Tetapi pembiaran atau penangguhan ini sendiri sejatinya merupakan hukuman hingga mereka tidak mendapat kesempatan bertobat, bahkan makin tua makin jadi kejahatannya agar mendapat su’ul khatimah.
Kejahatan demi kejahatan yang dilakukan seseorang sejatinya merupakan hukuman tersendiri. Sebagaimana kebaikan demi kebaikan yang dilakukan seseorang merupakan ganjaran kebaikan.
Belum lagi kegalauan dan keresahan jiwa yang mereka rasakan akibat kejahatan yang mereka lakukan. Karena setiap dosa yang dilakukan pasti menimbulkan keresahan jiwa (Shahih Muslim 2553), hingga hidupnya tidak pernah tenang sekalipun bergelimang harta dan kesenangan.
Di samping itu, dunia ini diberikan Allah kepada orang saleh dan orang jahat, orang beriman dan orang kafir. Maka jangan merasa heran dan jangan tertipu oleh kekayaan, kekuasaan dan banyaknya pengikut dan pendukung mereka.
Bila batas waktunya telah tiba, Allah pasti menghukum mereka dengan hukuman yang keras dan menghinakan. Sabda Nabi SAW:
“Sesungguhnya Allah menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Dan apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya. Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat yang berbunyi: 'Begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih dan keras.' (Qs. Huud: 102). (HR Bukhari 4.318)
Setiap kezaliman dan kejahatan pasti dihukum di dunia ini sebelum di akhirat. Firman Allah: "... Barangsiapa mengerjakan kejahatan, pasti dibalas sesuai dengan kejahatan itu..." (QS. An-Nisa': 123)
Orang yang cerdas tidak pernah merasa aman dari hukuman Allah yang setiap saat bisa datang (Al-Mulk: 16, 17, Al-A’raf: 97), sehingga dia selalu beristighfar, bertobat dan segera menghentikan dosa yang dilakukannya.
Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran
(Vitrianda Hilba Siregar)