SIAPA yang tidak mengenal Khadijah binti Khuwailid? Dia adalah wanita mulia yang pertama kali dinikahi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Dia juga merupakan perempuan pertama yang masuk Islam.
Khadijah adalah perempuan bangsawan dari kaum Quraisy. la dikenal memiliki usaha dagang yang sangat maju. Kabarnya, ia adalah perempuan terkaya di Makkah kala itu. Salah satu pegawainya bernama Muhammad, laki-laki yang kelak diangkat Allah menjadi Rasul-Nya.
Dilansir dari buku 'Mulut yang Terkunci, 50 Kisah Haru Para Sahabat Nabi' karya Siti Nurlaela, sejak awal, Khadijah kagum pada akhlak mulia Nabi Muhammad. Atas kehendak Allah, mereka akhirnya menikah.
Usia Khadijah saat itu 40 tahun, sementara Muhammad 25 tahun. Keduanya dianugerahi beberapa orang anak. Salah satunya adalah Fatimah. Sayangnya, hampir seluruh anak Khadijah meninggal dalam usia muda.
Menginjak usia 40 tahun, suami Khadijah kerap menyepi di Gua Hira. la hendak mendekatkan diri kepada Tuhannya. Suatu malam, sepulang dari Gua Hira, suaminya tampak menggigil hebat. Wajahnya bersimbah peluh. Beliau minta diselimuti. Khadijah menjadi cemas dan berusaha menenangkannya.
"Tenang, Suamiku," ucap Khadijah sembari menyelimuti Muhammad.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanyanya.
Nabi Muhammad kemudian bercerita, "Ketika aku berada dalam Gua Hira, muncul sosok tinggi besar. Sosok itu menyuruhku membaca. Tubuhku gemetar. Kukatakan padanya kalau aku tak bisa membaca, tetapi ia terus menyuruhku. Ia memeluk tubuhku erat-erat. Kukatakan berulang-ulang, aku tidak bisa membaca.
Baca juga: 7 Tempat Paling Dicintai Nabi Muhammad
Sosok itu kemudian berkata kepadaku. 'Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah yang telah mengajar manusia dengan kalam; Dia yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya,".
Khadijah menyimak cerita Muhammad. la berusaha menenteramkan hati suaminya.
"Sesungguhnya, Allah amat menyayangi dan memuliakanmu. Aku akan meminta Warafah bin Naufal kemari," kata Khadijah. "Mungkin ia mengetahui peristiwa yang kau alami," lanjutnya.
Warafah bin Naufal adalah saudara Khadijah. la seorang ahli kitab dan telah mempelajari kitab Taurat dan Injil dengan tekun. Khadijah berharap, saudaranya itu dapat menjawab kegelisahan suaminya itu. Muhammad kemudian mendapat penjelasan dari Warafah bin Naufal.
"Sesungguhnya, yang datang itu Malaikat Jibril. la menyampaikan wahyu dari Allah. Musa juga pernah mengalaminya. Dalam Taurat dan Injil memang disebutkan bahwa Nabi terakhir berasal dari bangsa Arab. Aku yakin, Muhammad, kau-lah Nabi terakhir itu," kata Warafah.
Khadijah adalah orang pertama yang masuk Islam. Dengan hartanya, ia menyokong suaminya berdakwah pengikut Nabi Muhammad pun bertambah. Namun, mereka harus menghadapi ancaman kekerasan dari kaum Quraisy Makkah.
Salah satu pengikut Nabi Muhammad, yaitu seorang perempuan bernama Umayyah, dipaksa kembali menyembah berhala. Parahnya lagi ia disiksa dengan kejam. Tetapi hatinya tidak tergoyahkan. Umayyah gugur ketika Abu Jahal menghujamkan pisau ke tubuhnya. Khadijah menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepalanya sendiri.
Dalam masa pemboikotan, kaum muslimin dikucilkan secara sosial dan ekonomi. Khadijah turut merasakan penderitaan akibat kesewenang-wenangan para penyembah berhala itu. Meski demikian, ia tetap sabar dan setia mendampingi Nabi Muhammad.
Tiga tahun sebelum kaum muslimin hijrah ke Madinah, Khadijah meninggal dunia. Sepeninggal istrinya, Nabi Muhammad tetap setia mengenangnya lalu bersabda: "Pada saat semua orang mengusir dan menjauhiku, dia beriman kepadaku. Saat semua orang mendustakan aku, ia meyakini kejujuran ku. Pada saat semua orang menyisihkan ku, ia menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepadaku,"
Dari sini bisa dipetik pelajaran bahwa Khadijah binti Khuwailid adalah istri yang setia, sabar, dan salehah. Dia juga banyak berperan dalam perkembangan dan kemajuan dakwah Islam.
"Memiliki istri salehah adalah dambaan setiap suami. Istri salehah memiliki akhlak mulia. Ia pandai menjaga diri, sabar dalam setiap kesulitan, dan menjadi penyejuk bagi suami kala menghadapi berbagai masalah," kenang Rasulullah.
(Rizka Diputra)