Tidak Ada Kewajiban Memberi Tahu Menyalurkan Zakat, Amalan Tetap Sah

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Sabtu 08 Mei 2021 05:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 08 330 2407496 tidak-ada-kewajiban-memberi-tahu-menyalurkan-zakat-amalan-tetap-sah-BgJYD0KWQR.jpg Zakat Fitrah. (Foto:Freepik)

JAKARTA  - Soal Zakat Fitrah tidak ada kewajiban memberitahukan kepada fakir/miskin atau mustahiq lainnya bahwa apa yang diberikan kepadanya adalah zakat fitrah. Dan jika itu dilakukan, apa yang dikeluarkan sebagai zakat tetap sah.

An-Nawawiy rahimahullah berkata: 

إذا دفع المالك أو غيره الزكاة إلى المستحق ولم يقل هي زكاة، ولا تكلم بشيء أصلا أجزأه، ووقع زكاة، هذا هو المذهب الصحيح المشهور الذي قطع به الجمهور، وقد صرح بالمسألة إمام الحرمين في باب تعجيل الزكاة وآخرون

"Apabila penguasa atau yang lainya memberikan zakat kepada mustahiq tanpa mengatakan itu harta zakat dan tanpa mengucapkan apapun, maka sah dan terhitung (telah menunaikan) zakat. Pendapat ini merupakan madzhab shahih lagi masyhur yang dipegang oleh jumhur. Pendapat tersebut ditegaskan oleh Imam Al-Haramain (Al-Juwainiy) dalam bab menyegerakan zakat dan ulama lainnya" [Al-Majmuu', 6/233].

Ustaz Donny Arief Wibowo Hafizhahullah menjelaskan, bahkan Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy rahimahulllah menegaskan tidak perlunya mengatakan kepada mustahiq bahwa harta yang diberikan statusnya zakat: 

وَإِذَا دَفَعَ الزَّكَاةَ إلَى مَنْ يَظُنُّهُ فَقِيرًا ، لَمْ يَحْتَجْ إلَى إعْلَامِهِ أَنَّهَا زَكَاةٌ .

قَالَ الْحَسَنُ أَتُرِيدُ أَنْ تُقْرِعَهُ ، لَا تُخْبِرْهُ ؟ وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ : قُلْت لِأَحْمَدَ : يَدْفَعُ الرَّجُلُ الزَّكَاةَ إلَى الرَّجُلِ ، فَيَقُولُ : هَذَا مِنْ الزَّكَاةِ .

أَوْ يَسْكُتُ ؟ قَالَ : وَلِمَ يُبَكِّتْهُ بِهَذَا الْقَوْلِ ؟ يُعْطِيه وَيَسْكُتُ ، وَمَا حَاجَتُهُ إلَى أَنْ يُقْرِعَهُ ؟

"Apabila seseorang menunaikan zakat kepada orang yang ia duga berstatus faqir, maka ia tidak perlu memberitahukannya bahwa itu adalah zakat. Al-Hasan berkata : 'Apakah engkau ingin mencelanya? Jangan memberitahukan kepadanya'. Ahmad bin Al-Husain berkata : Aku pernah bertanya kepada Ahmad (bin Hanbal) : 'Seseorang memberikan zakat kepada orang lain, lalu berkata 'Ini bagian dari zakat', atau sebaiknya ia diam saja?'. Ahmad menjawab : 'Mengapa harus membuatnya menangis dengan perkataanmu itu?. Berikan lalu diamlah. Tidak perlu engkau engkau mencelanya (dengan perkataanmu itu)" [Al-Mughniy, 5/207].

Baca Juga: Jangan Usir Anak Kecil dari Masjid Meski Terkadang Berisik

Sebagaimana disitir Ibnu Qudamah rahimahullah di atas, sebagian mustahiq yang menjaga kehormatan dirinya merasa tidak nyaman diberikan harta yang statusnya zakat. Karena, zakat adalah kotoran sebagaimana sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam: 

إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتِ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ، وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ

“Sesungguhnya zakat-zakat ini hanyalah kotoran manusia. Ia tidak halal bagi Muhammad dan juga bagi keluarga Muhammad” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1072, Ahmad 4/166, Abu Daawud no. 2985, dan yang lainnya].

Maksud kotoran manusia (ausakhun-naas) adalah zakat merupakan pembersih harta manusia dan penebus dosa-dosa mereka.

Sebagian ulama lain - misalnya Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-'Utsaimiin rahimahullah - berpendapat jika diketahui  si mustahiq tidak mau menerima zakat harta, maka si pemberi wajib memberitahukan status harta pemberiannya karena tidak boleh memasukkan harta kepada seseorang yang dirinya tidak ridla untuk memilikinya.

Wallaahu a'lam. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(Vitri)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya