Kemenag: Santri Terkena Covid-19 Diobati Maksimal

Novie Fauziah, Jurnalis · Senin 31 Agustus 2020 18:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 31 614 2270354 kemenag-santri-terkena-covid-19-diobati-maksimal-Wrxn7Sl9CI.jpg Petugas medis mengenakan APD Covid-19 (Okezone.com/Arif)

DIREKTUR Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (Kemenag), Waryono mengatakan, terkait dengan penanggulangan kasus Covid-19 di pesantren Kemenag telah bekerja sama dengan Gugus Tugas Covid-19.

“Untuk menangani santri yang terkena Covid-19 diobati maksimal. Sementara santri yang tidak terkena Covid-19 melakukan isolasi mandiri,” katanya dalam keterangan resmi kepada wartawan, Senin (31/8/2020).

Baca juga:  539 Santri Pesantren Darussalam Banyuwangi Positif Covid-19 

Pesantren yang saat ini tengah menjadi sorotan adalah Pondok Pesantren (Ponpes) Blokagung di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sebanyak 199 santrinya positif Covid-19. Waryono bilang, pihaknya saat ini telah berkomunikasi langsung dengan Kepala Bidang Pesantren Kemenag Jawa Timur, bahwa 500 santri sedang isolasi mandiri.

“Saya juga perlu mengecek antara informasi dari berita dengan kenyataan di lapangan terkait santri yang terpapar Covid-19. Karenanya, saya sedang menunggu laporan terakhir dari Jawa Timur. Yang jelas, Jawa Timur saya tahu pemerintah daerahnya sangat komitmen (membantu pesantren),” tuturnya.

“Harapannya (santri yang positif Covid-19) berkurang dan menurun sampai (sembuh), kemudian dapat diatasi seperti yang terjadi di Gontor (santri sembuh semuanya). Kemenag dan Gugus Tugas Covid-19 sedang menangani kasus ini agar cepat selesai. Pesantren dan santri lain tidak perlu panik dan tidak perlu dibesar-besarkan,” tambahnya.

Ia melanjutkan, sejak awal sudah mengikuti intruksi protokol kesehatan pemerintah (untuk mengantisipasi penularan dan penyebaran Covid-19). Pesantren juga membuat Gugus Tugas Covid-19. Pesantren juga belum semuanya mengembalikan santri. Hal ini karena dilakukan secara bertahap sesuai protokol kesehatan.

“Sebenarnya kembalinya santri ke pesantren bukan semata-mata kehendak kiai, tapi juga karena kehendak orang tua. Sementara infrastruktur pesantren kalau untuk physical distancing enggak memadai. Cuma ada untungnya di pesantren anak-anak tidak kemana-mana (ada dalam lingkungan pesantren terus),” teramngnya.

Sementara itu Ketua Umum Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI-PBNU) atau Asosiasi Pesantren Indonesia, KH. Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin) juga menanggapi kasus penyebaran Covid-19 di wilayah pesantren.

“Hal mencegah penularan wabah di pesantren menjadi domain Kementerian Kesehatan. Kemenkes bisa menyiapkan mitigasi yang terstandar dan bisa dijadikan pedoman di berbagai pesantren. Kesan saya kalau ada kasus baru ditangani secara ad hoc dan parsial,” katanya saat dihubungi Okezone, Jumat (31/8/2020).

Gus Rozin pun mengimbau, pemerintah perlu mengevaluasi dampak kebijakannya di lapangan. Salah satu sebab pesantren kembali beraktivitas secara penuh, di antaranya adalah Surat Keputusan Bersama 4 (SKB 4) Menteri versi revisi yang cukup longgar

 

Menurutnya, bagi pesantren sudah seharusnya mampu melakukan self assesment kemampuan melaksanakan protokol pencegahan covid secara konsisten.

“Jika memang mampu melaksanakan prosedur dengan disiplin ya silakan beraktifitas, itupun secara bertahap dan mesti disertai rencana mitigasi yang lengkap,” pungkasnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini