู„ู ุฅู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูุงู„ู’ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนู

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Artinya: โ€œAdapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia, maka Abu Al-Hasan Al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah, sedang sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana konsensus para ulama,โ€ (Al-Majmuโ€™ Syarh al-Muhadzdzab, VIII/406).

Maka dapat diambil kesimpulan bahwa berkurban untuk orang yang sudah wafat jika almarhum pernah berwasiat untuk dikurbani maka mayoritas ulama berpendapat sah.

Namun jika yang bersangkutan semasa hidupnya tidak pernah berwasiat dikurbani, maka terdapat perbedaan pendapat. Di mana sebagian ulama menyatakan tidak sah dan sebagian lainnya berpendapat sah-sah saja.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini