Kreatif, Santri di Kudus Bikin Klepon "Hijrah" Berisi Kurma

Rabu 29 Juli 2020 11:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 29 614 2253800 kreatif-santri-di-kudus-bikin-klepon-hijrah-berisi-kurma-a2D6RCfpp1.JPG Klepon Kurma kreasi santri Ponpes Al Mawaddah, Kudus, Jawa Tengah (Foto: YouTube/@elMawa TV)

PASCA viralnya klepon di jagat maya, santri Pondok Pesantren Al Mawaddah, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah membuat terobosan dengan mengkreasi klepon berkonsep "hijrah". Hal itu mereka lakukan di sela kegiatan praktik saat pembelajaran jarak jauh (PJJ).

"Klepon berhijrah bersama kurma dan bersilaturahmi. Produksi BLKK Al Mawaddah Kudus," tulis akun YouTube elMawaTV.

Staf BLKK Al Mawaddah, Muhammad Lutfi Syaf menjelaskan, klepon hijrah ini memiliki keunikan karena berisi kurma. Klepon semakin istimewa lantaran telah disebut dalam catatan-catatan serat centhini, yang ternyata sudah dibuat sekitar tahun 1814-1823. Tak hanya itu, klepon juga mengandung filosofi dan pelajaran moral di dalamnya.

“Klepon mengajarkan kepada kita kalau makan jangan sambil berbicara. isinya yang merupakan gula aren cair akan muncrat keluar,” tuturnya, seperti dikutip dari iNews.id.

Sedangkan pimpinan BLKK Al Mawaddah, Sofiyan Hadi menyebut, makanan tak semata-mata soal rasa, melainkan juga terkandung simbol budaya. Di mana klepon mampu menembus sekat-sekat sosial, budaya, maupun agama. Buktinya, klepon mampu menyentuh lidah masyarakat dari berbagai kelas sosial.

“Oleh karenanya, yang menghujat makanan klepon adalah penghianat sosiokultural,” tukasnya.

Perbincangan soal kue klepon membanjiri lini masa Twitter belum lama ini setelah ada oknum yang menyebarkan isu bahwa kudapan khas Indonesia itu bukan makanan Islami.

Klepon tak Islami heboh setelah ada warganet yang memposting gambar kue itu disertai tulisan, ’Kue klepon tidak Islami. Yuk tinggalkan jajanan yang tidak Islami dengan cara membeli jajanan Islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami’. Di bagian bawah gambar tertulis Abu Ikhwan Azis.

Netizen pun adu nyaring menanggapi. Ada yang menjadikan itu bahan buat komentar lucu-lucuan, saling sindir, bahkan sampai yang serius mengaitkan hal itu dengan kondisi keagamaan.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini