Kisah Salman Al-Farisi Mencari Rasulullah hingga Akhirnya Memeluk Islam

Sarah Nurjannah, Jurnalis · Senin 27 Juli 2020 13:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 27 614 2252675 kisah-salman-al-farisi-mencari-rasulullah-hingga-akhirnya-memeluk-islam-A0EdADnpGc.jpeg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

BANYAK sahabat luar biasa yang setia mendampingi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam mendakwahkan Islam. Kebanyakan mereka mengikuti Rasululullah karena kagum dengan akhlak dan budi pekerti beliau.

Namun, ada pula orang-orang yang penasaran terhadap pandangannya tentang Islam sehingga mereka mencari kebenaran itu sendiri.

Adalah Salman Al-Farisi, salah satu tokoh yang mencari kebenaran hingga ia sendiri akhirnya dapat dipertemukan dengan sosok baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Ia juga yang kelak menjadi salah satu sahabat kebanggaan Rasulullah.

Kecerdasan Salman sendiri diakui sebagai sosok cendekiawan muda, yang ternyata dialah tokoh yang mengusulkan menggali parit pada saat perang khandaq.

Baca juga: Dalil tentang Hari Kiamat, Manusia Harus Waspada

Dikutip dari buku “Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid, disebutkan bahwa Salman berasal dari wilayah Isfahan, di mana dahulu ia menganut agama yang diyakini bersama nenek moyang dan keluarganya secara turun temurun yaitu Majusi.

Berkat fitrahnya yang ingin mencari sebuah kebenaran atas apa yang tidak diyakininya, Salman pun mulai beranjak dari suatu tempat ke tempat lainnya. Dari sinilah, perjuangan Salman dalam keyakinannya untuk mencari sebuah agama yang murni dan benar, dimulai.

Perjalanan tersebut tidaklah mudah. Bahkan dalam perjalanannya, ketika ia sedang berdebat sengit bersama ayahnya karena telah memuji kepercayaan yang lain, dirinya menerima hukuman berupa dirantai kakinya dan dipenjarakan oleh ayahnya sendiri.

Seolah hal itu tidak memengaruhi tekadnya mencari kebenaran, akhirnya ia melarikan diri dari lingkungan keluarganya pergi menuju rombongan yang lain. Ia pernah menganut agama Nasrani, namun merasa ada yang janggal, ia akhirnya berpindah.

Ketika ia bertemu seseorang, ia pula bertanya kepadanya, kemanakah selanjutnya petunjuk yang harus dilalui. Ketika pencarian yang sekian kalinya, seseorang yang shalih yang tinggal di Nasihin tersebut berkata:

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

“Anakku! Tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau kepadanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. Ia nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. seandainya kamu dapat pergi ke sana,temuilah dia! Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang; Ia tidak mau makan sedekah sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya, segeralah kau mengenalinya,”

Meski dirinya ketika berhijrah menjadi budak, dirinya tidak merasa putus asa dan tergoyahkan untuk mencari sesosok 'Nabi' tersebut. Hampir seluruh kekayaan dan hartanya, ia serahkan kepada setiap orang yang mau memberikannya arah. Biarpun fakir, keimanannya yang kuat menjadi nilai yang sangat utama di hadapan Allah Ta'ala.

Baca juga: Meneladani Kearifan Syuraih Al-Qadhi dalam Mendidik Istri

Kemudian, diceritakan ketika dirinya menyaksikan seluruh tanda tersebut pada Rasulullah, lantas tenanglah jiwanya lalu ia dengan berserah diri memeluk agama Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Sosok yang dicintai Allah bukanlah berasal dari orang yang memiliki harta banyak, melainkan bisa saja mereka yang dalam kondisi fakir. Namun, dalam dirinya memiliki ketaatan dalam kesabaran dan kesempitan sebagaimana sosok Salman Al-Farisi yang menemukan kebenaran Tuhan di tangan sang pembawa risalah, yakni baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya