Kenapa Nabi Muhammad Menerima Wahyu di Gua Hira Bukan di Masjidil Haram?

Yudistira, Jurnalis · Jum'at 14 Agustus 2020 05:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 13 330 2261867 kenapa-nabi-muhammad-menerima-wahyu-di-gua-hira-bukan-di-masjidil-haram-mDbJfCj9mb.jpg Gua Hira di puncak Jabal Nur, Kota Makkah, Arab Saudi, Februari 2018 (Okezone.com/Salman Mardira)

PARA nabi menerima wahyu dari Allah Subhanahu wa ta’ala saat berpuasa dan menyendiri atau bertapa, jauh dari keramaian manusia. Nabi Muhammad SAW contohnya, menerima wahyu pertama di Gua Hira yang terletak di puncak Jabal Nur, Makkah.

Lokasi Gua Hira dengan Masjidil Haram terpaut sekitar 6 kilometer dan pada masa itu tak ada permukiman sekitar Jabal Nur. Berbeda dengan sekitar Masjidil Haram yang ramai dengan penduduk dan peziarah Kakbah.

Baca juga: Gua Hira, Saksi Bisu Perjuangan Rasulullah Menerima Wahyu

Menurut riwayat, Muhammad SAW saat itu menyendiri di Gua Hira selama 26 hari dan malam ke 27 datang malaikat Jibril yang menyerupai manusia membawa wahyu dari Allah. Inilah tanda kerasulan Muhammad dimulai dalam usia kala itu 40 tahun.

Kenapa Nabi Muhammad menerima wahyu sendirian di Gua Hira, bukan di Masjidil Haram yang merupakan tempat paling suci di bumi?

"Seseorang akan meningkat kecerdasan individunya pada saat ia menyendiri. Menepi dari keramaian. Sebab ketika seseorang dalam keadaan sendiri dan berpuasa, maka akan terjadi dialog di dalam dirinya," kata pendakwah KH Buya Syakur Yasin MA dalam sebuah ceramahnya di hadapan jamaah yang dikutip dari video di kanal YouTube Wamimma TV, Kamis (13/8/2020).

Sebelum Rasulullah, Nabi Musa, Nabi Ilyas, Nabi Ibrahim dan nabi lainnya juga menerima wahtu saat menyendiri jauh dari manusia sembari berpuasa. Ini diakui oleh penulis-penulis dunia.

Bahkan rata-rata filosof, sastrawan, orang yang menulis tentang sejarah adalah mereka yang telah selesai dan keluar dari pertapaannya.

 

Menurut Buya Syakur, pengalaman spiritual ini juga dialami oleh Nabi Muhammad SAW.

"Nabi Muhammad SAW pada saat menerima wahyu dari Allah SWT melalui malaikat Jibril di Gua Hira, mengalami ketakutan yang dahsyat. Ia bahkan khawatir jika bisikan yang datang kepadanya adalah suara-suara imajiner yang ada di alam pikirannya,” tutur Buya Syakur.

Nabi Muhammad SAW kemudian bergegas turun dari Gua Hira lalu pulang ke rumah dengan penuh kecemasan. Sampai di rumah langsung mencoba ditenangkan oleh istri tercintanya, Siti Khadijah.

“Wahai suamiku yang tercinta, aku yakin engkau orang yang benar, orang terbaik, orang yang menjunjung tinggi silaturahmi. Maka aku yakin bahwa bisikan yang datang kepadamu adalah bisikan dari makhluk yang benar” kata Khadijah sambil menyelimuti Nabi Muhammad SAW.

Menurut Buya Syakur, manusia saat dalam keramaian, kecerdasannya akan menurun.

"Pada saat manusia menepi dari keramaian, kecerdasan individunya akan muncul. Sebab akan ada dialog antara dirinya dengan hatinya. Apabila engkau tidak merasa nyaman untuk melakukan sesuatu maka jangan disangkal. Karena hatimu lebih tajam dalam memandang daripada matamu. Sebab mata mengalami keterbatasan dalam memandang dan menilai. Mata kita akan berhenti melihat apabila kita sudah mensucikan diri," terang Buya Syakur.

Ketika menepi dari keramaian, Rasulullah SAW juga berpuasa. Hal ini membuktikan bahwasannya orang yang berpuasa, akan membangkitkan rohani kemanusiaannya.

"Orang yang kuat, bukan dilihat dari fisiknya, melainkan dari ruhaninya. Bukan dari kekuatan fisik, melainkan kekuatan berpikirnya. Bahkan ketika berpuasa pun, kepedulian sosial akan muncul. Hal ini membuktikan bahwa Alqur'an diturunkan pada waktu dan orang yang tepat. Karena pada saat itu, ketokohan Nabi Muhammad SAW di Makkah, tidak ada yang meragukan," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini