Ini Dalil Pentingnya Memiliki Sikap Toleransi dalam Kehidupan Bermasyarakat

Putri Aliya Syahidah, Jurnalis · Senin 24 Agustus 2020 11:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 24 330 2266411 ini-dalil-pentingnya-memiliki-sikap-toleransi-dalam-kehidupan-bermasyarakat-HYvRsVjwjB.jpg ilustrasi (stutterstock)

MANUSIA diwajibkan memiliki sikap toleransi atau tenggang rasa antarsesama dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi jika hidup di Indonesia dengan ragam budaya, suku, agama. Tentu saja tanpa toleransi penduduknya, maka persatuan bangsa tak akan terwujud.

Indonesia memiliki 17 ribu lebih pulau dengan ribuan suku dan ratusan bahasa menjadikan bangsa ini memiliki perbedaan yang amat banyak. Dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan, semua warga Indonesia haruslah bersatu, Bhinneka Tunggal Ika.

Baca juga: Ketum Muhammadiyah: Islam Mengandung Nilai Kemajuan Sepanjang Masa

Islam mengajarkan semua manusia untuk menjadi satu apapun perbedaannya, jangan berpecah belah agar tidak menjadi musuh karena Allah tidak menyukai orang – orang yang berselisih.

Alquran surat al–Hujurat (49) : 13, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah Menciptakan kamu dari seorang laki–laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa–bangsa dan bersuku–suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Dilansir dari Youtube iNews, Senin (24/8/2020), Kiai Misbahul Munir, Ketua Aswaja Center berdasarkan referensi dari Kitab Tafsir Jalalain menjelaskan, maksud dari ayat di atas bahwa Allah menciptakan manusia dari berbagai suku atau ras agar menjadi satu dengan yang lain serta dapat saling mengenal, bukan untuk saling sombong menyombong.

“Kalau Allah mau, Allah bisa menjadikan manusia satu umat. Tetapi, Allah menjadikan manusia berbeda suku dan bangsa agar saling mengenal. Allah sudah memberi petunjuk yang batil dan haq, untuk urusan esok siapa yang akan masuk surga atau neraka akan Allah putuskan di hari kiamat nanti,” ujarnya.

“Manusia diajarkan untuk saling menghargai perbedaan yang ada, Islam mengajarkan manusia untuk menjadi satu, dan bilamana ada perbedaan dalam keagamaan itu urusan masing – masing. Yang jelas, kebenaran dan kebatilan sudah ada petunjuknya dan terserah bagaimana manusia menyikapinya.”

Permasalahan khilafiyah, memang ada dan tidak perlu mengusik yang ada. Jika sudah mengetahui mana yang benar maka ikuti dan jika memang salah maka tinggalkan, kembali kepada Alquran dan hadits dan belajar untuk tenggang rasa.

Kecuali menyangkut permasalahan yang sudah disepakati ulama, misalnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terakhir lalu ada yang mengatakan bukan Nabi Muhammad tetapi yang terakhir ada di Indonesia, maka ini disebut penyimpangan dan tidak dibenarkan.

Masalah agama yang di-ijtihadkan atau yang sudah diputuskan dalam Alquran maupun hadits, maka sudah jelas hukumnya dan tidak boleh dibantah. Sedangkan permasalahan khilafiyah atau perbedaan yang tidak pokok, maka boleh ada perbedaan tetapi disandarkan kepada sumber yang haq (benar).

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini