Dari Langgar di Surabaya yang Sudah Usang Masih Terlihat Jelas Jejak Sejarah NU

Lukman Hakim, Jurnalis · Selasa 25 Mei 2021 15:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 25 614 2415271 dari-langgar-di-surabaya-yang-sudah-usang-masih-terlihat-jelas-jejak-sejarah-nu-X1txY3DKAu.jpg Salah satu sudut langgar Gipo di Komplek Ampel, Jalan Kalimas Udik, Surabaya, (Foto: SINDOnews)

SURABAYA - Jejak sejarah Nahdlatul Ulama (NU) masih dapat dilihat dari sebuah bangunan kuno  dua lantai di kompleks Ampel, tepatnya di Jalan Kalimas Udik, Surabaya. Di sejumlah bagian terlihat usang, namun kini mulai dirawat. Ya, itulah Langgar Gipo (musala), bangunan yang berdiri ratusan tahun.

Di langgar itu berkaitan dengan jejak KH Hasan Gipo, ulama yang juga ketua Tanfidziyah NU. Dari tempat itu pula muncul nama besar lainnya seperti KH Mas Mansyur. Konon Langgar Gipo sering dijadikan sebagai tempat pertemuan para tokoh nasional seperti HOS Tjokroaminoto dan Ir Soekarno bersama tokoh NU.

Di tempat sederhana itu menjadi tonggak sejarah pergerakan ulama Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan di situ erat terkait dengan jejak sejarah Ketua Umum Pengurus Besar NU, KH. Hasan Dipo.

Baca Juga: Kerinduan Alvin Kepada Ayahanda, Foto Awak KRI Nanggala 402 Serda Dwi Nugroho Yogianto Tak Mau Digantung

 

Sampai saat ini belum ada yang memastikan sejak kapan Langgar Gipo dibangun oleh keluarga Sagipoddin. Ada yang menyebut tahun 1700-an. Ada juga sumber yang menjelaskan, langgar tersebut dibangun tahun 1834. Sejauh ini belum ditemukan prasasti yang angka tahun berdirinya langgar tersebut.

“Musala ini dulu menjadi tempat pergerakan para ulama,” kata Muhammad Choiri, keturunan keenam dari keluarga pendiri Langgar Gipo, Hasan Gipo, saat ditemui di Langgar Gipo.

Langgar Gipo menyimpan arsitektur cukup tinggi. Itu bisa dilihat dari bentuk jendela dan pintu. Di beberapa kayu ada tulisannya. Dari informasi tersebut, Langgar Gipo tercatat dibangun pada 1830. Ada pula catatan di kayu lainnya yang memuat angka 1629. Jika merujuk angka terakhir, berarti usianya lebih dari 300 tahun.

Di bagian belakang langgar, terdapat bunker sebagai tempat persembunyian bagi para pejuang. Diameternya berkisar sekitar 1,5 meter x 1 meter. Bangunan berlantai dua ini, di bagian atas biasa digunakan sebagai tempat pertemuan dan diskusi.

Baca Juga: Kamis Lusa Matahari Tepat di Atas Kakbah Saatnya Luruskan Arah Kiblat

Di sudut langgar juga terdapat gentong air yang sudah berusia ratusan tahun. “Langgar Gipo menjadi tempat berdiskusi para ulama saat pendirian Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathon dan Nahdlatut Tujjar,” kata Choiri.

Sejarah NU di langgar itu berkaitan dengan jejak KH Hasan Gipo. Ulama tersebut merupakan ketua Tanfidziyah NU. Dari tempat itu pula muncul nama besar lainnya seperti KH Mas Mansyur. Konon Langgar Gipo sering dijadikan sebagai tempat pertemuan para tokoh nasional seperti HOS Tjokroaminoto dan Ir Soekarno bersama tokoh NU.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Tidak hanya itu keberadaan anggar ini juga sebagai asrama haji pertama di Surabaya pada tahun 1834 M. Jamaah haji pertama dari Surabaya diberangkatkan dan singgah (tempat transit) dari Langgar Gipo lewat jalur sungai Kalimas.“

Melihat jejak sejarah yang cukup tinggi nilainya, kami merasa prihatin jika keberadaan Langgar Gipo dilupakan dan terabaikan oleh sejarah bangsa ini,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, dari Fraksi PKB, Laila Mufidah.

Langgar Gipo memiliki banyak keunikan. Selain bentuk bangunannya yang klasik, ada bunker di dekat tempat wudhu. Sejumlah sejarawan telah menelitinya. Konon, ada terowongan besar di dalam bunker yang terhubung sampai Kalimas.

Keunikan lain, langgar ini juga memiliki tangga-tangga bangunan. Kondisi tangga kayu masih utuh. Bahkan, tak ada sedikitpun yang keropos. Tangga-tangga itu dirancang rapi dan artistik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya