Menghajikan Orangtua yang Meninggal, Gimana Hukumnya?

Ade Naura, Jurnalis · Rabu 22 Juli 2020 13:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 22 330 2250312 menghajikan-orangtua-yang-meninggal-gimana-hukumnya-1lLYWcQbfp.jpeg Jamaah haji 2019 di sekitar Masjidil Haram Makkah (Okezone.com/Widi)

HAJI merupakan rukun Islam kelima. Karena tempat pelaksanaannya di Tanah Suci Makkah, Arab Saudi, maka ibadah ini hukumnya wajib bagi orang yang mampu saja. Nah, bagaimana jika seseorang sudah meninggal sementara ia mampu secara materi, tapi belum berhaji?

Baca juga: Begini Cara Berbakti kepada Orangtua dan Hikmah di Baliknya

Dalam perkara ini ulama sepakat bahwa orang yang sudah meninggal itu bisa dibadalkan atau digantikan hajinya oleh ahli warisnya, misal anaknya.

Abu Abdullah Musthafa dalam bukunya ‘Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?’ menuliskan bahwa, “menghajikan kedua orang tua yang telah meninggal atau lanjut usia yang tidak lagi memungkinkan lagi baginya untuk melaksanakan haji, maka itu dibolehkan bahkan dianjurkan.”

Namun, jika akan menghajikan orangtuanya yang telah wafat, maka orang tersebut sudah harus menunaikan kewajiban haji atas dirinya terlebih dulu.

Di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Abbas bahwa Fadl bin Abbas pernah membonceng Rasulullah SAW dengan unta, kemudian datang seorang perempuan dari Bani Khats’am meminta petunjuk kepada Nabi.

Al-Fadl dan perempuan itu saling memandang, sehingga Rasulullah memalingkan wajah Al-Fadl ke arah yang lain.

Dalam peristiwa yang terjadi ketika haji wada’ ini, perempuan tersebut kemudian berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya ayahku baru memiliki kecukupan materi untuk melaksanakan kewajiban haji ketika isianya sudah lanjut, namun kini dia tidak sanggup melaksanakan perjalanan ke tanah suci. Apakah aku boleh menghajikannya?”

“Ya,” jawab Rasulullah.

Sementara Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah, KH Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya mengatakan, badal haji tidak wajib bagi orang yang sepanjang hidupnya belum haji dan meninggal dalam keadaan fakir atau tidak mampu.

“Tetapi kalau ada orang mampu, sudah wajib haji dan wafat. Maka harta warisnya tidak boleh dibagi dulu kecuali dipotong dari harta warisnya untuk menghajikan orang yang meninggal, tapi dia sudah wajib haji,” kata Buya Yahya dalam sebuah ceramah yang disiarkan di channel Youtube Al Hajjah TV seperti dikutip, Rabu (22/7/2020).

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Untuk orang yang sudah wafat dan dari awal sudah fakir, menurut Buya Yahya, ia tidak wajib haji. Maka, harta yang ditinggalkannya bisa langsung dibagi.

Namun, bagaimana jika si anak ingin menghajikan orangtuanya yang meninggal dalam keadaan fakir tadi dengan uang berasal dari anak itu?

Menurut Buya Yahya, badal haji itu tetap dibolehkan dan sah menurut syariat. Tapi, itu tidak wajib. Hanya saja bila si anak itu belum melaksanakan haji, maka dia harus membayar orang lain untuk mengerjakan haji kepada orangtuanya.

Artinya uang dari anak itu diberikan kepada orang yang sudah pernah haji, jadi yang membadalkan haji orangtuanya adalah orang yang sudah pernah naik haji.

Untuk orang yang sudah wafat dan dari awal sudah fakir, menurut Buya Yahya, ia tidak wajib haji. Maka, harta yang ditinggalkannya bisa langsung dibagi.

Namun, bagaimana jika si anak ingin menghajikan orangtuanya yang meninggal dalam keadaan fakir tadi dengan uang berasal dari anak itu?

Menurut Buya Yahya, badal haji itu tetap dibolehkan dan sah menurut syariat. Tapi, itu tidak wajib. Hanya saja bila si anak itu belum melaksanakan haji, maka dia harus membayar orang lain untuk mengerjakan haji kepada orangtuanya.

Artinya uang dari anak itu diberikan kepada orang yang sudah pernah haji, jadi yang membadalkan haji orangtuanya adalah orang yang sudah pernah naik haji.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya