Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jihad Literasi, 94 Tahun Mewartakan Gerakan Perempuan

Jihad Literasi, 94 Tahun Mewartakan Gerakan Perempuan
Cover majalah Suara Aisyiyah tahun 1930-an, 1970-an, dan 1980-an
A
A
A

Mengutip data Lembaga Survei Indonesia, Kohar menyebut pada 2014 sebanyak 60 persen publik mengakses informasi sehari-hari dari televisi, 8 persen dari media cetak dan 7 persen dari media digital. Namun, pada 2018 angka akses informasi melalui televisi turun menjadi 42 persen, media cetak turun ke 3 persen, sedangkan media digital naik 3 kali lipat menjadi 21 persen.

Data juga mencatat 79 persen milenial menonton televisi melalui internet dan 98 persen milenial serta Generasi Z mengakses internet. Angka itu menunjukkan bahwa media daring adalah sumber informasi utama bagi anak muda saat ini. Karena itu, mau tidak mau media yang ingin bertahan harus merambah ke format daring.

Dari sisi materi, masuknya Suara Aisyiyah secara agresif ke daring juga perlu untuk mengimbangi kecenderungan konten buruk internet. Masyarakat cenderung berbagi informasi keagamaan yang justru sumbernya tidak jelas. Di era post truth seperti saat ini, kata Kohar, fakta dikalahkan oleh emosi. Karena itulah, penyedia konten keagamaan seperti Suara Aisyiyah harus kreatif dan mampu mewarnai wacana daring.

“Informasi sangat meluber, jadi kita tidak tahu ini formasi yang benar yang mana. Semua seolah-olah seperti benar pada waktu yang bersamaan, padahal tidak semua informasi sesuai dengan fakta. Informasi-informasi bohong itu, kalau terus dipaparkan maka secara psikologis akan dianggap sebagai kebenaran,” ujar Kohar.

Mencatat Dinamika Gerakan Perempuan

Dalam sejarah media di Indonesia, Suara Aisyiyah termasuk salah satu pelopor media bagi perempuan. Sebelumnya, telah terbit Poetri Hindia yang hadir pada 1908 dari perjuangan aktivis pers ketika itu, Tirto Adhi Soerjo.

Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, Noordjannah Djohantini menilai media adalah faktor penting bagi organisasi perempuan itu. Sejak awal didirikan, tokoh-tokoh perempuan di Muhammadiyah telah meyakini pentingnya sebuah media, yang menjadi wahana mereka menggelar wacana dunia perempuan.

“Melalui Suara Aisyiyah, itu akan menampakkan dinamika gerakan perempuan Indonesia yaitu Aisyiyah, yang menjadi salah satu tonggak pergerakan perempuan di Indonesia,” kata Noordjannah.

Aisyiyah menjadi salah satu inisiator Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1928 di Yogyakarta. Suara Aisyiyah yang sudah masuk tahun ketiga ketika itu aktif menulis dialog-dialog serta perjuangan perempuan Indonesia di seputar kongres tersebut.

“Isu zaman itu, sampai sekarang bahkan masih berlanjut. Ini menjadi keprihatinan kita, karena artinya dakwah kita belum selesai, terkait ikhtiar untuk menguatkan perempuan, perlindungan hak-hak perempuan, anak dan keluarga,” tambah Noordjannah.

Noordjannah juga berharap, penyediaan layanan digital ini mendekatkan Suara Aisyiyah kepada generasi milenial, sehingga isu-isu gerakan perempuan juga akrab bagi mereka.

(Salman Mardira)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement