Apa Perbedaan Ibadah Haji dan Umrah, Berikut Penjelasannya

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Selasa 02 Februari 2021 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 02 330 2355062 apa-perbedaan-ibadah-haji-dan-umrah-berikut-penjelasannya-a8Eaz5m6W4.jpg Jamaah haji saat melontar jumrah sebelum wabah pandemi Covid-19. (Foto:Kemenag)

JAKARTA - Ibadah haji dan umrah pada intinya adalah ibadah yang langsung dilakukan di Tanah Suci Makkah. Namun ada perbedaan antara pelaksanaan haji dan umrah.

Ustaz Ammi Nur Baits selaku Dewan Pembina Konsultasisyariah menjelaskan tentang perbedaan antara pelaksanaan haji dan umrah. Menurutnya, dari sisi keutamaan maka haji lebih utama dibandingkan umrah.

Baik umrah ketika bulan Ramadhan sekalipun ibadah haji tetap lebih diutamakan.

Dikutip dari laman konsultasiyariah pada Selasa (2/2/2021), ada beberapa dalil yang menunjukkan hal itu, di antaranya;

1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Umrah ke umrah berikutnya adalah kaffarah dosa antara keduanya. Dan tidak ada balasan untuk haji mabrur selain surga." (HR. Bukhari 1773 & Muslim 1349).

Baca Juga: Dunia Internasional Butuh Ulama Asal Indonesia dengan Keilmuannya

2. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Siapa yang haji dan dia tidak melakukan rafats atau tindakan kefasikan, maka dia kembali dalam kondisi seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya. (HR. Ahmad 7136, Ibnu Khuzaimah 2514 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

3. Ada sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Amal apakah yang paling afdhal?”

“Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca Juga: Mengapa Muslimin Perlu Melakukan Tadabbur Al-Qur'an dan Bagaimana Caranya?

“Selanjutnya amal apa?” tanya sahabat.

“Jihad fi Sabilillah.” jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Selanjutnya amal apa?” tanya sahabat.

“Haji yang mabrur.” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(HR. Bukhari 26 & Muslim 83).

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Sementara itu dalam buku Bimbingan Manasik Haji Kementerian Agama juga menjelaskan perbedaan antara pelaksanaan haji dan umrah. Haji asal maknanya adalah "menyengaja sesuatu". Haji yang dimaksud menurut syara’ ialah "sengaja mengunjungi Kakbah untuk melakukan beberapa amal ibadah dengan syarat-syarat yang tertentu".

Haji dalam pengertian istilah para ulama adalah menuju ke Kakbah untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu atau mengunjungi suatu tempat tertentu dengan melakukan suatu pekerjaan tertentu.

Sementara, umrah berasal dari I’timar yang berarti ziarah. Yakni menziarahi Kakbah dan berthawaf disekelilingnya, kemudian bersa’i antara shafa dan marwa, serta mencukur rambut (tahallul) tanpa wukuf di Arafah.

Lantas bagaimana perbedaan pelaksanaan haji dan umrah

1. Berdasarkan Hukumnya

Haji diketahui sebagai rukun Islam ke lima yang wajib dilaksanakan bagi seluruh umat Islam yang memenuhi syarat wajib untuk melaksanakannya. Kewajiban berhaji bagi yang mampu ini didasarkan pada firman Allah SWT pada QS Ali Imran ayat 98:

“Dan bagi Allah subhanahu wata’ala, wajib bagi manusia untuk melaksanakan haji ke Baitullah.” (QS Ali Imran 98).

Bagi mereka yang mengingkari atau menghindari haji padahal mampu dan memenuhi syarat, maka ia termasuk kaum yang berdosa.

Sementara itu, hukum ibadah umrah masih menjadi perdebatan di antara para ulama. Dari ayat QS Al-Baqarah 196, umat Islam diperintahkan untuk menyempurnakan ibadah haji dan umrah untuk Allah.

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah untuk Allah,” (QS al-Baqarah: 196).

Terdapat banyak hadis yang menjelaskan tentang hukum ibadah umrah. Beberapa menyamakan hukum umrah dengan haji, tetapi ada pula yang menyebut hukum melaksanakan umrah adalah Sunnah.

2. Berdasarkan Rukunnya

Perbedaan haji dan umroh yang kedua dapat dilihat berdasarkan rukunnya. Rukun dalam ibadah menjadi penentu keabsahan ibadah yang dilakukan.

Hal tersebut juga berlaku untuk ibadah haji dan umroh. Rukun dalam ibadah haji dan umroh bersifat batal bila tidak dilakukan dan tidak bisa diganti dengan denda.

Seperti yang diketahui, terdapat lima rukun dalam haji yaitu niat ihram, wuquf di Padang Arafah, tawaf, sa’i, dan memotong rambut. Ke lima rukun ini harus dilakukan seluruhnya guna memenuhi keabsahan ibadah haji yang dilakukan.

Jika tidak bisa melaksanakan seluruh rukun haji ini dikarenakan satu dan lain hal, makan nilai ibadah hajinya akan berkurang.

Syekh Abdullah Abdurrahman Bafadhal al-Hadlrami berkata:

“Rukun-rukun haji ada lima, yaitu niat ihram, wuquf di Arafah, tawaf, sa’i dan memotong rambut. Dan rukun-rukun umrah ada empat yaitu ihram, tawaf, sa’i dan memotong rambut,” (Syeh Abdullah Abdurrahman Bafadhol al-Hadlrami, Busyra al-Karim Bi Syarhi Masa-il at-Ta’lim Ala al-Muqaddimah al-Hadlrasmiyah, Dar al-Fikr, juz 2, hal. 55).

Untuk rukun umrah, yaitu niat ihram, tawaf, sa’i, dan memotong rambut. Yang menjadi pembeda antara haji dan umroh hanyalah wuquf di Padang Arafah yang hanya dilaksanakan oleh Jemaah haji saja. Jemaah umroh tidak melakukan wuquf di Padang Arafah.

Wukuf di Padang Arafah bagi ibadah haji menjadi hal yang wajib dan pelaksanaannya hampir bertepatan dengan jatuhnya Hari Raya Idhul Adha. Pada hari ini, umat Islam yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji disunnahkan untuk berpuasa.

3. Berdasarkan Waktu Pelaksanaannya

Perbedaan haji dan umrah dapat dilihat dari jatuhnya waktu pelaksanaan keduanya. Seperti yang diketahui, pelaksanaan ibadah haji dilakukan setiap setahun sekali dan selalu memiliki jumlah jamaah yang banyakdari seluruh penjuru dunia.

Waktu pelaksanaan ibadah haji lebih sempit dan terbatas dibandingkan dengan waktu pelaksanaan ibadah umroh. Waktu pelaksanaan haji terbatas hanya pada rentang waktu awal bulan Syawal sampai Hari Raya Idhul Adha di bulan Dzulhijjah. Sementara, ibadah umrah bisa dilaksanakan kapan saja tanpa ada batasan rentang waktunya.

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani berkata:

“Dan waktu, waktu dalam haji adalah mulai dari permulaan bulan Syawal sampai fajar hari raya Idul adha (Yaumu al-nahr) dan umrah bisa dilakukan di sepanjang tahun. (Abu Abdil Mu’ti Muhammad Nawawi Bin Umar al-Jawi al-Bantani, Nihayah al-Zain, al-Haromain, hal. 201).

4. Berdasarkan Kewajibannya

Perbedaan haji dan umrah yang ke empat adalah berdasarkan kewajiban yang harus dilakukan. Pada haji dan umrah, Jamaah wajib menjalankan serangkaian ritual manasik, yang apabila ditinggalkan tidak dapat membatalkan ibadah, namun wajib diganti dengan denda.

Kewajiban ibadah haji ada lima, yaitu niat ihram dari miqat, batas area yang telah ditentukan sesuai dengan asal wilayah Jemaah, menginap di Muzdalifah, menginap di Mina, tawaf wada’ atau perpisahan, dan melempar jumrah.

Syekh Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari berkata:

“Kewajiban-kewajiban haji yaitu ihram dari miqat, menginap di Muzdalifah dan Mina, tawaf wada’ dan melempar batu,” (Syekh Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari, Qurrah al-Aini, al-Haramain, hal. 210).

Sedangkan kewajiban umrah hanya dua, yaitu niat dari miqat dan menjauhi larangan-larangan ihram. Jumlah kewajiban yang lebih sedikit ini membuat pelaksanaan ibadah umroh menjadi lebih cepat usai dibanding haji.

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani berkata:

“Sedangkan kewajiban-kewajiban umrah ada dua yaitu ihram dari miqat dan menjauhi larangan-larangan ihram” (Syekh Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi Bin Umar al-Jawi al-Bantaniy, Tausyikh ‘Ala Ibni Qosim, al-Haramain, hal. 239). (vitri)

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya