Hal yang Membatalkan Wudhu, Salah Satunya Makan Daging Unta

Hantoro, Jurnalis · Selasa 03 Agustus 2021 10:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 03 330 2450018 hal-yang-membatalkan-wudhu-salah-satunya-makan-daging-unta-4YyPE64dNa.jpg Ilustrasi hal yang membatalkan wudhu. (Foto: Freepik)

HAL yang membatalkan wudhu harus diketahui setiap Muslim. Tujuannya agar ibadah sholat yang dijalani lebih sempurna dan diterima oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.

Dikutip dari laman Muslim.or.id, Selasa (3/8/2021), Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal ST MSc menjelaskan hal-hal yang membatalkan wudhu berdasarkan penjelasan dalam kitab suci Alquran dan As Sunnah. Apa saja? Simak selengkapnya berikut ini.

Baca juga: Doa Setelah Wudhu Amalan Ringan Dapat Menambah Pundi Pahala 

1. Kencing, buang air besar, dan kentut

Dalil bahwa kencing dan buang air besar merupakan pembatal wudhu dapat dilihat pada firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

Artinya: “Atau kembali dari tempat buang air (kakus)." (QS Al Maidah Ayat 6)

Hal yang dimaksud dengan al ghoith dalam ayat ini secara bahasa bermakna tanah yang rendah yang luas. (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 2/244, Asy Syamilah)

Al ghoith juga adalah kata kiasan (majaz) untuk tempat buang air (kakus) dan lebih sering digunakan untuk makna majaz ini. (Lihat Al Mugni, Ibnu Qudamah, Al Maqdisi, 1/195, Darul Fikri, Beirut)

Para ulama sepakat bahwa wudhu menjadi batal jika keluar kencing dan buang air besar dari jalan depan atau pun belakang. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 1/127, Al Maktabah At Taufiqiyah)

Sedangkan dalil bahwa kentut (baik dengan bersuara atau pun tidak) membatalkan wudhu adalah hadis dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ » . قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Artinya: "Sholat seseorang yang berhadats tidak akan diterima sampai ia berwudhu." Lalu ada orang dari Hadhromaut mengatakan, "Apa yang dimaksud hadas wahai Abu Hurairah?" Abu Hurairah pun menjawab,

فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

"Di antaranya adalah kentut tanpa suara atau kentut dengan suara." (HR Bukhari Nomor 135)

Para ulama pun sepakat bahwa kentut termasuk pembatal wudhu. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/128)

Baca juga: Tata Cara Sholat Sunah Wudhu Beserta Niat dan Keistimewaannya 

2. Keluarnya mani, wadi, dan madzi

Apa yang dimaksud mani, wadi dan madzi?

Wadi adalah sesuatu yang keluar sesudah kencing pada umumnya, berwarna putih, tebal mirip mani, namun berbeda kekeruhannya dengan mani. Wadi tidak memiliki bau yang khas.

Sedangkan madzi adalah cairan berwarna putih, tipis, lengket, keluar ketika bercumbu rayu atau ketika membayangkan jimak (bersetubuh) atau ketika berkeinginan untuk jimak. Madzi tidak menyebabkan lemas dan terkadang keluar tanpa terasa yaitu keluar ketika muqoddimah syahwat. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa memiliki madzi. (Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 5/383, pertanyaan kedua dari fatwa no.4262, Mawqi’ Al Ifta’)

Madzi dan wadi najis. Sedangkan mani –menurut pendapat yang lebih kuat– termasuk zat yang suci. Cara menyucikan pakaian yang terkena madzi dan wadi adalah dengan diperciki air. Sedangkan mani cukup dengan dikerik.

Jika keluar mani, maka seseorang diwajibkan mandi besar. Mani bisa membatalkan wudhu berdasarkan kesepakatan para ulama dan segala sesuatu yang menyebabkan mandi termasuk pembatal wudhu. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/128)

Madzi bisa membatalkan wudhu berdasarkan hadits tentang cerita ‘Ali bin Abi Tholib. ‘Ali mengatakan:

كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِى أَنْ أَسْأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ « يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ ».

Artinya: "Aku termasuk orang yang sering keluar madzi. Namun aku malu menanyakan hal ini kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dikarenakan kedudukan anaknya (Fatimah) di sisiku. Lalu aku pun memerintahkan kepada Al Miqdad bin Al Aswad untuk bertanya pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam. Lantas beliau memberikan jawaban kepada Al Miqdad, 'Cucilah kemaluannya kemudian suruh ia berwudhu'." (HR Bukhari Nomor 269 dan Muslim Nomor 303)

Sedangkan wadi semisal dengan madzi sehingga perlakuannya sama dengan madzi. Ibnu ‘Abbas mengatakan:

الْمَنِىُّ وَالْمَذْىُ وَالْوَدْىُ ، أَمَّا الْمَنِىُّ فَهُوَ الَّذِى مِنْهُ الْغُسْلُ ، وَأَمَّا الْوَدْىُ وَالْمَذْىُ فَقَالَ : اغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ.

Artinya: "Mengenai mani, madzi, dan wadi; adapun mani maka diharuskan untuk mandi. Sedangkan wadi dan madzi, Ibnu ‘Abbas mengatakan, 'Cucilah kemaluanmu, lantas berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk sholat'." (HR Al Baihaqi Nomor 771. Syaikh Abu Malik –penulis Shahih Fiqh Sunnah– mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

3. Tidur Lelap (dalam keadaan tidak sadar)

Tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur lelap yang tidak lagi dalam keadaan sadar. Maksudnya, ia tidak lagi mendengar suara, atau tidak merasakan lagi sesuatu jatuh dari tangannya, atau tidak merasakan air liur yang menetes.

Tidur seperti inilah yang membatalkan wudhu, baik tidurnya dalam keadaan berdiri, berbaring, rukuk atau sujud. Sebab, tidur semacam ini yang dianggap mazhonnatu lil hadats, yaitu kemungkinan muncul hadas.

Sedangkan tidur yang hanya sesaat yang dalam keadaan kantuk, masih sadar dan masih merasakan merasakan apa-apa, maka tidur semacam ini tidak membatalkan wudhu. Inilah pendapat yang bisa menggabungkan dalil-dalil yang ada.

Di antara dalil hal ini adalah hadis dari Anas bin Malik:

أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَالنَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُنَاجِى رَجُلاً فَلَمْ يَزَلْ يُنَاجِيهِ حَتَّى نَامَ أَصْحَابُهُ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى بِهِمْ.

Artinya: "Ketika sholat hendak ditegakkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam berbisik-bisik dengan seseorang. Beliau terus berbisik-bisik dengannya hingga para sahabat tertidur. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam pun datang dan sholat bersama mereka." (HR Muslim Nomor 376)

Qotadah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Anas berkata:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنَامُونَ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلاَ يَتَوَضَّئُونَ قَالَ قُلْتُ سَمِعْتَهُ مِنْ أَنَسٍ قَالَ إِى وَاللَّهِ.

Artinya: "Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pernah ketiduran kemudian mereka pun melakukan sholat tanpa berwudhu lagi." Ada yang mengatakan, "Benarkah engkau mendengar hal ini dari Anas?" Qotadah, "Iya betul. Demi Allah." (HR Muslim Nomor 376)

Baca juga: Berwudhu Tanpa Ucapkan Bismillah, Bagaimana Hukumnya? 

4. Hilangnya akal karena mabuk, pingsan, dan gila.

Berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama, hilang kesadaran dalam kondisi semacam ini tentu lebih parah dari tidur. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/133)

5. Memakan daging unta

Dalilnya adalah hadis dari Jabir bin Samuroh:

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ « إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلاَ تَوَضَّأْ ». قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ قَالَ « نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ ».

Artinya: "Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, 'Apakah aku mesti berwudhu setelah memakan daging kambing?' Beliau bersabda, 'Jika engkau mau, berwudhulah. Namun jika enggan, maka tidak mengapa engkau tidak berwudhu.' Orang tadi bertanya lagi, 'Apakah seseorang mesti berwudhu setelah memakan daging unta?' Beliau bersabda, 'Iya, engkau harus berwudhu setelah memakan daging unta'." (HR Muslim Nomor 360)

Wallahu a'lam bishawab.

Baca juga: Mengapa Rasulullah Mengajurkan Berwudhu Sebelum Tidur, Ini Alasannya 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya